Kades di Malang Kuasai Tanah Waris Rp 48 Miliar, Terancam Dipolisikan

  • 26-01-2020 / 17:47 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Kades di Malang Kuasai Tanah Waris Rp 48 Miliar, Terancam Dipolisikan LAWAN: Abdul Rajak (tiga dari kanan) bersama kuasa hukumnya LBH Prodeo Ismaya siap mengambil kembali hak tanah warisan di Desa Bunut Wetan, Pakis.

Malangpostonline.com - Buchori, Kepala Desa (Kades) Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang terancam dipolisikan. Ia diduga menguasai tanah seluas 1,6 hektar di Desa Bunut Wetan, Pakis. Atau dekat dengan exit tol Pakis. Kades keenam Bunut Wetan itu, dianggap mengalihkan status tanah pribadi senilai Rp 48 miliar menjadi tanah bengkok desa.  

Informasi yang didapat, berawal dari penemuan kertas Letter C tanah sekitar 1,6 hektar yang dibuat tahun 1958 atas nama Saidin alias Towongso, mantan Kades pertama Bunut Wetan. Penemunya adalah Abdul Rajak, 84, salah satu cucu Saidin. “Saya lalu memberitahukan kepada saudara lain tentang Letter C ini. Termasuk kepada Buchori. Dia sendiri sebenarnya masih ahli waris juga,” ungkapnya.

Menurut dia, saat ini ada total sekitar 34 ahli waris yang masih memiliki hak atas tanah tersebut. Semuanya rata-rata tinggal di Dusun Krajan, Desa Bunut Wetan, Pakis. “Rencananya, surat tanah itu kami urus termasuk dijual untuk dibagikan kepada semua ahli waris,” tambah dia. Namun, katanya, Buchori tidak menyelesaikan apa yang diminta pihak ahli waris.

Malah, kabar yang diterimanya, Buchori mengatakan bila tanah tersebut sudah menjadi tanah ganjaran petinggi sesuai dengan buku C desa. “Terang saja, keterangan yang diberikan Buchori ini membuat kami sebagai ahli waris sangat kaget. Sebab di buku krawangan desa, tanah itu masih atas nama Saidin. Bukan aset Desa Bunut Wetan. Saya tahu sendiri,” paparnya lagi.

Tim LBH Prodeo Ismaya Indonesia, kuasa hukum ahli waris tanah tersebut menegaskan bila sudah mengirimkan dua kali somasi kepada Buchori untuk menyelesaikan perkara itu dengan kliennya. “Nyatanya, somasi pertama dan kedua yang kami layangkan, tidak ada tanggapan positif dari Buchori,” terang Ketua Dewan Pembina Kantor LBH Prodeo Ismaya Indonesia, Yayan Riyanto, SH, MH.

“Kami segera melaporkan Buchori ke polisi dengan tuduhan penyerobotan tanah sesuai Pasal 385 ayat 1 KUHP dengan ancaman hukuman penjara paling lama empat tahun. Termasuk melakukan gugatan perdata di pengadilan dan melakukan permohonan sita jaminan atas aset yang dimiliki Buchori untuk menjamin kepentingan klien kami,” tegasnya bersama anggota tim.

Menurut advokat senior ini, Buchori memang memberikan balasan somasi secara tertulis yang isinya bahwa objek tanah yang dimaksud dalam buku krawangan desa masuk dalam blok ganjaran desa, dalam buku C desa juga tertulis ganjaran petinggi, dan objek tanah itu adalah aset Desa Bunut Wetan. Alasan lain, nama Towongso adalah nama jabatan kepala desa pada jamannya.

“Yang menarik, dalam butir keempat balasan somasi itu, Buchori menyebutkan ia sebagai kepala desa juga merupakan salah satu ahli waris dari almarhum Saidin. Nah, ini kan berbanding terbalik dengan keterangan bahwa tanah itu masuk dalam blok ganjaran desa ataupun sebagai ganjaran petinggi ataupun aset Desa Bunut Wetan,” urai Yayan, sapaan akrabnya panjang lebar.

Ditambahkan Ketua LBH Prodeo Ismaya Indonesia, Bales P. Suharsono, SH, pihaknya juga sudah mengirimkan surat kepada Bupati Malang, H.M Sanusi untuk memfasilitasi mediasi perkara ini karena menyangkut masalah tanah warisan yang dialihkan menjadi tanah aset desa. “Ada yang menarik dari keterangan Buchori ketika kami temui di rumahnya, 18 November 2019 lalu,” ungkap dia.

Yakni Buchori menerangkan dan menjelaskan bila Letter C dengan No. 74 (objek sengketa) Kelas S II atas nama Saidin alias Towongso sesuai dengan buku krawangan Desa Bunut Wetan. “Sebaliknya ia mengakui, Letter C dengan nomor persil 74 Kelas S II atas nama bengkok desa, justru tidak ditemukan di dalam buku krawangan Desa Bunut Wetan. Kami rekam semua keterangan dia,” lanjutnya.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah, Buchori mengaku bila dalam buku C desa,  tanah yang dimasalahkan itu sudah tertulis sebagai ganjaran petinggi. “Somasi sudah saya balas. Menurut saya, tanah itu sudah menjadi aset Desa Bunut Wetan. Setahu saya, dalam buku krawangan desa, semua nama perorangan. Baru dalam buku C ada peralian,” terangnya. (mar)

Editor : mar
Uploader : slatem
Penulis : marga
Fotografer : marga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU