Sulit Makan Tapi Rafa Pesan Masak Ikan Klotok Sebelum Hilang

  • 16-02-2020 / 20:01 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Sulit Makan Tapi Rafa Pesan Masak Ikan Klotok Sebelum Hilang PRIHATIN: Poniem (kanan), nenek M. Rafa Alfarizi prihatin karena cucunya belum ditemukan.

Malangpostonline.com - Pencarian terhadap tubuh M. Rafa Alfarizi, bocah 3,5 tahun yang diperkirakan hanyut di Sungai Bodo, Dusun Ngepeh, Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang resmi dihentikan, Minggu (16/2) siang. Kesedihan masih terpancar dari raut wajah Poniem, neneknya yang tinggal di Griya Permata Alam Blok LE No 10 RT06 RW12, Desa Ngijo.

Rumah Poniem, letaknya persis di depan pemakaman Islam perumahan tersebut. Jalan di depannya bebatuan. Bukan aspal mulus. Di dinding pembatas dengan pemakaman itu, terletak saluran irigasi. Disitulah, Senin (10/2) sore atau tepatnya menjelang Maghrib, hanya payung yang digunakan Rafa, panggilan balita itu untuk berlindung dari hujan ditemukan.

Sedangkan penyuka video jaranan itu lenyap. Nanik, sebutan lain Poniem yang kala itu usai mandi kebingungan. "Saya lalu nangis dan teriak minta tolong ke tetangga setelah melihat payung itu di dekat saluran irigasi. Saya curiga Rafa hanyut terbawa air karena hujannya sangat deras. Tidak seperti biasa hujannya," tutur wanita ini di teras rumahnya yang juga dijadikan warung kecil.

Sambil berteriak minta tolong, ia juga lari menuju Sungai Bodo yang berjarak 100 meter untuk mencari Rafa. "Memang sebelum hilang, ia pamit hendak ke rumah Misaji, pamannya yang tinggal tak jauh dari rumah saya," lanjutnya. Yang baru disadarinya adalah permintaan untuk memasak ikan klotok, beberapa jam sebelum hilang. "Tidak biasanya minta dimasakkan ikan klotok. Padahal dia paling sulit makan," kata wanita berusia 48 tahun itu.

Poniem sendiri, sempat merasa bersalah karena hilangnya Rafa. Sebab, selama 1,5 tahun, dialah yang merawat bocah tersebut. "Sejak orang tuanya berpisah, saya yang merawat. Dia juga tidak pernah jauh-jauh kalau keluar rumah. Kalau pipis saja di halaman," ungkapnya. Selain Poniem, Septian alias Bayan, ayah kandung Rafa dianggap paling dekat dengan cucunya itu. Setiap malam, Rafa tidur di rumah keluarga Septian di Ngijo. Baru pagi hari, ia dititipkan ke Poniem hingga sore.

"Makanya saat Rafa hilang, Septian bingung setengah mati. Seperti mau loncat ke sungai untuk mencari. Untung banyak warga yang memegang tangan serta tubuhnya. Kalau nggak, malah jadi dua korbannya," tambah tetangga Poniem. Sedangkan Oktaviana sendiri diketahui tidak pernah datang untuk menjenguk anak kandungnya itu. Ia memilih tinggal di Batu sejak berpisah. Saat diberitahu Rafa hilang, Oktaviana pun hanya beberapa jam di rumah Poniem, lalu pulang kembali ke Batu. (mar)

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

 

 

Editor : mar
Uploader : slatem
Penulis : marga
Fotografer : marga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU