Digoyang Pemakzulan di AS, Trump di Davos: Saya Sibuk

  • 23-01-2020 / 13:59 WIB
  • Kategori:Internasional
Digoyang Pemakzulan di AS, Trump di Davos: Saya Sibuk Presiden AS Donald Trump (AP Photo/Paul Sancya)

Malangpostonline.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menghadiri World Economic Forum/WEF 2020 di Davos, Swiss. Dalam kesempatan itu, Trump menjadi pembicara dalam salah satu sesi pada Rabu (22/1/2020). Dalam kesempatan itu, dia banyak menggembar-gemborkan pencapaian dalam memajukan ekonomi Negeri Paman Sam sejak menjabat pada 2016.

Ia juga sempat melakukan sesi wawancara khusus dengan CNBC International setelah menjadi pembicara. Trump lantas dijejali banyak pertanyaan mulai dari seputar hubungan AS dengan China, rencana dirinya mencalonkan diri pada pemilu 2020, dan tentang pemakzulan (impeachment) terhadapnya yang diusung Demokrat.

Melansir CNBC Indonesia, saat ditanya apakah ia mengikuti perkembangan seputar sidang pemakzulan yang sedang digelar Senat di AS, Trump menjawab "Iya". Namun, Trump juga mengatakan terlalu sibuk untuk mengikuti keseluruhan berita mengenai 'tuduhan palsu' itu.

"Iya. Saya menontonnya. Saya menonton sebagian malam tadi. (Tapi) saya sibuk kemarin seperti yang Anda tahu. Anda ada di sana dan kami berpidato dan kami menggelar banyak pertemuan dengan para pemimpin yang berbeda, termasuk Pakistan dan negara-negara lainnya, juga pengusaha di semua tempat. Tetapi saya memang menontonnya. Itu tipuan. Ini sepenuhnya tipuan," kata Trump.

Trump juga menyebut Demokrat tidak memiliki bukti yang bisa membuatnya dimakzulkan atau dilengserkan dari jabatannya.

Lebih lanjut, taipan properti itu juga mengatakan Ukraina, yang dianggap Demokrat AS telah ditekan Trump untuk menyelidiki saingan politiknya, tidak merasa ditekan. Ia bahkan mengklaim tidak melakukan kesalahan. Sebab, Trump tidak menahan dana bantuan yang akan diberikan untuk Ukraina seperti yang dituduhkan Demokrat.

"Mereka (Ukraina) terus-menerus mengatakan tidak ada tekanan. Mereka bahkan tidak tahu apa yang kita lakukan. Mereka pikir (impeachment) itu gila," katanya.

Sekadar kilas balik, Trump dimakzulkan Kongres AS pada 18 Desember lalu. Itu setelah Trump kedapatan memerintahkan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk menyelidiki saingan politiknya, Joe Biden dan putranya, Hunter Biden, via sebuah panggilan telepon pada 25 Juli lalu.

Hal tersebut diumumkan langsung oleh Ketua Kongres AS Nancy Pelosi setelah parlemen mengadakan pemungutan suara terhadap dua pasal pemakzulan Trump. Hasil pemungutan suara menunjukkan mayoritas setuju pemakzulan.

Keputusan itu membuat Trump menjadi presiden AS ketiga yang dimakzulkan setelah Andrew Johnson dan Bill Clinton. Sebelumnya, dalam kasus penyelidikan impeachment ini, Trump didakwa atas dua pasal, yakni penyalahgunaan kekuasaan dan upaya menghalang-halangi kongres.

Saat ini, artikel pemakzulan terhadap presiden kontroversial itu ada di tangan Senat AS. Kongres AS baru menyerahkan artikel-artikel pemakzulan itu pada pertengahan bulan ini setelah menunda penyerahan selama sekitar dua minggu. Senat akan memutuskan apakah Trump akan dimakzulkan atau tidak. (miq/miq/cnbc/bua)

Editor : bua
Uploader : rois
Penulis : CNBC
Fotografer : CNBC

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU