Banjir Bandang Terjang Pati, Akses Jalan Tayu-Dukuhseti Terganggu

  • 18-01-2019 / 14:21 WIB
  • Kategori:Nasional
Banjir Bandang Terjang Pati, Akses Jalan Tayu-Dukuhseti Terganggu Foto: Istimewa

TAYU – Bajir bandang yang terjadi Rabu (16/1) sore menyebabkan tertutupnya akses jalan Tayu-Dukuhseti. Bahkan hingga kemarin puluhan rumah di Desa Dororejo, Tayu masih terendam air. Ketinggian air di jalan desa itu hingga 40 sentimeter sedangkan rumah yang terendam air ketinggiannya sekitar 20-30 sentimeter. Meskipun masih terendam air, warga memilih tak mengungsi.

Berdasarkan pantauan kemarin, ketinggian air di rumah warga bervariasi tergantung dengan ketinggian bangunan. Bangunan yang tidak tinggi air yang masuk hingga 30 sentimeter. Sedangkan rumah yang bangunannya tinggi ada yang terendam air hingga 20 sentimeter dan ada rumah yang tidak kemasukan air.

Beberapa warga yang rumahnya terendam air berusaha membersihkan sisa-sisa lumpur yang masuk ke dalam rumah. Bahkan semalam warga was-was dan tidak beristirahat karena kawatir banjir susulan akan datang lebih tinggi lagi. Sebab, daerah itu merupakan langganan banjir. Setiap tahunnya, warga selalu merasakan dampak banjir dari meluapnya sungai setempat.

Salah satu warga Desa Dororejo Suharni, 60, mengaku desanya itu sudah menjadi langganan banjir setiap tahun. Meskipun hujan sedang, namun jika ada kiriman air dari Pegunungan Muria dan sungai tak mampu menampung air. Maka banjir dipastikan menghantui warga. Terlebih banjir itu biasanya surut dalam waktu empat hari sampai benar-benar jalan sudah tidak terendam air.

“Saat ini kami belum bisa beraktivitas secara total. Karena air masih masuk ke rumah. Bahkan tadi malam saya mengungsi tidur di rumah anak yang jaraknya satu kilometer dari rumah saya. Meskipun sudah tidak tinggi, tapi saya harus membersihkan lantai dan memindahkan barang-barang ke tempat yang lebih atas supaya tidak terkena air,” katanya kepada Jawa Pos Radar Kudus.

Sementara ituWagiman, 45, juga warga setempat, mengatakan selain masih ada rumah yang terendam air, lahan sawah dan tambak milik warga kini masih terendam. Para petani merugi karena tanaman di sawah dan ikan di tambak diterjang banjir bandang. Bencana itu merupakan agenda tahunan yang tak bisa dihindari warga.

“Banjir itu kiriman dari pegunungan muria dan yang terkena dampaknya warga yang berada di hilir. Kami berharap pemerintah bisa menangani penebangan liar di wilayah hulu. Jika tidak, maka banjir ini akan terus menghantui warga,” katanya. (ks/put/him/top/JPR/JPC/MPOL)

Editor : irawan
Uploader : irawan
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU