Pesan Terakhir Ucok untuk Mama Sebelum Hilang saat Rusuh 1998

  • 11-12-2019 / 12:27 WIB
  • Kategori:Nasional
Pesan Terakhir Ucok untuk Mama Sebelum Hilang saat Rusuh 1998

Malangpostonline.com - 12 Mei 1998 jadi hari terakhir Paian Siahaan dan istrinya mendengar suara putra mereka Ucok Siahaan. Hari itu pula jadi momentum Tragedi Trisakti; penembakan terhadap sejumlah mahasiswa.

Ucok merupakan salah satu mahasiswa dari 13 aktivis yang dinyatakan sebagai korban penculikan 1997/1998 dan masih hilang sampai sekarang.

Ketika itu, Ucok, yang turut berjuang menyuarakan aspirasi masyarakat menolak rezim Orde Baru, menyempatkan waktu menelpon ke rumah untuk memperingatkan kedua orang tuanya agar tak keluar rumah.

"Mama jangan keluar-keluar rumah. Jakarta hari ini lagi rusuh. Yang penting stok makanan sudah disiapkan di rumah. Di luar bahaya," tutur Ucok saat itu melalui sambungan telepon, seperti dikisahkan Paian, Selasa (10/12).

Melihat situasi Jakarta yang kala itu sedang memanas, ada perasaan takut dalam hati Paian akan keselamatan puteranya. Terlebih karena jarak dari rumahnya di Depok dengan kampus cukup jauh, Ucok memilih menginap di indekos sehari-harinya.

Namun, ia tak bisa membendung rasa kepedulian Ucok terhadap nasib Indonesia yang saat itu ia anggap penuh ketidakadilan. Paian bercerita anaknya memang punya rasa kepedulian yang tinggi terhadap keluarga maupun orang-orang di sekitarnya.

"[Ucok] anaknya memang keras. Kalau ada salah menurut dia, dia pasti langsung maju. Tapi walaupun keras dia juga perhatian dengan orang tuanya," ujarnya dengan logat Batak yang sesekali masih kental terdengar.

Di sisi lain, Paian juga menyebut Ucok sebagai pribadi yang punya empati tinggi. Ia ingat betul rasa bahagia dan haru tiap kali Ucok memberikan kado-kado spesial untuk ulang tahunnya. Misalnya, dasi, karena Ucok tahu ayahnya sering pakai dasi untuk bekerja

Selang beberapa hari setelah Tragedi Trisakti yang menewaskan empat orang mahasiswa, Paian dan istrinya menerima telepon yang jadi mimpi buruk untuk keduanya.

Kawan kuliah Ucok menelpon ke rumah. Ia ingin berbicara dengan Ucok yang ia pikir sudah pulang ke rumah dari kemarin.

"Ucok belum pulang. Masih dikosan," jawab Paian kepada kawan Ucok.

"Lho, dia sudah pulang kok dari kemarin. Dijemput jam 8 malam kemarin," kata temannya heran.

Dari situ rentetan kejanggalan yang terjadi beberapa hari ke belakang berbarengan menghantui Paian.

Dibuntuti

Sebelumnya, Paian mengaku sudah beberapa kali mendapati pertanda-pertanda bahwa ada yang meneror Ucok.

"Awalnya saya enggak curiga, tapi ternyata banyak hal-hal yang menunjukan bahwa dia memang dicari waktu itu," kata dia.

Ia bercerita kala dirinya dibuntuti oleh orang tak dikenal dalam perjalanan dari kantor ke rumah. Saat itu ia tengah mengendarai mobil yang kerap dipakai Ucok.

"Saya tahu diikuti dari Tanjung Barat, kalau saya pelan dia pelan. Kalau saya kencang dia kencang. Waktu itu saya yang bawa, tapi mobil sering dipakai dia (Ucok). Persis diikuti sampai depan rumah," ceritanya.

Karena heran dan penasaran, sesampai di depan rumah Paian memberanikan diri mendekati mobil yang membuntutinya. Namun, mobil tersebut langsung melaju.

Kejanggalan lainnya juga terjadi beberapa hari sebelum kerusuhan, ketika Ucok pulang ke rumah. Karena sudah lama tidak pulang ke rumah, Paian menyuruh Ucok bermalam di rumah hari itu. Ucok pun setuju.

Namun seseorang tak dikenal tiba-tiba mencari Ucok lewat sambungan telepon. Setelah berbicara dengan orang di balik telepon itu, Ucok langsung buru-buru kembali ke kosnya dan tak jadi bermalam. Itu jadi hari terakhir Paian bertatap muka dengan puteranya.

Sampai saat itu ia tak kepikiran bahwa rentetan kejanggalan itu berbuah raibnya Ucok hingga kini, 21 tahun kemudian. Harusnya, kata dia, sekarang Ucok sudah berusia 43 tahun.

"Padahal dia sudah janji tanggal 17 Mei itu kan dia ulang tahun. Dia bilang bakal pulang ke rumah sama teman-temannya, mau rayakan ulang tahun," ujar Paian.

Komitmen HAM

Setelah menerima telepon dari kawan kuliah Ucok itu, Paian dan istrinya kalang-kabut mencari keberadaan puteranya. Aparat kepolisian jadi lembaga pertama yang mereka datangi setelah tak juga menemukan batang hidung Ucok.

Mengaku tak dapat hasil dan upaya yang memuaskan dari polisi, Paian akhirnya mengadukan kasus anaknya ke aktivis HAM Munir Said.

"Saya lapor ke Munir. Munir bilang kasus seperti itu umum terjadi. Tidak menculik langsung, tapi sudah dibuntuti," tuturnya.

Hingga kini, tepat tanggal 10 Desember 2019 pada Hari HAM Internasional, Paian belum juga mendapat pencerahan akan keberadaan maupun kondisi Ucok.

Ia mengaku ikhlas dengan kepergian puteranya selama pihak berwenang tetap mengupayakan pencariannya. "Tapi kalau kepastian keberadaannya itu, itu yang harus kita perjuangkan. Mencari 13 orang yang hilang itu. Apapun hasilnya kita sudah legowo," ujar Paian.

Sejarawan senior dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Asvi Warman Adam, mengatakan istilah 'culik-menculik' memang tidak asing pada era kepemimpinan Presiden RI kedua Soeharto.

Hal itu diindikasikan dengan pidato Soeharto pada peringatan ulang tahun Komando Pasukan Khusus dan Rapat Pimpinan ABRI di Pekanbaru.

"[Dalam pidatonya, Soeharto mengatakan] jadi kalau ada sekian ratus MPR, yang 50 persen lainnya setuju dan 50 persen menolak, maka culiklah satu orang yang menolak itu. Sehingga upaya itu tidak berhasil. Soeharto mengatakan istilah culik itu, jadi sepertinya menculik sesuatu yang sudah tidak aneh," tuturnya, pada acara peringatan Hari HAM Internasional di Cilandak, Jakarta Selatan

Ditemui pada kesempatan berbeda, Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) mengatakan era pemerintahan Presiden RI Joko Widodo juga belum bisa diharapkan terkait penyelesaikan kasus pelanggaran HAM masa lalu.

"Presiden Joko Widodo belum pernah mengeluarkan pernyataan terkait peristiwa pelanggaran HAM berat di masa lalu dan upaya penyelesaiannya. Hal ini mencerminkan Jokowi tidak memahami peristiwa dan jalan penuntasannya," tutur Divisi Pemantauan Impunitas KontraS Dimas Bagus Arya di Kantor Kontras, Senen, Jakarta Pusat.

Dia mengatakan perlu sinergi antara Komnas HAM dan Kejaksaan Agung dalam penuntasan kasus tersebut. Namun, keduanya malah saling lempar balik berkas penyelidikan kasus pelanggaran HAM masa lalu.

Seperti diketahui ada sembilan berkas kasus pelanggaran HAM yang dikembalikan Kejaksaan Agung ke Komnas HAM, setelah sebelumnya sempat dilimpahkan.

Salah satu diantaranya terkait Peristiwa Trisakti yang menjadi akar menghilangnya putera Paian, Ucok. Kini, dalam momentum peringatan Hari HAM Internasional 2019, 21 tahun setelah peristiwa itu, kasus-kasus itu pun masih gelap. (gil/cnn/Malangpostonline.com)

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : CNN
Fotografer : CNN

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU