Psikolog soal 'Teror' Pria Onani: Kalau Takut, Pelaku Malah Senang

  • 27-01-2020 / 09:28 WIB
  • Kategori:Nasional
Psikolog soal 'Teror' Pria Onani: Kalau Takut, Pelaku Malah Senang

Malangpostonline.com-Kasus memamerkan alat kelamin hingga onani di tempat umum marak terjadi. Apa yang harus dilakukan bila melihat pornoaksi itu?

Guru Besar Psikologi sekaligus Ketua Dewan Guru Besar UGM, Prof Koentjoro mengatakan hal ini merupakan sebuah kelainan seksual atau eksibisionisme.

"Itu sebuah kelainan namanya eksibisionisme, jadi kepuasanya karena biasanya ada dorongan hasrat seksual yang tinggi tapi tidak disertai dengan kepercayaan diri," kata Koentjoro, saat dihubungi, Senin (27/1/2020).

Koentjoro mengatakan awalnya pelaku hanya menunjukan alat kelaminnya. Namun, tak jarang berujung pada onani. Menurutnya, kelainan ini dapat terjadi pada siapapun dan tidak memandang kelas sosial.

"Awalnya dia hanya sekadar menunjukan begitu tapi dari situ dia tidak mendapat kepuasan dengan orang takut malah dia senang. Malah dari situ dia melakukan onani," ujar Koentjoro.

"Itu tidak hanya orang miskin, orang bermobil, orang kaya, orang berpendidikan pun banyak seperti itu," sambungnya.

Dia menuturkan, biasanya pelaku melancarkan aksinya di tempat ramai, seperti saat waktu pulang sekolah. Koentjoro menyebut pelaku eksibisionisme perlu ditangkap untuk diberikan edukasi.

"Ditangkap, dan diberi edukasi karena seperti itu dia akan terus menerus mencari kesempatan, karena itu memang kelainan. dia melihat situasi misalnya pas anak-anak pulang sekolah, seperti itu dia lakukan. Makanya biasanya mereka mangkal di tempat tertentu yang biasanya anak itu dilihat, ketika anak perempuan pulang sekolah jalan, maka ditunjukan penisnya sambil dia melakukan mansturbasi, itu sudah satu kepuasan buat mereka," tuturnya, dilansir dari detik.com.

Koentjoro menilai orang dengan kelainan seperti ini dapat disembuhkan. Namun, menurutnya, hal ini membutuhkan waktu dan kembali pada niat dan kesungguhan pelaku.

"Bisa sembuh, tapi butuh waktu. karena kepuasannya ada di situ, harus bagaimana dia bisa mengalihkan kepada yang sesungguhnya. Jadi balik lagi ke orangnya, salah satu cara obat yang mujarab adalah niat yang benar selama belum ada niat nggak mungkin," kata Koentjoro, dilansir dari Detik.com.

 (dwia/aan/dtk/bua)

 

Editor : bua
Uploader : MG
Penulis : DTK
Fotografer : DTK

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU