Pasien Corona di Jatim Disebut Didominasi Laki-laki

  • 10-04-2020 / 10:57 WIB
  • Kategori:Nasional
Pasien Corona di Jatim Disebut Didominasi Laki-laki Pasien corona. (Foto: ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko)

Malangpostonline.com - Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jawa Timur menemukan fakta pasien virus corona (SARS-CoV-2) didominasi kaum pria.

Ketua Rumpun Tracing Gugus Tugas Jawa Timur, dr Kohar Hari Santoso mengatakan hal itu dilihat dari total 223 pasien positif Rabu (9/4), sebanyak 64 persen di antaranya berjenis kelamin laki-laki, dan 36 persennya perempuan.

"Ini adalah angkanya ya, jadi yang banyak pada laki-laki (terkena Covid-19). Laki-laki lebih mudah keserang. Jadi 64 persen laki-laki," ujar Kohar, di Gedung Negara Grahadi, Kamis (9/4) malam.

Kohar juga menduga laki-laki bermobilitas tinggi dan kurang menerapkan physical distancing menjadi alasan lebih berisiko terinfeksi corona.

"Mungkin karena (laki-laki) lebih banyak keluyuran. Jadi lebih berisiko," ucapnya.

Kohar merinci, kasus terbanyak pada kelompok laki-laki, yakni pada usia 30-39 tahun dengan persentase sebesar 39 persen, kemudian pada usia 40-49 tahun sebanyak 33 persen, usia 50-59 tahun setara 16 persen, lalu usia 20-29 tahun 13 persen, dan usia 60-69 tahun sebanyak 12 persen.

Dari data tersebut, Kohar mengatakan distribusi umur pasien yang paling rentan terinfeksi adalah usia pada angka-angka produktif.

"Jadi orang-orang yang rentan yang berisiko ini ada presentasenya. Kemudian yang paling banyak memang pada usia produktif," ujarnya.

Sementara itu, kelompok usia pasien yang paling banyak meninggal dunia ada di angka 50 tahun ke atas. Kendati demikian ada satu kasus yang dikabarkan menginfeksi dan mengakibatkan seorang balita meninggal dunia.

"Yang umur 80 terkena juga ada dan meninggal. Tapi yang berisiko meninggal usia tua, sempat juga ada yang umur bayi," kata dia.

Di Jawa Timur, per Kamis (9/4), tercatat ada 223 pasien positif corona, 57 di antaranya sembuh, 17 meninggal. 1.260 pasien dalam pengawasan (PDP), dan 13.006 orang dalam pemantauan (ODP).

Pemkot Surabaya Pasok Makanan untuk ODP dan PDP Corona

Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya secara rutin memberikan pasokan makanan terhadap orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) virus corona (Covid-19), yang tengah melakukan isolasi mandiri di rumah masing-masing.

Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Surabaya, Eddy Christijanto, mengatakan pemberian pasokan makanan itu dinamakan program 'Permakanan'.

"Permakanan tersebut, rutin diberikan sebanyak sehari tiga kali dalam sehari," kata Eddy, Kamis (9/4).

Pemberian konsumsi tersebut sudah tertuang dalam Peraturan Wali Kota (Perwali) Nomor 14 tahun 2020 tentang Perubahan Atas Peraturan Walikota Surabaya Nomor 60 tahun 2019 Tentang Pedoman Pelaksanaan Pemberian Permakanan di Kota Surabaya.

Eddy mengatakan makanan yang diberikan pun adalah menu yang sehat dan bergizi, seperti halnya program permakanan yang telah dilakukan Pemkot Surabaya sejak lama.

Namun kini yang membedakan adalah menu bagi ODP dan PDP tersebut ditambah pula dengan minuman tradisional pokak dan telur rebus.

"Standarnya Rp23 ribu per boks. Kita tambah telur dan pokak jadi satu di dalamnya," paparnya katanya, dikutip dari CNN Indonesia.

Tidak hanya itu, Pemkot Surabaya juga memberikan kebutuhan sehari-hari seperti pasta gigi, sikat, sisir rambut, sabun mandi dan beberapa kebutuhan lainnya kepada ODP dan PDP.

Meski demikian, pendistribusian makanan tersebut dilakukan secara tertutup dan rahasia. Eddy mengatakan hal itu sesuai dengan aturan etika kesehatan.

"Tidak boleh semua orang tahu. Makanya itu Puskesmas membagikan permakanan, telur, pokak secara tertutup. Supaya tidak banyak orang tahu karena itu etika kesehatannya," kata Eddy.

Konsumsi ini diberikan agar warga Surabaya yang statusnya sebagai ODP maupun PDP ini dapat menjaga imunitas tubuhnya dan dapat mengisolasi diri secara mandiri di rumahnya masing-masing.

"Kebutuhannya harus kita cukupi. Kita mungkin tidak bisa mengontrol mereka, tapi kita akan terus imbau supaya tidak keluar rumah," kata dia.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana (BPB) Linmas Kota Surabaya ini menegaskan warga diimbau untuk disiplin dan mentaati aturan masa inkubasi selama 14 hari. Terutama warga ODP dan PDP.

"Seperti yang disampaikan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini upaya ini membutuhkan kebersamaan pemerintah dengan masyarakat. Artinya semua harus ikut bergerak," kata dia.

Eddy mengatakan, pasokan makanan tersebut akan disesuaikan dengan jumlah update tambahan ODP dam PDP di Kota Surabaya, setiap harinya. Hal itu dilakukan sampai masa inkubasi berakhir.

"Kita mengikuti jumlah ter-update setiap harinya. Jadi dipastikan semua ODP dan PDP memperoleh permakanan," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Bagian Administrasi Pemerintahan dan Otonomi Daerah Pemkot Surabaya Kanti Budiarti menambahkan yang mendapatkan permakanan itu satu keluarga.

"Misalnya, dalam satu rumah terdiri dari lima orang, maka kelima-limanya juga mendapat bantuan yang sama," katanya.

 

Proses produksi permakanan itu juga diserahkan kepada UMKM di masing-masing kecataman atau kelurahan, hal itu sekaligus bisa pemberdayaan masyarakat.

"Jadi masaknya di masing-masing kecamatan atau kelurahan dengan selalu menjaga protokol jarak aman," pungkasnya.

Sementara itu menurut data pada Kamis (9/4) di situs resmi Pemkot Surabaya, https://lawancovid-19.surabaya.go.id/, jumlah kasus positif corona mencapai 93 orang, 448 PDP, dan 1.167 ODPA. (frd/mik/cnn/bua)

 

 

 

PENTING! Baca Ini:

https://m.malangpostonline.com/bisnis/lowongan-kerja

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-baris

https://m.malangpostonline.com/bisnis/iklan-properti

Editor : bua
Uploader : rois
Penulis : CNN
Fotografer : CNN

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU