Perang Berebut Swing Voters!

  • 25-06-2018 / 22:57 WIB
  • Kategori:Pilkada
Perang Berebut Swing Voters! SINERGI: Petugas dari Polres Malang Kota dibantu personel Kodim 0833 Kota Malang  bersinergi mengecek keamanan kotak suara Pilkada serentak di Kelurahan Sawojajar, Kota Malang (25/6/18). Pilkada digelar Rabu (27/6/18) besok.(foto: ipunk Purwanto/MP,   grafis: Irawan, Tem/MP)

MALANG-Para Calon Wali Kota dan Wawali peserta Pilkada Kota Malang harus berperang merebut hari para pemilih “Swing Voters”.  Ini merupakan jenis pemilih yang belum dapat diketahui bakal melabuhkan pilihan kepada siapa pada Rabu 27 Juni besok. Sesuai hasil survei, jumlah swing voters ini masih 30 persen, jauh di atas jumlah pemilih loyalis yang mencapai 26 persen. (Lihat grafis, Red)

Ketiga Paslon tidak serta merta dapat merebut hati Swing Voters karena jenis pemilih ini tidak dapat diprediksi. Maka dari itu, peserta Pilkada Kota Malang hanya akan bergantung pada kelompok pemilih loyalis.

Ketiga Paslon Pilwali Kota Malang hanya dapat bergantung pada pemilih Loyalis. Pemilih yang mengenal dan memiliki ikatan tersendiri pada Paslon.

Sementara persentase pemilih loyalis sangat sedikit dibandingkan Swing Voters.

Hal ini disampaikan Pengamat Politik Universitas Brawijaya (UB) Malang Wawan Sobari PhD kepada Malang Post kemarin. Menurut survei yang dilakukan Prodi Politik UB Malang belum lama ini, pemilih yang tergolong loyalis hanya tercatat sebanyak 26 persen.

“Sisanya adalah mereka yang tidak terekam akan memilih siapa. Ini termasuk juga Swing Voters tadi,” ungkap Wawan.

Ia menjelaskan Swing Voters tidak hanya ditunjuk bagi pemilih yang belum menentukan kepada siapa suaranya akan berlabuh. Akan tetapi juga pemilih yang berpindah loyalitas dalam memilih. Praktisnya mereka yang berpindah pilihan dikarenakan suatu hal.

Menurut lulusan Flinders University ini jumlah Swing Voters diprediksi akan bertambah lebih banyak dikarenakan kejadian luar biasa. Yakni penetapan tersangka korupsi terhadap dua calon kepada daerah yakni Moch Anton dan Ya’qud Ananda Gudban.

“Ya penetapan tersangka korupsi bisa jadi mempengaruhi Swing Voters. Bisa berpindah. Karena Swing Voters cenderung memiliki sikap idealis. Jadi kasus seperti korupsi akan sensitif bagi mereka,” ungkap Wawan.

Saat ditanya mengenai isu pribadi soal pernikahan yang menyangkut satu Cakada yang tersisa, yakni Sutiaji. Wawan menganggap hal ini tidak akan terlalu berpengaruh. Pasalnya pernikahan Sutiaji tidak menunjukkan bahwa dirinya melakukan sesuatu yang negatif.

Karena, menurut Wawan, isu tersebut baru saja muncul dan datar dalam perkembangannya. Isu poligami yang sempat merebak, nyatanya tidak terbukti karena Sutiaji sudah berpisah dengan istri terdahulunya. Meski begitu hal ini juga tidak serta merta menjadi keuntungan bagi Sutiaji untuk membuat Swing Voters memilih dirinya. Pasalnya kelompok tersebut sulit ditebak.

“Survei kami menunjukkan jika swing voters ini saat disurvei hendak memilih siapa mereka jawab “tidak tahu” atau tidak menjawab. Ini pola pemilih yang lumrah. Mereka tidak mau terbuka akan hal ini di survei daerah-daerah lain pun begitu,” papar Wawan.

Swing Voters sendiri juga termasuk di dalamnya adalah pemilih pemula. Pemilih pemula pun memiliki kecenderungan belum menentukan pilihan. Benar mereka akan memilih akan tetapi untuk arah kepada Paslon mana juga sulit ditebak.

Hal ini dikatakan Wawan dikarenakan pola pemilih pemula akan cenderung mengikuti pilihan orang tua mereka. Akan tetapi hal ini juga tidak dapat dikatakan pasti, karena pemilih pemula saat ini memiliki keuntungan tersendiri yakni melek teknologi dan aktif bermedia sosial.

“Maka dari itu Paslon mana yang sangat aktif di medsos bisa jadi merebut hati pemilih pemula juga. Akan tetapi tetap saja, sulit kita untuk dapat menentukan arah mereka akan memilih Paslon seperti apa,” tukas dosen ilmu plolitik ini.

Wawan sempat melontarkan jika pemilih pemula bisa jadi menjadi warga apatis. Karena menurut pantauannya pada pemilihan-pemilihan sebelumnya, pemilih pemula cenderung tidak antusias. Hal ini dapat menambah potensi Golongan Putih (Golput).

Meski begitu, pengamat politik yang juga lulusan Universitas Padjajaran ini mengatakan Golput pun sulit dideteksi jumlahnya tahun ini.

“Seperti pada survei pilkada sebelumnya, survei menyatakan jika 80 persen warga akan memilih. Tapi pada akhirnya tingkat partisipasi warga dalam memilih tahun lalu hanya 70 persen. Ini yang saya katakan sebelumnya, warga belum mau terbuka mereka memilih atau tidak,” pungkas Wawan.

Sementara itu, KPU Kota Malang memberikan data jika jumlah pemilih sesuai Daftar Pemilih Tetap (DPT)  600.646 orang. Dengan pemilih laki-laki 294.171 orang dan perempuan 306.475 orang. Ketua KPU Kota Malang menjelaskan dari total DPT yang ada, sebanyak 30 persen pemilh tergolong pemilih pemula.

“Ada sebanyak 30 persen pemilih pemula. Kita sudah giatkan sosialisasi dengan cara yang menarik agar pemilih pemula antusias menyambut pilkada dan menggunakan hak suaranya,” ungkap Zaenuddin belum lama ini.

Sementara menambahkan soal fenomena pemilih Koordinator Rumah Keadilan – PP Otoda UB, Ladito R Bagaskoro sebagai lembaga pemantau pemilu menjelaskan pemilih pemula akan yang jumlahnya tidak sedikit bisa menjadi keuntungan.

“Prediksi kita untuk golput saat pencoblosan sedikit banyaknya akan menutupi kemungkinan pemilih Golput. Karena pola pemilih pemula yang masih ingin tahu dengan ingin suaranya didengar bisa menutupi itu” pungkas Dito.(ica/ary)

Editor : Ary
Uploader : slatem
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU