Ketokohan Nanda dan Anton Paling Kuat, Elektabilitas Sutiaji Tertinggi

  • 27-06-2018 / 00:54 WIB
  • Kategori:Pilkada
Ketokohan Nanda dan Anton Paling Kuat, Elektabilitas Sutiaji Tertinggi grafis: tim malang post

Setiap Pasangan Calon (Paslon) Pemilihan Wali Kota  (Pilwali) Malang memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Ketiga Paslon yakni Ya’qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi (Nomor Urut 1), Pasangan Moch Anton-Syamsul Mahmud (Nomor Urut 2) dan Pasangan dan Sutiaji-Sofyan Edi (Nomor Urut 3) unggul pada tiga faktor penting kekuatan Paslon. (Baca grafis, Red)

Tiga faktor kekuatan tersebut pertama adalah popularitas, kedua elektabilitas dan ketiga mesin politik. Pengamat politik Kota Malang Wawan Sobari PhD menyampaikan, ketiga Paslon memiliki kekuatan yang sama jika dilihat dari tiga faktor tersebut.

Menurut survei yang ia lakukan bersama Prodi FISIP Universitas Brawijaya (UB) Malang, Paslon Nomor Urut 1 (Nanda-Wanedi) unggul pada faktor kekuatan mesin politik. Lalu Paslon Nomor Urut 2 (Anton-Syamsul) unggul pada faktor popularitas. Sementara Paslon Nomor Urut 3 (Sutiaji-Edi) unggul di faktor elektabilitas.

“Sisi kekuatan terhadap pengenalan terhadap calon atau popularitas. Mayoritas yang disurvei mengenal seluruh wali kotanya. Akan tetapi Abah Anton lah yang paling dikenal karena persentasenya paling tinggi, yakni 63 persen. Peringkat kedua Nanda, ketiga Sutiaji,” jelas Wawan kepada Malang Post kemarin.

Hal ini diketahui ketika masyarakat ditanya secara spontan lebih mengenal siapa dari ketiga calon wali kota yang ada. Sementara itu dari sisi faktor lain, yakni elektabilitas. Menurut dosen FISIP UB Malang ini, Paslon Nomor Urut 3, Sutiaji-Edi lah yang unggul. Hal ini diketahui dari persentase yang muncul usai survei.

“Sisi elektabilitas Sutiaji dapat 28,3 persen. Abah 26,6 persen dan Nanda memperoleh 8,8 persen. Sisanya tidak menjawab, atau menjawab tidak tahu. Inilah yang nantinya akan jadi swing voters itu,” papar Wawan.

Mengenai unggulnya Sutiaji di sisi elektabilitas, Wawan menjelaskan hal ini tidak dapat dipungkiri terjadi akibat kejadian yang terjadi di Kota Malang. Menyangkut tersangkutnya dua calon kepala daerah (Cakada) selain Sutiaji dalam kasus korupsi.

Peristiwa itu banyak memengaruhi keterpilihan Sutiaji yang dianggap tidak terkait kasus hukum apapun sampai saat ini. Pasalnya, saat masyarakat ditanya apakah mengetahui soal status tersangka yang menyeret dua Cakada, sebanyak 84,7 persen menjawab tahu. Dan ketika ditanya apakah hal tersebut memengaruhi pilihan politik mereka, sebanyak 64,6 persen mengatakan “iya”.

Sementara itu faktor kekuatan lain yang juga berpengaruh adalah kekuatan mesin politik. Pakar Politik lulusan Findlers University ini menyampaikan, Paslon Nomor Urut 2 Nanda-Wanedi unggul karena jumlah partai pengusung dan pendukung yang ada di belakang mereka.

“Seperti bisa dilihat sendiri Nanda-Wanedi memiliki partai pendukung dan pengusung lebih banyak daripada dua calon lainnya. Ini bisa jadi faktor yang berpengaruh untuk kemenangan,” tandas Wawan.

Sementara itu terdapat juga faktor kekuatan lain yang tercatat. Yakni kekuatan di segi wilayah. Menurut Wawan berdasarkan hasil survei bersama prodi FISIP UB, Paslon Anton-Syamsul unggul di Kecamatan Lowokwaru. Paslon Sutiaji-Edi unggul di Kecamatan Blimbing. Sementara Paslon Nanda-Wanedi dikatakannya tidak menonjol di kecamatan manapun.

 

Pakar politik Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) DR. Drs. Wahyudi Winarjo M.Si menjelaskan ketokohan dan mesin partai menjadi salah satu faktor pendukung kemenangan peserta Pilwali Kota Malang hari ini.

Meski begitu, hal ini kemudian diakui menjadi lebih sulit untuk diprediksi karena kasus yang menjerat sejumlah tokoh politik. Yang seharusnya dapat mendongkrak kemenangan Paslon.  “Kalau mau lihat dari sisi itu. Hanya akan ada dua Paslon yang terlihat menonjol dan bisa berperang. Yakni Paslon nomor 1 dan 2,” ungkap Wahyudi kepada Malang Post kemarin malam.

Dia menjelaskan, Paslon Nomor Urut 1 yakni Ya’qud Ananda Gudban-Ahmad Wanedi masih memiliki kekuatan ketokohan. Menurutnya, Nanda sebagai salah satu calon kepala daerah perempuan satu-satunya dapat unggul.

Sebelum terkena kasus, Nanda juga sudah banyak dikenal. Karena dia satu-satunya perempuan dan punya karir politik yang baik. Hanya saja belakangan terjerat kasus dan sedang berproses hukum. Meski begitu sosok wakilnya bisa menutupi, tambah Wahyudi.

“Wanedi ini orang lama di PDI Perjuangan. Hanya saja pernah vakum tapi kemudian muncul lagi. Saya pikir Wanedi dengan gerbong PDI Perjuangannya bisa mendongkrak dukungan dari kader-kader PDI Perjuangan di Kota Malang yang tidak sedikit,” papar pria yang juga Wakil Direktur II Program Pascasarjana UMM ini.

Loyalis Anton Masih Banyak

Sementara itu Paslon Nomor Urut 2 Anton-Syamsul pun juga memiliki peluang besar mengandalkan ketokohan dan mesin politiknya. Menurut Wahyudi, Anton merupakan salah satu tokoh PKB yang berpengaruh di Kota Malang.

Tentu saja, lanjut Wahyudi, karena Anton memberikan kenangan tersendiri bagi Kota Malang karena seorang incumbent. Sementara, menurut survei pribadi yang dilakukannya pun masih banyak warga yang loyal terhadap Anton meskipun saat ini sedang terjerat kasus hukum.

“Ketokohan Abah Anton masih kuat menurut saya. Karena pola warga kita juga seperti itu, loyalitas mereka kuat dengan orang yang dahulu pernah memimpin,” tandasnya.

Untuk Paslon Nomor Urut 3, Sutiaji-Edi, Wahyudi mengungkapkan Paslon inilah yang paling tidak diuntungkan di sisi kekuatan politik. Pasalnya Sutiaji sendiri bukanlah tokoh dari dua partai yang mendukung yakni Demokrat dan Golkar.

Sementara Sofyan Edi Jarwoko, meskipun Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang, ia sudah pernah mencalonkan diri di Pilkada sebelumnya akan tetapi tidak berhasil, maka ketokohan dari Sofyan Edi belum bisa diandalkan. (ica/ary/han)

Editor : Dewi Yuhana
Uploader : slatem
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU