Sutiaji Menangi Pertempuran Sebagai Walikota, Ini Analisanya...

  • 28-06-2018 / 01:14 WIB
  • Kategori:Pilkada
Sutiaji Menangi Pertempuran Sebagai Walikota, Ini Analisanya... ilustrasi: Istimewa, diolah: angga, tem/mp

MALANG- Seperti analisa Malang Post, Pilkada Kota Malang Rabu (27/6) kemarin, menjadi pertempuran dua sekutu lama Sutiaji versus Moch Anton. 

Perolehan suara mereka berdua, jauh meninggalkan Ya’qud Ananda Gudban-Wanedi. Berdasarkan quick count, Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko menang perang! Moch. Anton-Syamsul Mahmud tumbang. (Baca grafis, Red)

Ya, pasangan calon nomor urut 3 Sutiaji-Sofyan Edi unggul dalam beberapa portal quick count Pemilihan Wali (Pilwali) Kota Malang. Menurut pantauan Malang Post, quick count DPC PDI Perjuangan Kota Malang juga memenangkan Sutiaji-Sofyan Edi. Di sini, Paslon SAE meraih hasil 43,41 persen dari hasil penghitungan cepat versi PDI P.

Sementara Paslon Nomor Urut 2 Moch Anton-Syamsul Mahmud meraih 36,88 persen dari suara yang terkumpul. Sedangkan Paslon Nomor Urut 1 Ya’qud Ananda Gudban- Ahmad Wanedi hanya meraih 19,71 persen.

Sementara quick count Posko Paslon Sutiaji-Edi juga mengklaim mereka unggul dari dua Paslon lainnya di angka 47 persen. Pantauan Malang Post usai pencoblosan usai, di TPS wilayah Kelurahan Jatimulyo. Tepatnya TPS 1, 2, 3 dan 4 Sutiaji unggul dengan meraih total suara 460 suara. Menang hanya 10 suara lebih dengan perolehan yang didapat Paslon Anton-Syamsul yakni 450 suara. Sedangkan Paslon Nanda-Wanedi total hanya meraih suara 241 di 4 TPS tersebut.

Sementara itu di beberapa TPS lain seperti TPS 39 Kelurahan Bandungrejosari, Paslon SAE unggul dengan perolehan suara 185. Sementara Paslon Anton-Syamsul meraih 38 suara dan Nanda-Wanedi 25 suara. Di TPS 03 Kelurahan Kedungkandang, Paslon Sutiaji-Edi unggul dengan mendapatkan sebanyak 163 suara. Di mana Paslon Anton hanya 89 suara dan Nanda 41 suara. Di TPS 12 Kelurahan Purwantoro Blimbing pun demikian. Sutiaji memperoleh 136 suara, Anton 96 suara sedangkan Nanda 41 suara.

Data-data tersebut sudah mulai bermunculan sekitar pukul 15.00 WIB hingga magrib kemarin. Merasa sudah unggul dalam beberapa materi quick count, Sutiaji dengan wajah sumringah keluar dari kediamnnya untuk kemudian mengumpulkan timses dan didampingi istri merilis pernyataan kemenangan.

“Alhamdulillah, ini tinggal tunggu resminya saja kemenangan kami,” ungkap Sutiaji dalam Press Conference di Posko SAE di kediamannya, tadi malam.

Ia mengungkapkan, timnya sudah memakai tiga metode penghitungan cepat. Yakni Real Count, Quick Count sampai manual. Hasilnya sampai sore kemarin, lanjut Sutiaji, dia unggul dengan selisih antara 10 persen sampai 15 persen dari Paslon nomor 2.

Menurutnya, kemenangan yang ia raih ini bukanlah kemenangan dirinya dan Sofyan Edi saja. Melainkan kemenangan warga Kota Malang. Maka dari itu ia melihat kemenangan ini adalah sebuah tantangan besar baginya mengemban amanah warga Kota Malang dalam memimpin.

“Ini kemenangan bersama, maka dari itu bagi pendukung Paslon lain, mari kita gabung dan rekonsiliasi setelah ini. Karena sudah tidak ada lagi batasan persaingan. Mari gabung untuk kerja bersama membangun Kota Malang,” papar Sutiaji.

Dia mengatakan hal ini karena membangun Kota Malang tidaklah hanya dapat dilakukan dirinya dan Sofyan Edi saja. Akan tetapi, buah pikiran seluruh komponen masyarakat adalah yang utama. Dalam suasana kemenangannya ini, Sutiaji lalu melakukan deklarasi secara besar di Taman Slamet. Deklarasi kemenangan tersebut menghadirkan seluruh tim sukses, anggota partai pendukung, keluarga dan seluruh relawan SAE untuk berkumpul dan bersyukur atas kemenangan.

“Yang jelas kami akan deklarasi. Ini juga menjadi tanda bahwa kami siap mengemban tugas memimpin Kota Malang lima tahun ke depan,” pungkasnya.

 

Kemenangan Sutiaji Efek Besar Kasus Korupsi

Kemenangan Paslon Nomor Urut 3 Sutiaji-Sofyan Edi ternyata menjadi kabar mengejutkan bagi beberapa pengamat politik di Kota Malang. Dua pakar politik Kota Malang mengatakan, kemenangan Sutiaji-Edi merupakan efek besar dari runtuhnya kepercayaan masyarakat akan kasus korupsi yang melanda pejabat-pejabat Kota Malang.

Pakar politik dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Dr. Wahyudi M.Si menjelaskan, kasus hukum yang menjerat dua calon kepala daerah membawa pengaruh tidak hanya kepada masyarakat akan tetapi juga pada pelaku politik yang ada.

“Rakyat Malang memang sedang mengalami kebingungan, kebimbangan dan ada anomali politik,” ungkap Wahyudi.

Dosen FISIP UMM ini menjelaskan, hal ini tidak lepas dari terjadinya kasus dugaan korupsi yang menjerat elit politik di Kota Malang. Terlebih terjadi di tahun politik. Maka efek lain dari hal ini adalah meningkatnya jumlah swing voters.

Faktor hukum yang menjerat Calon Wali Kota Malang Nomor Urut 1 Ya’qud Ananda Gudban dan Nomor Urut 2 H Moch Anton menyebabkan potensi swing voters muncul lebih banyak. “Kasus hukum tersebut membentuk terjadinya swing voters dari pendukung 1 dan 2. Ditambah tidak efektifnya mesin partai dari pendukung 1 dan 2,” papar Wahyudi.

Ia menegaskan, suara yang memenangkan Sutiaji-Edi berasal dari kalangan swing voters. Sebagai pengamat politik pun, Wahyudi mengungkapkan fakta Sutiaji-Edi memenangkan pesta demokrasi Kota Malang tahun ini cukup mengejutkan. Pasalnya banyak dugaan yang menyatakan, Paslon Nomor Urut 2 yaitu incumbent masih memiliki kekuatan yang masif untuk menang.

Ia pun mengutarakan, situasi kasus hukum yang terjadi di Kota Malang memberikan keuntungan besar bagi Sutiaji-Edi. Wahyudi mengungkapkan seandainya tidak ada kasus korupsi yang datang menghampiri, akan berbeda cerita. “Jika tidak ada kasus korupsi. Tentu saja Abah (Moch Anton,red) melenggang. Ya itulah nasib. Hanya Tuhan yang tahu. Tapi konon kabarnya, kasus korupsi di Malang isunya akan ada babak lanjutan. Rakyat masih dibuat cemas dengan masa depan kepemimpinan Kota Malang,” tandasnya.

Pandangan ini juga diperkuat dengan analisa pakar politik Universitas Negeri Malang, Dr. Nuruddin Hadi. Kepada Malang Post ia menjelaskan, faktor utama kemenangan Sutiaji karena Paslon lain terjerat dugaan kasus korupsi yang membawa KPK ke Kota Malang. Dari hasil survei yang ia lakukan pun, terpotret pula adanya perubahan pilihan dari incumbent ke Paslon Nomor 3.

“Hasil survei saya juga seperti itu, banyak pemilih yang awalnya ke incumbent berpindah ke Paslon No 3. Hasil survei saya juga menunjukkan, sebagian besar masyarakat kita melek informasi. Terutama media cetak,” tegasnya.

Hal itulah yang membuat banyak masyarakat berpindah pilihan ke Paslon Nomor 3. Meski begitu, Nuruddin pun berpendapat sama dengan Wahyudi, dia sebelumnya hanya memprediksi Sutiaji menang dengan beda tipis berhadapan dengan Paslon No 2 Moch Anton-Syamsul Mahmud. Pasalnya sebagian publik juga memiliki anggapan Moch Anton tidaklah bersalah seperti yang dituduhkan KPK.

“Tapi survei saya menyatakan aspek kepribadian Paslon juga sangat penting. Faktor kejujuran dipilih sebanyak 54 persen oleh masyarakat sebagai salah satu kepribadian yang diharapkan warga pada pemimpinnya,” tandas Nuruddin.

Tadi malam, pasangan SAE mendeklarasikan kemenangannya  di Pos Pemenangan  di Taman Slamet. Deklarasi tersebut berdasarkan tiga perhitungan yang dilakukan secara internal.

Panglima Relawan, Muhammad Nur Wahyudi memaparkan tiga perhitungan tersebut. Di antaranya menggunakan perhitungan data manual atau C1.

Wali Kota Malang terpilih, Sutiaji menjelaskan, berdasar data yang diterima, dari 57 kelurahan pihaknya unggul di 55 kelurahan. “Artinya pemahaman di masyarakat sudah merata,” ungkapnya.

Menurut data laporan dari C1, lanjut dia, partisipasi masyarakat telah mencapai 70 persen. “Yang awalnya diperkiran banyak golput ternyata justru partisipasi masyarakat bisa mencapai target minimal,” kata Sutiaji.

Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko mengatakan rilis tersebut merupakan indikator yang semuanya mengarah pada kemenangan SAE. Menurut dia, kemenangan ini sebuah hasilyang diraih bersama.

 

Bisikan Doa Kiai Marzuki

 

Doa yang diucap KH Marzuki Mustamar dengan cara khusus jadi kekuatan Sutiaji. Kendati hal itu dianggap biasa, namun menjadi energi tersendiri. Selain itu juga menunjukkan kedekatan antara wali kota terpilih tersebut dengan mantan Ketua PCNU Kota Malang ini.

Hal itu tampak dalam video yang diunggah di akun  Instagram Sutiaji. Kepada Malang Post, KH Marzuki Mustamar menceritakan tentang  doa dan rekaman video itu. ”Dia baru pulang pelantikan (Plt Wali Kota Malang, 23 Juni)  kemudian datang ke sini (kediaman). Baru datang, sungkem dulu, kemudian saya doakan,’’ katanya.

Marzuki menjelaskan, doa yang dipanjatkan untuk Sutiaji guna memohon keselamatan, memohon bimbingan dan perlindungan. ”Doa keselamatan ini harapannya, selama memimpin beliau terhindar dari hal-hal yang tidak baik. Sedangkan memohon bimbingan, agar selama memimpin Kota Malang, Pak Sutiaji selalu berjalan sesuai perintah Allah SWT, tidak belok ke kanan ataupun ke kiri, terlebih dia harus terhindarkan dari masalah hukum,’’ ungkapnya. Sedangkan doa perlindungan, Kiai Marzuki berharap Sutiaji terhindar dari hal-hal gaib akibat perbuatan orang-orang yang tak senang.

Doa Kiai Marzuki itu menjadi bukti relasi mereka yang sangat dekat. Hal ini juga diakui oleh Kiai Marzuki. Dia menjelaskan, Sutiaji merupakan jamaah di pondok pesantren yang diasuhnya. Selama ini, Sutiaji juga sering datang ke kediamannya. Dari kedekatan itulah, inisiatif mendoakan Sutiaji pun muncul.

”Sebagai orang tua jelas saya memiliki rasa kekhawatiran. Itu sebabnya, begitu dia datang, saya langsung meminta dia berbalik, dan saya doakan,’’ kata Marzuki.  Tata cara memberikan doa dari belakang, dikatakan Marzuki merupakan hal biasa.

”Ya kayak anak minta doa, dia mau ujian, saya melakukannya juga seperti itu,’’ ungkapnya.

Seiring dengan kemenangan Sutiaji dalam Pilkada Kota Malang, Kiai Marzuki berpesan agar  memimpin dengan adil dan tidak membeda-bedakan. Selain itu  juga diminta untuk mewujudkan Malang Bermartabat secara utuh.

”Malang Bermartabat itu adalah  Kota Malang kaya tapi dengan cara bermartabat. Cara bermartabat artinya, tidak memberikan izin penjualan minuman keras, tidak memberikan izin tempat-tempat maksiat, dan lainnya,’’ ungkapnya.

Marzuki mengatakan, masih banyak potensi yang dapat digarap Pemerintah Kota Malang. Dari potensi itu menghasilkan sesuatu yang luar biasa. Salah satunya sekolah internasional. Dengan sekolah internasional, Kota Malang akan menjadi jujugan warga dari luar daerah untuk datang. Dan jika itu dapat digarap dengan benar, dengan pengelolaan yang  profesional, pendidikan internasional juga berkembang sehingga berdampak pada peningkatan pariwisata dan pembangunan.

”Itu yang kami sampaikan. Saya juga berpesan jika nanti bisa melakukan pemerataan pembangunan, dia juga bisa melakukan pemekaran wilayah,’’ ungkapnya. (mg6/ica/ira/van/ary/han)

Editor : Dewi Yuhana
Uploader : buari
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU