Menang Pilkada, Dihadiahi Allah Naik Haji

  • 29-06-2018 / 23:35 WIB
  • Kategori:Pilkada
Menang Pilkada, Dihadiahi Allah Naik Haji Sofyan Edi Jarwoko. (Dicky/MP)

MALANG-Kesabaran Sofyan Edi Jarwoko selama lima tahun berbuah manis. Dia tak hanya berstatus sebagai calon wakil wali kota. Tapi terpilih menjadi Wakil Wali Kota Malang periode 2018-2023, mendampingi Sutiaji sebagai Wali Kota Malang.

Bagi Sofyan Edi, ini adalah hadiah da­ri konsistensi, me­leng­kapi hadiah lain dari Allah SWT yang menguras air matanya. Tahun ini naik haji!

Kepada Malang Post, Bung Edi sapaan akrabnya me­ngatakan, kemenangan ini merupakan kemena­ngan rakyat. Di mana rakyat Kota Malang percaya dan memilih SAE (Sutiaji-Edi) sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Malang. Bukan itu saja, Bung Edi begitu dia akrab dipanggil juga mengatakan, jika kemenangan yang diraih ini tak luput dari skenario Allah SWT.

”Kalau dulu hanya calon Wakil Wali Kota Malang, sekarang Insya Allah jadi Wakil Wali Kota Malang untuk periode 2018-2023,’’ kata Sofyan Edi Jarwoko dengan tersenyum.

Di dunia politik,  Bung Edi memang bukan orang baru. Dia masuk di Partai Golkar sejak 1998. Karirnya di partai berlambang pohon beringin itupun dilalui mulai dari bawah. Bahkan melalui partainya juga, Bung Edi berhasil menjadi anggota DPRD Kota Malang selama dua periode, yaitu periode 2004-2009 dan tahun 2009-2014.

Di periode kedua,  tepatnya tahun 2013 lalu, Bung Edi mendapat perintah agar mencalonkan diri sebagai calon Wali Kota Malang, yang saat itu sedang menggelar Pilkada. Amanat itupun dijalankan, di mana dia yang saat itu menjabat sebagai Ketua DPD Partai Golkar pun menjalin komunikasi dan terus berkoordinasi dengan partai lain untuk berkoalisi.

”Perintah partai agar saya mencari partai koalisi,’’ katanya.

Seiring waktu, dia pun berhasil mendapatkan partai, yaitu PKS. Namun di tengah jalan PKS mencabut koalisi. ”Waktu itu saya sempat bingung. Hingga kemudian saya berangkat ke Jakarta, untuk meminta petunjuk DPP,’’ ungkapnya.

Hasil dari pertemuan dengan DPP, ia diminta menunggu, sambil terus melakukan komunikasi dengan partai lain. ”Waktu itu sudah detik-detik akhir. Tapi saya juga tak bisa berbuat banyak,” tegasnya.

Keajaiban terjadi pada H-1 pendaftaran. Di mana Heri Pudji Utami yang diusung 16 partai non parlemen mengajak dirinya bergabung. Bersama PAN, akhirnya Partai Golkar berkoalisi saat itu. Namun saat itu ia harus terima dicalonkan sebagai wakil wali kota. Karena saat awal dulu elektabilitas Bu Peni begitu Heri Pudji Utami dipanggil lebih tinggi darinya.

”Elektabilitasnya tinggi. Makanya saya pun pasrah saat hanya dicalonkan sebagai wakil wali kota,’’ kata bapak tiga anak ini.

Dan saat itu Bung Edi juga yakin, dapat memenangkan Pilkada. Ia melakukan kampanye selama tiga bulan dengan Bu Peni. Selama perjalanan itu, suaranya yang awalnya sangat tinggi, kemudian terus menurun. Banyak warga berpaling ke Abah Anton yang memiliki program ziarah wali saat itu. Dan itu terbukti, saat pemilihan pasangan warga pun banyak memilih Abah Anton.

”Kecewa ada saat itu. Tapi saya tidak mau berlarut-larut dan kembali ke aktivitas sebagai kader partai,’’ katanya.

Tak berhenti sampai di situ, tahun 2014 lalu, partainya pun juga mengalami kisruh. Edi pun sempat marah, hanya saja dia kembali tidak mau berlama-lama. Sebagai Ketua DPD saat itu, dia tetap menjalankan tugasnya, dengan melakukan konsolidasi dengan anak buahnya.

”Waktu 2014 saya memutuskan untuk tak mendaftar sebagai anggota dewan. Saya memutuskan untuk beristirahat saat itu, sudah waktunya saat itu saya memperhatikan anak,’’ tambahnya.

Hanya saja saat itu dia masih tetap menjawab sebagai Ketua DPD Partai Golkar. Saat berhenti menjadi anggota dewan, Edi pun beralih profesi menjadi petani. Dia memilih kopi, sebagai komoditi pertanian. Bekerjasama dengan Perhutani dan petani, dia mengembangkan tanaman kopi di tiga wilayah sekaligus, yaitu Kecamatan Ngajum, Wagir, dan  Dau. Di dunia pertanian, Edi merasa sangat asyik. Berkumpul dengan petani, untuk bertanam kopi, betul-betul membuat dia merasa bahagia.

”Karena saat itu masih menjadi Ketua DPD, maka tanggung jawab saya di partai juga tetap saya jalankan. Tapi tak pernah terbersit lagi untuk mencalonkan diri, baik sebagai wali kota maupun wakil wali kota,’’ ungkapnya.

Hingga kemudian, akhir tahun 2017 lalu, saat Musda Partai Golkar di Hotel Santika, dia kembali dipilih partai untuk mencalonkan diri dalam Pilkada Kota Malang. Waktu itu DPP tak menuntut dia sebagai wali kota ataupun wakil, DPP memberikan kesempatan dirinya untuk mencari partai lain dengan posisi diserahkan kepada partai koalisi.

”Dari hasil Musda tersebut, kami kemudian mencari partai koalisi. Saya menjajaki PKB, PDI-P dan Partai Demokrat, dan Partai Gerindra,’’ ungkapnya.

Seiring waktu, Partai Golkar kemudian berkoalisi dengan Partai Demokrat. Bersama Sutiaji, Edi pun kemudian mencalonkan diri sebagai Wali Kota Malang dan Wakil Wali Kota Malang.

”Waktu itu sempat ragu-ragu. Ya bisa dilihat kan lawannya siapa. Abah Anton sebagai incumbent, sedangkan pasangan nomor urut satu diusung banyak partai. Tapi mas Sutiaji mengajak saya, bahwa niat mencalonkan diri adalah ibadah. Dari situlah kami pun memulai perjuangan,’’ urainya.

Selama melakukan kampanye, Edi pun selalu all out. Bersama Sutiaji, dia mengenalkan visi dan misi, serta program yang diusung. ”Kami selalu bersama-sama. Kami mengenalkan kepada masyarakat, visi dan misi, dan program kami kenalkan,’’ tambahnya.

Dari banyak cerita itu, ada yang membuat Edi terharu dan sempat menitikkan air mata. Tak lain, dia mendapat surat dari Kemenag jika dirinya akan berangkat haji tahun ini.

”Waktu kampanye, saya mendapat surat,  dari Kemenag yang memberitahukan ada kuota. Dan nama saya tercatat disitu,’’ katanya sembari menitikkan air mata terharu.

Dia mengaku daftar haji tahun 2010 lalu, harusnya berangkat tahun 2019 mendatang. Di sela-sela kampanye, Edi pun melakukan menyiapkan segalanya. Ikut manasik, cek kesehatan dan lainnya. Dia pun akan berangkat pada tanggal 24 Juli mendatang, bersama rombongan kloter 25 Kota Malang.

”Ini yang saya katakan skenario Allah SWT. Saya banyak mendapatkan kemudahan, dan semuanya tak terduga. Dan saya berangkat saat hari ulang tahun, ini sangat luar biasa,’’ ungkap Edi.

Ditanya doa apa yang akan dipanjatkan saat di kakbah nanti? Edi akan melakukan sujud syukur, karena selama ini telah mendapatkan kemudahan. Dia juga akan mendoakan seluruh warga Kota Malang selalu diberi perlindungan Allah SWT dan Kota Malang menjadi kota yang makmur dan terus maju.

”Kalau doanya pasti banyak ya. Tapi di sana saya akan berdoa, tentang kemenangan ini, semoga kami juga mendapat bimbingan dalam memimpin nanti, untuk menjadi pemimpin yang amanah,’’ tandasnya.(ira/ary)

Editor : Ary
Uploader : slatem
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU