Sebut Politik Identitas Salah Kaprah, JK Singgung soal Ahok

  • 02-08-2018 / 16:30 WIB
  • Kategori:Politik
Sebut Politik Identitas Salah Kaprah, JK Singgung soal Ahok Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebut apa yang terjadi di Pilgub DKI Jakarta bukanlah Politik Identitas. (Dok. jpc)

JAKARTA- Pelaksanaan Pilkada DKI Jakarta telah lama usai. Namun, momentum tersebut tentu membekas hampir di seluruh kalangan masyarakat.

Pilkada DKI Jakarta menimbulkan banyak kontroversi dan memunculkan isu suku, ras dan agama (SARA) yang tidak hanya terjadi di Jakarta. Hanya saja banyak yang salah kaprah terkait apa yang terjadi di Pilkada Ibukota

Hal tersebut diungkapkan Wakil Presiden Jusuf Kalla ketika menjadi pembicaara dalam Bussines Launch. JK menyebut politik identitas kerap kali diartikan sebagai politik yang mengedepankan relasi emosional, seraya merendahkan pertimbangan rasional.

"Jadinya pilihan yang diambil lebih karena bersifat dorongan primordial yang kurang mengedepankan pertimbangan kemanfaatan umum," ujar JK di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (2/8).

JK menilai politik identitas terjadi hampir di semua negara. Sementara apa yang terjadi pada Pilkada DKI Jakarta, dianggap banyak yang salah kaprah.

Menurutnya, yang dialami oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok, bukan politik identitas. Sebab, masih banyak pemilih mantan Bupati Belitung juga banyak berasal dari kalangan muslim.

"Politik identitas ada di semua negara demokrasi. Banyak orang salah kaprah Pilkada DKI Jakarta itu ada suatu perpecahan, ada politik identitas yang besar. Padahal kalau dilihat, non Islam itu 23 persen, kalau memilih Ahok itu 41 persen, jadi banyak pemilih islam," ujarnya

Dia mencontohkan di negara lain seperti Amerika, butuh waktu 175 tahun untuk bisa dipimpin oleh Presiden beragama katolik. Sebelum itu, pemimpin Negeri Paman Sam ini begitu kental dengan agama Protestan.

Dia menegaskan, hal itu menandakan bahwa politik identitas tidak hanya terjadi di Indonesia saja melainkan juga negara lain. Sehingga, masyarakat tidak perlu salah kaprah atas paradigma politik di Tanah Air.

"Contoh sederhana, Amerika karena mayoritas protestan, presiden katolik pertama 175 tahun. Butuh 240 tahun bagi Amerika untuk orang hitam jadi presiden. Jadi itu terjadi dimana-mana," tandasnya.(hap/JPC/bua)

Editor : bua
Uploader : buari
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU