Liburan Hemat di Nusa Penida, Matahari Terbit di Rumah Pohon

  • 23-06-2019 / 12:07 WIB
  • Kategori:Destinasi
Liburan Hemat di Nusa Penida, Matahari Terbit di Rumah Pohon BEST SPOT: Menikmati suguhan matahari pagi dari Rumah Pohon Molenteng memberikan pengalaman yang luar biasa.

MALANGPOSTONLINE.COM - Perjalanan kali ini dimulai dari kota asal, Nganjuk. Naik KA ekonomi Sri Tanjung, saya bersama seorang teman berbekal dua backpack besar berbaur di keramaian penumpang. Perjalanan menuju stasiun akhir di Karangasem, Banyuwangi, ditempuh selama 10 jam. Sesampai di sana, kami langsung mengambil motor sewaan yang sudah dipesan jauh-jauh hari.

Berdasar keterangan persewaan motor, sebenarnya sangat jarang yang memperbolehkan motor mereka dibawa menyeberang ke Bali. Beruntung, kami mendapat persewaan motor yang boleh digunakan hingga ke Bali. Tarif rata-rata menyewa motor di Banyuwangi Rp 75 ribu per hari.

Setelah beristirahat sebentar, kami bergegas menuju Pelabuhan Ketapang. Sekali menyeberang dikenai tarif Rp 25 ribu untuk satu motor (2 orang). Penyeberangan ke Bali hanya membutuhkan waktu 45 menit.

Sesampai di Bali, jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 Wita dini hari. Kami berdua harus mengejar waktu keberangkatan feri yang melayani rute ke Nusa Penida di pelabuhan ujung timur Bali, Padang Bai. Total, dari Pelabuhan Gilimanuk menuju Pelabuhan Padang Bai ditempuh dalam 4,5 jam perjalanan.

Sebenarnya untuk menuju Nusa Penida, kita bisa memanfaatkan kapal cepat dari Pelabuhan Padang Bai ataupun Pantai Sanur. Penggunaan kapal cepat itu bisa memangkas waktu hingga 30 menit perjalanan dengan tarif rata-rata mulai Rp 100.000/orang.

Keberangkatan kapal feri Padang Bai ke Nusa Penida dapat kita temui setiap hari dengan dua kali perjalanan, yaitu pukul 10.00 dan 15.00 Wita. Bertarif Rp 50.000 untuk 1 motor dan Rp 31.000/orang, waktu tempuh penyeberangan hanya berkisar 45 menit hingga 1 jam.

Akhirnya pukul 14.00 Wita, sampailah kami di Nusa Penida. Kesan pertama begitu sampai, kami dibuat takjub dengan keindahan lanskap pulaunya, kebersihan dermaga, dan jernihnya pantai di sekeliling pulau.

Kami telah memesan penginapan secara online. Kalaupun belum booking, jangan khawatir. Banyak penginapan di sekitar pelabuhan dan sudut pulau dengan tarif mulai Rp 150 ribu per malam.

Sore setelah mandi dan istirahat sejenak, kami memulai berpetualang. Spot pertama, menikmati indahnya sunset di tebing yang sangat ikonik dengan bentuk seperti kepala dinosaurus, Kelingking Beach. Dengan berkendara menyusuri jalanan di Nusa Penida yang relatif sepi, kami sampai tepat ketika matahari terbenam. sungguh, inilah pemandangan sunset terindah yang pernah saya jumpai.

Hari kedua, petualangan berlanjut menuju spot sunrise terbaik di Nusa Penida, yaitu Bukit Molenteng atau wisatawan kerap menyebutnya Pulau Seribu. Berangkat pukul 04.30 Wita, dalam waktu satu jam, kami sudah sampai di tempat tujuan. Butuh perjuangan untuk sampai di sisi tebing atau spot terbaik untuk menikmati matahari terbit.

Dan, tepat pukul 06.00 Wita, pemandangan luar biasa menakjubkan hadir di depan mata kita. Kemilau sinar jingga hadir menyegarkan mata. Menyaksikan pemandangan indah matahari terbit dari ufuk timur menjadi pengalaman yang luar biasa. Bentang lautan biru dipadu pemandangan tebing karang yang menjulang tinggi serta pulau kecil-kecil yang tersebar di sekelilingnya. Tak heran jika lokasi itu sering disebut the best spot menikmati matahari terbit di Nusa Penida.

Hadirnya beberapa Rumah Pohon Molenteng di sekelilingnya juga bisa digunakan sebagai background foto yang sangat instagramable tentunya. Asyiknya, rumah pohon itu bisa disewa melalui beberapa situs booking online dengan harga kisaran Rp 800 ribu per malam.

Petualangan dilanjutkan menuju spot paling menantang di pulau ini, Air Terjun Peguyangan. Berada tepat di sisi tebing, untuk menuju destinasi tersebut, diperlukan perjuangan ekstra. Pengunjung harus turun menyusuri ratusan anak tangga yang berada di sisi tebing terjal.

Yap, anak tangga di sisi tebing itu membuat nyali kita diuji. Kurang menantang, coba tengok ke bawah, pemandangan ombak yang menghantam karang membuat bulu kuduk berdiri.

Air Terjun Peguyangan merupakan sumber air bersih terbesar di pulau ini. Dilengkapi Pura Segara Kidul untuk tempat peribadatan umat Hindu, wisatawan dapat merasakan sensasi segarnya mandi di kolam yang disediakan.

Made, salah seorang penjaga destinasi Air Terjun Peguyangan, mengatakan bahwa air terjun tersebut memiliki sumber di dalam rekahan karang. Pada zaman dahulu, air terjun itu juga menjadi sumber air bagi masyarakat Nusa Penida. ”Tempat ini dulu susah air. Peguyangan menjadi satu-satunya sumber air buat warga. Sambil memikul timba, mereka berjalan kaki menyusuri sisi tebing yang curam ini,” ucap Made.

Hari sudah semakin sore, saatnya kami mampir ke salah satu pasar makanan di pulau ini. Harga makanan di pulau ini rata-rata Rp 15 ribu untuk sekali makan. Tentu, bergantung pilihan menu yang diambil.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali kami harus pulang. Tetap memanfaatkan jasa angkutan feri menuju Pelabuhan Padang Bai, kapal berangkat pukul 09.00 Wita dengan tarif total untuk satu motor dua orang Rp 98 ribu. (jpc/bua)

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : JPC
Fotografer : JPC

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU