Ritual Perkawinan Joko dan Sri Gondel di Kawisari

  • 17-07-2019 / 23:06 WIB
  • Kategori:Destinasi
Ritual Perkawinan Joko dan Sri Gondel di Kawisari RITUAL kopi kawisari Blitar

MALANG – Waktu panen telah tiba. Perkebunan kopi Kawisari kembali menggelar ritual yang merupakan fondasi dan cara hidup penduduk Jawa yang tinggal di lereng-lereng Gunung Kelud. Upacara panen dan parade spiritual yang berlangsung di kebun kopi seluas 900 hektar ini mengisahkan Joko Gondel, sepasang mempelai pria dan wanita.

Sri Gondel dibawa ke parade meriah ke altar dalam membangun komitmen hidup mereka. Sepasang rangkaian bunga tradisional Jawa, Kembar Mayang yang dipegang oleh dua pria menghiasi prosesi itu. Setibanya di gerbang gedung, mereka disambut oleh sepasang Kembar Mayang yang dibawa oleh dua wanita muda dan cantik.

Pertemuan pasangan Kembar Mayang dan pertukaran keduanya menandakan pernikahan yang terjadi antara pengantin laki-laki dan perempuan. Joko Gondel dan Sri Gondel pada kenyataannya bukan tokoh nyata. Mereka adalah dua tokoh yang memainkan peran paling penting dalam ritual memetik kopi yang dimulai pada tahun 1870.

 

 

“Mereka adalah buah kopi utama Perkebunan Kopi Kawisari dan Sengon. Penduduk percaya bahwa buah yang terbentuk dari pernikahan antara Sri Gondel dan Joko Gondel melambangkan pembuahan antara putik dan benang sari,” ujar Public Relation Hotel Tugu Malang, Richard Wardana kepada Malang Post.

Sri berarti Betina dan Joko artinya Jantan. Joko Gondel dan Sri Gondel melambangkan panen pertama. Dalam ritual inilah kedua buah tersebut dimasukkan ke dalam toples kecil dan diangkut menggunakan kain batik. Kemudian toples diserahkan kepada salah satu tetua di perkebunan. Pada prosesi ini mereka diapit empat kembar mayang yang cantik sebagai hadiah untuk pemimpin perkebunan kopi.

Hadiah itu juga sebagai ucapan terima kasih atas panen yang melimpah dan sekaligus berharap keselamatan dan kesejahteraan semua penduduk desa di area sekitar perkebunan. Usai upacara, selanjutnya adalah selamatan yang dipimpin oleh tokoh agama setempat.

Perkebunan kopi Kawisari terletak di atas ketinggian 1.000 mdpl. Sedangkan perkebunan Sengon di bawahnya sekitar 600-800 mdpl, terletak di lereng Gunung Kelud dekat Wlingi Blitar Jawa Timur. Kopi dengan biji terbaik ditanam dan hasil panen dipilih serta diolah menggunakan metode tradisional yang otentik.

“Hasil kopi tersebut dipasarkan dengan merek Tugu Kawi Sari Coffee. Perkebunan ini dikelola oleh penduduk setempat dengan tradisi dan spiritualitas yang telah berusia ratusan tahun,” jelas Richard.

Penduduk desa setempat sangat percaya bahwa perkebunan adalah tempat khusus yang dilindungi selamanya oleh para Dewa. Mereka meyakini ini adalah lokasi kerajaan Lembusuro dan Mahesosuro, serta dijadikan perhentian terakhir para raja dan pangeran sebelum mencapai tempat meditasi di Gunung Kawi.

“Perkebunan ini didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1870 ketika Belanda menarik peraturan penanaman paksa, menjadikan Perkebunan Kopi Tugu Kawisari sebagai perkebunan kopi tertua yang masih berfungsi di Jawa Timur yang saat ini di kelola oleh Tugu Group,” tandasnya.

Perkebunan Tugu Kawisari menghasilkan jenis kopi Arabika dan Robusta terbaik yang dikembangkan sejak masa penjajahan Belanda. Bahkan kebun ini juga menghasilkan kopi luwak.(lin/lim)

Editor : lim
Uploader : slatem
Penulis : lin
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU