Perampokan Putat Lor, Gondanglegi

  • 26-04-2018 / 18:11 WIB
Perampokan Putat Lor, Gondanglegi GUEST GESANG - TERTANGKAP: Rizal Arif Santoso, pembunuh Hj. Siti Khotijah tertangkap di Magetan saat hendak pulang ke rumah orang tuanya. Cicit korban ini mengaku sudah berniat untuk melakukan perampokan.

Bu Haji Ternyata Dibunuh Cicitnya

Perampokan Putat Lor, Gondanglegi

MALANG-  Akhirnya, Polres Malang berhasil mengungkap kasus perampokan dan pembunuhan terhadap Hj. Siti Khotijah, 90, warga Jalan Kenanga, Dusun Krajan, Desa Putat Lor, Gondanglegi. Pelakunya adalah M. Rizal Aris Santoso, 20, warga Kecamatan Kartoharjo, Kabupaten Magetan.

Dia dibekuk tim khusus yang dipimpin Kasatreskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda di Magetan, dini hari kemarin. Menurut polisi, tersangka yang lahir 9 Maret 1998 ini adalah cicit korban. Atau cucu Marsini, anak pertama Siti dari enam bersaudara. 

“Dia kami amankan ketika hendak pulang ke rumah ayahnya di Magetan,” ungkap Kapolres Malang, AKBP Yade Setiawan Ujung. Saat ini, kata dia, tersangka yang bertubuh besar tersebut, masih disidik secara intensif. “Pengakuan awal, perampokan itu sudah direncanakan,” ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa berdarah mengguncang Jalan Kenanga, Dusun Baran, Desa Putat Lor, Gondanglegi, Rabu (18/4) malam. Tiga perempuan tergeletak bersimbah darah di lantai dengan luka di kepala. Satu diantaranya meninggal dunia, yakni Siti.

Dua korban lain, Winarsih, 50, pembantunya dan Rohmadiah, 14, anak Winarsih menjalani perawatan intensif di RSSA Malang. Kedua tak sadarkan diri karena luka pukulan di kepala. Dari hasil olah TKP, tiga buah cincin dan gelang emas milik Siti seberat 50 gram, lenyap.

Ujung, sapaan akrabnya, menerangkan, sekitar lima bulan lalu, Rizal mendatangi rumah Suliana, ibunya di Desa Putat Lor, Gondanglegi. “Rabu (18/4) sekitar pukul 04.00, tersangka sempat bertengkar dengan ibunya. Setelah itu, mengaku akan minggat dari rumah,” papar dia.

Diduga saat hendak minggat ini, terlintas dalam pikiran untuk melakukan perampokan terhadap Siti yang dikenal kaya karena menjadi petani tebu sukses. Rabu sore, sekitar pukul 15.30, pemuda yang dijerat dengan pasal berlapis ini, lantas mendatangi rumah korban.

Saat itu, ia sebenarnya sudah hendak melakukan perampokan. Namun gagal karena situasinya masih ramai. Sekitar pukul 17.30, tersangka pulang ke rumah ibunya.  Satu jam kemudian, ia datang kembali untuk melakukan perampokan.

Aksinya tidak terlaksana lagi karena Nuril Indah Cahya, 25, anak angkat H. Huda dan Hj. Handayani, anak kelima korban berkunjung ke sana. Rizal kembali memilih pulang ke rumah Suliana. Tetapi ia meninggalkan kacamata, supaya ada alasan kembali lagi ke rumah tersebut.

 

Jual Perhiasan di Malang

SEKITAR pukul 19.15, tersangka datang lagi, lantas masuk lewat pintu sebelah barat. “Pintu dibukakan oleh mbak Winarsih. Saya ngaku kalau kacamata tertinggal,” tutur Rizal kepada wartawan.  Begitu masuk rumah, dia langsung duduk sembari menunggu waktu yang tepat.

Pukul 19.30, Siti yang sempat menemani ngobrol cicitnya, kemudian berpamitan masuk kamar untuk tidur. Sementara Winarsih masih berada di ruang tengah.  Tak lama setelah korban masuk kamar inilah, Rizal langsung beraksi.

Kali pertama yang dihajar adalah Winarsi. Dia dipukuli dengan tangan kosong dan ditendang. Kepalanya juga dibenturkan ke lantai beberapa kali hingga tak sadarkan diri. Rohmadiah, anak Winarsih yang melihat pemukulan itu, ketakutan dan lari ke kamar belakang.

Rizal yang mengetahui langsung mengejar. Begitu tertangkap, Rohmadiah dipukuli dan ditendang. Kepalanya juga dibenturkan ke ubin. Setelah pingsan, Rizal baru menuju kamar Siti. Wanita renta ini juga dipukuli dan ditendang beberapa kali.

Kepalanya dibentur-benturkan ke tempat tidur hingga terluka parah.  “Saat nenek kesakitan, saya minta ditunjukkan uangnya. Tetapi tidak dijawab. Nenek menyuruh saya mengambil perhiasan yang dipakainya. Yaitu gelang 50 gram dan tiga buah cincin,” papar pemuda ini.

 Usai merampas perhiasan emas itu, Rizal pun kabur dengan mengendarai sepeda motor Honda GL menuju rumah salah satu temannya di Jalan Sigura-gura Malang. Ia juga menjual pehiasannya ke salah satu toko emas senilai Rp 34 juta.

Baru kemudian kabur berpindah-pindah dan terakhir ke Magetan. Rizal mengaku, uang yang didapatnya dari menjual emas itu, digunakan untuk membeli motor Honda CB, helm, ponsel dan beberapa barang lain. Sisanya, dipergunakan untuk biaya hidup. (agp/mar)

  • Editor : mar
  • Uploader : angga

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

situs sekaran bisa seluas 3.550 m2

Kerja Seimbang Harus Sehat


GRATIS !!!

Untuk Berlangganan Berita Malang Post Online,
Ketik Nama dan Email di Form Berikut Ini.



VIDEO

-->