UPDATE NOW
UPDATE NOW
   UPDATE NOW
Home > > Husnun

Piala Adipura-pura

  • 17-01-2019 / 15:11 WIB
  • Kategori:Husnun
Piala Adipura-pura agung/MP Online

Wali kota Malang, Drs H Sutiaji layak sedih dan marah. Kota yang dipimpinnya itu ternyata hanya mendapat plakat Adipura untuk sarana dan prasarana terminal kota besar tahun 2018 (malangpostonline.com). Ini hasil yang menurun drastis. Padahal sebelumnya Kota Malang meraih Adipura Paripurna. Prestasi jelek ini tampaknya memutus mata rantai prestasi Adipura yang diraih Kota Malang tiap tahun.

Sejak penghargaan bagi kota bersih ini diluncurkan di era Orde Baru, Kota Malang jadi langganan piala dari presiden tersebut. Tak heran bila Pemkot Malang membangun monument Adipura di pertigaan Jalan Semeru dan Jalan Arjuno.

Kenapa penghargaan tertinggi itu bisa lepas ? Alasan paling mudah adalah, karena Pemkot Malang dilanda prahara korupsi yang melibatkan kepala daerah, pejabat, ketua dan wakil ketua DPRD Kota Malang bersama anggotanya. Kasus itu bisa saja dijadikan alasan, tidak bisa maksimal persiapan menghadapi penilaian Adipura.

Ada apatisme dikalangan para pejabat menyusul prahara korupsi itu. Banyak diantaranya yang tidak berani mengambil kebijakan, karena takut terseret KPK. Ketika unsur pimpinan di Pemkot terjerat kasus dengan KPK, praktis roda pemerintahan tidak maksimal, termasuk persiapan menghadapi Adipura. Tapi sebenarnya alasan ini bisa dipatahkan.

Kalau Kota Malang gagal dapat Adipura karena kepala daerahnya tersangkut korupsi, bukankah Kabupaten Malang juga sama ? Tapi masih bisa meraih Piala Adipura. Tapi kan bupati Malang baru ditangkap belakangan setelah persiapan Adipura selesai. Sedangkan wali kota Malang ditahan KPK justru sebelum penilaian.

Ya, kalau mencari alasan pasti akan ketemu. Inilah yang membedakan orang sukses dan tidak sukses. Saat menghadapi masalah, orang sukses mencari jalan untuk menyelesaikannya. Sebaliknya, orang tidak sukses akan mencari alasan untuk menghindari masalah. Sebenarnya bukan hanya korupsi. Biasanya, menjelang akhir jabatan, kepala daerah sudah tidak fokus pada tugasnya.

Kalau pada periode pertama, akan serius menghadapi periode kedua. Sedangkan menjelang akhir periode kedua, sudah tidak berselera kerja keras, yang penting bagaimana bisa mendapat sangu pension yang banyak.

Sebagai warga Malang, kita tidak laget dengan kegagalan itu, karena memang effort untuk menjadikan kota yang bersih dan sehat mulai menurun. Pada awal kepemimpinan begitu banyak taman dibangun sampai nyaris mendapat predikat Wagiman (wali kota gila taman). Ternyata taman-taman yang indah itu dibangun oleh perusahaan melalui dana CSR (Corporate Social Responsibility), bukan oleh Pemkot Malang.

 Kenapa wali kota M Anton kala itu tidak jadi digelari Wagiman ? Karena gelar itu sudah melekat pada wali kota Suyitno yang memang getol dalam kebersihan dan keindahan kota. Wali kota sebelumnya, almarhum Susamto yang paling banyak meraih Adipura diantaranya melalui gerakan Makobu (Malang Kota Bunga).

 Peni Suparto yang memerintah di era reformasi, masih tetap mempertahankan gelar kota bersih dan indah itu. Para pendahulu itu begitu concern pada kebersihan dan keindahan kota, meskipun harus berhadapan dengan para PKL.

Dulu tidak ada yang menduga, siapa bisa menghilangkan PKL dari Jalan Pasar Besar. Siapa sangka, PKL depan stasiun yang kumuh itu bisa dipindahkan. Ada kalanya pemimpin itu ngemong rakyatnya dengan penuh kasih sayang, tapi pada saat yang lain harus bertindak tegas bla terjadi pelanggaran. Memang benar, mempertahankan juara itu lebih berat dibanding meraihnya. Kota ini tidak semakin baik, bahkan sebaliknya.

 Wali kota Sutiaji tidak cukup hanya sedih dan marah, tapi harus mewujudkan dalam tindak nyata.  Sukses hanya meraih plakat Adipura harus jadi cambuk untuk melakukan perbaikan. Biasanya, setiap tahun Pemda disibukkan penilaian Adipura. Tapi konon saat ini para juri Adipura datang secara incognito, tanpa memberi tahu dulu. Itu bagus, artinya kota yang dinilai harus siap setiap saat, bukan hanya saat akan ada penilaian.

Saya pernah menulis judul Adipura-pura saat kota Malang meraih piala itu saat era wali kota Peni Suparto. Seorang teman wartawan mengatakan, judulnya kok galak. Saya katakan tidak, itu bentuk kecintaan saya pada Kota Malang.

  • Editor : Husnun
  • Uploader : slatem

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Milo Ingin Duetkan Alfarizi-Alfin Lagi

Jual Miras Saat Lebaran, Begini Nasibnya

Pembobol Pabrik Beton Ditangkap, Dua Temannya Kabur

Terapkan Sapta Pesona Untuk Menyambut Libur Lebaran

Kasus Oppo Belum Beres

Lindungi Saksi Gugatan Pemilu!

VIDEO