Piala Adipura-pura

Piala Adipura-pura agung/MP Online

Wali kota Malang, Drs H Sutiaji layak sedih dan marah. Kota yang dipimpinnya itu ternyata hanya mendapat plakat Adipura untuk sarana dan prasarana terminal kota besar tahun 2018 (malangpostonline.com). Ini hasil yang menurun drastis. Padahal sebelumnya Kota Malang meraih Adipura Paripurna. Prestasi jelek ini tampaknya memutus mata rantai prestasi Adipura yang diraih Kota Malang tiap tahun.

Sejak penghargaan bagi kota bersih ini diluncurkan di era Orde Baru, Kota Malang jadi langganan piala dari presiden tersebut. Tak heran bila Pemkot Malang membangun monument Adipura di pertigaan Jalan Semeru dan Jalan Arjuno.

Kenapa penghargaan tertinggi itu bisa lepas ? Alasan paling mudah adalah, karena Pemkot Malang dilanda prahara korupsi yang melibatkan kepala daerah, pejabat, ketua dan wakil ketua DPRD Kota Malang bersama anggotanya. Kasus itu bisa saja dijadikan alasan, tidak bisa maksimal persiapan menghadapi penilaian Adipura.

Ada apatisme dikalangan para pejabat menyusul prahara korupsi itu. Banyak diantaranya yang tidak berani mengambil kebijakan, karena takut terseret KPK. Ketika unsur pimpinan di Pemkot terjerat kasus dengan KPK, praktis roda pemerintahan tidak maksimal, termasuk persiapan menghadapi Adipura. Tapi sebenarnya alasan ini bisa dipatahkan.

Kalau Kota Malang gagal dapat Adipura karena kepala daerahnya tersangkut korupsi, bukankah Kabupaten Malang juga sama ? Tapi masih bisa meraih Piala Adipura. Tapi kan bupati Malang baru ditangkap belakangan setelah persiapan Adipura selesai. Sedangkan wali kota Malang ditahan KPK justru sebelum penilaian.

Ya, kalau mencari alasan pasti akan ketemu. Inilah yang membedakan orang sukses dan tidak sukses. Saat menghadapi masalah, orang sukses mencari jalan untuk menyelesaikannya. Sebaliknya, orang tidak sukses akan mencari alasan untuk menghindari masalah. Sebenarnya bukan hanya korupsi. Biasanya, menjelang akhir jabatan, kepala daerah sudah tidak fokus pada tugasnya.

Kalau pada periode pertama, akan serius menghadapi periode kedua. Sedangkan menjelang akhir periode kedua, sudah tidak berselera kerja keras, yang penting bagaimana bisa mendapat sangu pension yang banyak.

Sebagai warga Malang, kita tidak laget dengan kegagalan itu, karena memang effort untuk menjadikan kota yang bersih dan sehat mulai menurun. Pada awal kepemimpinan begitu banyak taman dibangun sampai nyaris mendapat predikat Wagiman (wali kota gila taman). Ternyata taman-taman yang indah itu dibangun oleh perusahaan melalui dana CSR (Corporate Social Responsibility), bukan oleh Pemkot Malang.

 Kenapa wali kota M

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

REKOMENDASI

Arema Tersingkir di Kandang Sendiri

Kecewa, Pemain Arema Harus Benahi Permainan

Dua Blandong Bebas Hanya Wajib Lapor

Lima Bulan ada di Malang, Kopi Kulo Jadi Idaman

PDAM Buka Lowongan Direksi

-->