Pro Kontra Guru Buka Bimbel

  • 18-01-2019 / 20:02 WIB - Editor: buari
  • Uploader:slatem
Pro Kontra Guru Buka Bimbel

Oleh Mishad, M. Pd,

Guru dan Tim Peningkatan dan Penjaminan Mutu MAN 2 Kota Malang

 

Pagi itu saya dikagetkan oleh berita di salah satu koran nasional  yang berjudul “Guru Buka Bimbel Disorot KPK”. Bahkan di lead beritanya  ditegaskan KPK akan memperingatkan agar guru tidak memberikan bimbingan belajar  (Bimbel) bagi siswa yang di ajar di sekolah.  Statemen KPK ini disampaikan oleh Ketua KPK Agus Raharjo, pada saat pertemuan dengan Mendikbud Muhajir Efendi di gedung  KPK pada hari Selasa, 8 Januari 2018 lalu.

 Fenomena menjamurnya Bimbel di Indonesia tentunya bukan tanpa sebab. Lembaga Bimbel muncul lebih dilatarbelakangi oleh kebutuhan konsumen mereka, yaitu para pelajar, bahkan orang tuanya. Kebutuhan tersebut adalah “layanan khusus” yang tentunya tidak ditemukan oleh mereka di sekolahnya. Layanan tersebut bisa karena profil pengajarnya, proset/ paket soal/bukunya, metode pengajarannya, hingga suasana pergaulan dan heterogenitas penghuni kelasnya. Jika belajar di sekolah itu dikatakan sebagai kebutuhan pokok pelajar, maka Bimbel adalah kebutuhan sekunder/tertier bagi mereka.

Sebenarnya, lembaga penyedia Bimbel melayani konsumennya dengan beberapa model. Ada lembaga Bimbel yang dimodel klasikal dan ada lembaga Bimbel yang dimodel les private. Semua memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Tapi, mereka mempunyai visi yang sama, yaitu membantu memecahkan kesulitan belajar dan menguatkan/menambah materi belajar para peserta didik di sekolahnya. Keunggulan lembaga Bimbel yang laku dijual adalah trik khusus yang dibuat oleh mereka untuk penyelesaian soal secara cepat tepat dan tepat. Di sebagian kalangan pelajar/orang tua, lembaga Bimbel juga memiliki nilai prestise.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian pelaku lembaga Bimbel, terutama pengajarnya adalah guru yang juga mengajar di sekolah. Di lembaga Bimbel klasikal, para pengajar terkadang tidak sengaja ketemu/mengajar siswa yang juga diajar di sekolahnya. Sehingga, mungkin juga guru di sekolah tertentu juga menjadi tentor di Bimbel yang siswa juga kebetulan menjadi peserta didik di sekolahnya. Tapi kejadian itu bukan karena kesengajaan dia, tapi karena mendapat kelas dari manajemen lembaga Bimbelnya. Apakah yang seperti ini dikategorikan pelanggaran oleh KPK, menurut saya yang juga pernah mengajar di Bimbel “tidak”, dengan catatan guru itu harus punya integritas dalam penilaian. 

Sorotan KPK lebih tepat jika diarahkan pada guru yang membuka Bimbel/les private/kelompok untuk muridnya sendiri. Sebuah contoh. seperti Guru A di sekolah A, membuka layanan private/kelompok

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

REKOMENDASI

Arema Tersingkir di Kandang Sendiri

Kecewa, Pemain Arema Harus Benahi Permainan

Dua Blandong Bebas Hanya Wajib Lapor

Lima Bulan ada di Malang, Kopi Kulo Jadi Idaman

PDAM Buka Lowongan Direksi

-->