Cahaya, Surga, dan Teroris

  • 03-06-2018 / 03:03 WIB
  • Kategori:Opini
Cahaya, Surga, dan Teroris

SUDAH banyak diskursus soal terorisme. Pascakejadian di Surabaya, diskursus semarak dimana-mana. Salah satu tema yang menarik, bahwa teroris menjalankan aksinya karena motivasi misi. Misi ini diantaranya berkaitan dengan hajat mendapatkan hidup membahagian di surga kelak.

Persoalannya apa memang teroris bisa mendapatkan surga? Apa mungkin dengan berbagai aksi yang berpola melukai, menyakiti, atau merampas hak kehidupan sesama secara sadis dan biadab bisa membuatnya masuk surga?

 Mencari, berburu, dan mendapatkan surge dengan cara memproduk beragam praktik pengeboman atau bunuh diri yang berdampak merampas kesehatan dan keselamatan banyak orang tidak bisa dijadikan pembenaran bagi teroris untuk mendapatkan surge.

Kehidupan di surga ditentukan oleh kadar amal manusia di dunia. Siapa menabur amal kebajikan di dunia, di surga kelak akan menuai kebahagiaan. Jika keburukan yang ditabur, seperti yang dilakukan teroris, maka bukan surge yang akan diperolehnya.

Apa yang ditunai manusia di akhirat adalah cermin dari aktifitas atau perbuatan manusia di dunia. Inilah yang disebut sebagai realisasi rumus “amal berbalas adil” sesuai apa yang diperbuat. Kebajikan yang ditanam semasa hidup tidak akan pernah sia-sia di hadapan Tuhan kelak.

Ada suatu kisah menarik yang layak dijadikan bahan refleksi. Kisahnya  di hadapan sahabat-sahabatnya, Nabi Muhammad SAW menceritakan peristiwa ganjil yang akan terjadi di akhirat kelak. Katanya, “ada serombongan orang yang pakaian dan wajahnya tampak bersinar dan bercahaya. Mereka ini mengun­dang rasa takjub para Nabi dan pejuang yang mati sahid”.

“Siapakah mereka yang mendapat keistimewaan di hari Perhitungan itu?”, tanya sahabat-sahabatnya. “Mereka merupa­kan kumpulan orang-orang yang semasa di dunia telah menjalin persaudaraan yang suci, tak dijangkiti sifat dengki, amarah, dendam, sakit hati, saling menyakiti dan menzalimi yang lainnya”.

Peristiwa tersebut mengandung pelajaran berharga, bahwa pola terorisme yang tentu saja menimbulkan ”malapetaka sosial” di tengah kehidupan bermasyarakat dan berbangsa ini tidak akan bisa menjadi ”investasi” untuk mengantarkan pelakunya ke surga.

Kisah itu juga mengandung nilai edukatif dalam kaitannya dengan etika berelasi kemanusiaan. Dalam konstruksi kehidupan bermasyarakat, setiap subyeknya dituntut agar tidak mengha­lalkan sifat kedengkian, dendam, menganiaya dan apalagi mendestruksi keberlanjutan hidup sesaama manusia.

Perilaku tidak terpuji, tidak berkeadaban, baik yang bermodus menyakiti atau merugikan diri maupun sesama harus bersih dari bangunan persaudaraan kemanusiaan dan kemasyarakatan. Bangunan persaudaraan ini tidak boleh “dizalimi” dalam bentuk perbuatan radikalistik.

Sebagai manusia beragama, kita mesti paham, bahwa persaudaraan merupakan kata lain dari “kemitraan” sejati, dimana antara seseorang atau sekelomok orang menjalin hubungan dengan cara saling menegakkan dan mengembangkan sifat-sifat mulia dan bukan perilaku adigang-adigung-adiguna.

Dalam bangunan hidup persaudaraan haruslah dikembangkan doktrin atau ajaran bergaul riil dalam bentuk  saling membantu, saling meringankan beban, atau saling membebaskan kesulitan yang dialami masing-masing pihak, sehingga terbentuk persaudaraan yang harmonis dan menaburkan beragam kebahagiaan

Hubungan persaudaraan tidak dinodai oleh berbagai bentuk kezaliman ekonomi, budaya, politik, dan lainnya.  Kezaliman menjadi duri yang menghambat munculnya cahaya bersinar, karena kezaliman itu merupakan modus perbuatan yang mengakibatkan sakit dan penderitaan bagi orang lain.

Terorisme merupakan deskripsi dari perbuatan berpola kezaliman, pasalnya yang dihadirkan oleh pelakunya adalah beragam penderitaan atau nestapa. Seseorang atau sejumlah orang yang semestinya bisa menikmati kehidupan sejahtera dan damai, akhirnya terampas akibat horor yang menimpanya.

Cahaya bersinar  surgawi ditentukan oleh model pergaulan yang tidak saling menyakiti dan merugikan di sektor apapun, termasuk di ranah pergaulan lintas umat beragama atau internal beragama, yang masing-masing saling menghadirkan atmosfir kedamaian dan kebahagiaan.

 “Memberikan yang terbaik” diantara subyek sosial dan agama yang satu dengan lainnya ibarat saling memberikan hidup dan kebahagiaan serta kesejahteraan, sehingga logis kalau Allah SWT  membalasnya dengan memberikan tempat terbaik di akhirat.

Itu menunjukkan, bahwa persaudaraan di dunia menjadi kata kunci yang menentukan warna dan sejarah kehidupan di akhirat.  Bangunan pergaulan di dunia tidak boleh semata-mata dikategorikan sebagai bangunan yang tuntas di dunia, tetapi sebagai investasi istimewa yang menentukan kebahagiaan di akhirat.

Cahaya kemilau yang dijanjikanNya menjadi cermin setiap insan yang semasa hidup di dunia selalu berusaha mewujudkan perilaku terpuji dan mengalahkan sifat-sifat yang membuat saudaranya hidup susah, menderita, dan nestapa. Cahaya kemilau tidak akan menjadi milik para teroris, karena mereka telah mematikan cahaya kehidupan manusia lainnya di muka bumi.

Ketika ada saudaranya masih menjalani kehidupan serba nestapa atau berada dalam atmosfir keprhatinan akibat menjadi korban ledakan bom, maka demikian ini menjadi pertanda bahwa kesejatian persaudaraan belum berhasil ditegakkan di muka bumi. Masih ada peran penting dan suci bernama “menyayangi atau melindungi sesamanya” yang belum dijalankannya, sehingga mengakibatkan banyak saudaranya di dunia yang terampas keselamatan dan kebahagiannya.

Seseorang atau sekelompok orang yang merasa bisa dapat surge dengan cara meledakkan bom merupakan kumpulan manusia yang terseret dalam pemujaan kepentingan diri dan  egoisme beragama yang salah. Pemujaan dan egoisme demikian berarti menghilangkan atau melenyapkan peran membangun persaudaraan yang dilandasi oleh semangat dan aktifitas saling membebaskan dan memanusiakan sesamanya.

Selama kepentingan diri sendiri masih dinomor-satukan dan selalu menuntut dimenangkan, maka rasanya sulit kepentingan sejati saudaranya bisa dipenuhi. Cahaya langit tidak akan bisa diperolehnya, karena peran-peran yang dilakukannya tidak memberikan cahaya bahagia, damai, dan sejahtera bagi orang lain atau mitra kerjanya.

Pesan kenabian bertajukkan “cahaya kemilau” surge di atas mengajak masing-masing komponen bangsa atau pelaku beragama untuk menempatkan sifat-sifat terpuji sebagai  ruh mewujudkan bangunan social dan keagamaan yang mengharmoniskan, menyelamatkan, menyejahterakan, dan mengembangkan hak keberlanjutan hidup sesamanya. (*)

Editor : oci
Uploader : irawan
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU