Gelar Worshop Poltekkes Soepraoen Kenalkan Akupuntur Jepang

  • 28-01-2019 / 13:25 WIB
  • Kategori:Kampus
Gelar Worshop Poltekkes Soepraoen Kenalkan Akupuntur Jepang Reza Gunawan menjelaskan perbedaan antara akupuntur Jepang dan TCM Cina kepada peserta workshop.(Imam/MP online)

MALANG - Prodi Akupuntur Poltekkes RS. dr. Soepraoen memperkenalkan akupuntur Jepang kepada para mahasiswa dan alumni.  Melalui sebuah seminar dan workshop nasional, yang digelar di Hotel Ollino Garden pada (27/1) kemarin,  Akupuntur Jepang dikenalkan oleh dua pemateri. Yakni Reza Gunawan, praktisi dari Bandung  dan Yudi Handoko dari Tangerang. 

Materi akupuntur dijelaskan spesifik untuk merawat kehamilan,  persalinan dan kesehatan anak.  Di awal sesi,  Reza Gunawan selaku pemateri pertama menjelaskan perbedaan antara akupuntur Jepang dan akupuntur TCM Cina.  

Menurutnya,  ada perbedaan mendasar dari dua jenis akupuntur tersebut.  Akupuntur Jepang,  lebih detail dengan sistem pendekatan yang lebih intensif pada pasien. "Analisa praktisi akupuntur jepang tidak cuma melihat dan menulis. Tapi juga mempertajam felling, mengerti filosifi dan mampu merasakan,"  ucapnya.   

Ia juga menjelaskan kelebihan dari teknis akupuntur jepang. Bagi pasien, proses terapi akupuntur ini lebih tidak nyeri dan menyiksa dari TCM Cina. Pekerjaannya pun lebih rileks, nyaman dan menenangkan pasien. "Teknik ini sesuai untuk pasien yang sensitif energetik. Seperti anak,  ibu hamil dan lain-lain," paparnya.  

Selain itu, kata dia, terapi akupuntur Jepang lebih fokus dan hadir penuh dengan satu pasien. "Secara psikis ini akan menyenangkan pasien.  Membuat mereka lebih tenang karena kita berada penuh di sisi mereka," terangnya. 

Perlakuan sedemikian rupa terhadap pasien, kata Reza,  tak lepas dari budaya Jepang yang penuh nilai respek,  etika,  perhatian detil dan 'mastery'. "Dan metode ini sangat relevan untuk pasien dengan gaya hidup perkotaan modern," kata dia.  

Sementara bagi praktisi, lanjut dia, bisa lebih dekat dengan akupuntur cina ketimbang TCM dan akupuntur medis. Dan keterampilan manual dapat terasah dengan halus sehingga praktisi lebih mahir. "Mereka dapat berpraktek dengan batin tenang dan Ki yang seimbang," imbuhnya.  

Sementara itu,  Kaprodi Akupuntur Poltekkes RS.  dr.  Soepraoen dr. Mayang Wulandari, MM kepada Malang Post mengatakan, setiap semester prodi akupuntur selalu menggelar seminar atau workshop.  Hal tersebut bertujuan agar mahasiswa selalu update terhadap perkembangan ilmu utamanya di bidang kesehatan. "Termasuk juga bagi para alumni yang berkenan ikut.  Sebab ilmu itu terus berkembang dan kita harus mengikutinya, kalau tidak akan ketinggalan," ucapnya. 

Pada seminar kali ini, Prodi Akupuntur memperkenalkan pada mahasiswa Akupuntur Jepang dengan segala kelebihannya dari TCM. Mayang berharap, para peserta mampu memahami dan bisa mempraktekkan dengan pendalaman ilmu yang didapat di kampus.  "Selama ini kan yang dikenal akupuntur TCM Cina.  Nah,  kali ini kita perkenalkan akupuntur baru dari Jepang," terangnya.  

Menurut Mayang,  Akupuntur Jepang lebih dikuatkan dengan perasaan,  naluri dan kepekaan indra. Saat menjalankan tugasnya praktisi dituntut untuk bisa tenang bisa mengambil keputusan yang tepat. "Selain visual praktisi akupuntur jepang juga menggunakan kepekaan indera mereka," tukasnya.  (imm/bua)

  • Editor : bua
  • Uploader : slatem

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI