Raih Emas di Peparnas, Atlet Difabel Ini Tetap Tak Bisa Daftar CPNS

  • 30-01-2019 / 11:45 WIB
  • Kategori:Nasional
Raih Emas di Peparnas, Atlet Difabel Ini Tetap Tak Bisa Daftar CPNS Foto: Istimewa

JOMBANG - Masa depan atlet penyandang disabilitas tak secerah prestasi yang pernah diraihnya dulu. Menjadi tenaga honorer pemerintah adalah nasib terbaik mereka saat ini. Sebab untuk menjadi pegawai negeri sipil, mereka sudah melampaui batas usia.

Salah satu atlet penyandang disabilitas yang mengalami nasib ini adalah Sodikul Amin, 44, asal Kabupaten Jombang. Ia hanya bisa berharap ada kebijakan khusus yang bisa menolongnya.

Ingatannya terbayang-bayang sembilan tahun silam, saat Sodikul Amin mencoba keberuntungan mendaftar sebagai CPNS.

“Terakhir saya mencoba tahun 2009, setelah itu tidak ada pendaftaran CPNS lagi. Baru tahun ini tapi usia sudah tidak masuk, maksimal 35 tahun. Mudah-mudahan saja pemerintah bisa menolong,” harap ayah dua anak asal Desa Catak Gayam, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang ini.

Sodikul Amin dulu menjadi pemain sepak bola disabilitas yang prestasinya sangat gemilang. Ia pernah mendapatkan medali emas saat mengikuti Peparnas (Pekan Paralympic Nasional) atau sejenis Pekan Olahraga Nasional (PON) khusus penyandang disabilitas.

Emas pertamanya didapatkan tahun 2004 di Perpanas yang saat itu masih disebut Porcanas (pekan olahraga cacat nasional). Ia, saat itu tergabung dalam kontingen Jatim tingkat nasional. Prestasinya tak berhenti disitu, medali emas ia dapatkan lagi saat mengikuti Porcanas kedua pada 2008 di Kalimantan Timur. Terakhir saat di Peparnas Bandung 2016 lalu, ia mendapat medali perunggu.

Sederet prestasi yang dikumpulkannya itu perlu perjuangan panjang. Semua tidak instan. Dikumpulkan dari tingkat daerah, provinsi hingga ke tingkat nasional. Bahkan di tingkat provinsi ia menjadi salah satu pemain sepak bola penyandang disabilitas terbaik. Saat ini ia juga aktif melatih atlet senasib seperti dirinya.

“Sekarang saya aktif di pengurus provinsi NPC untuk melatih sepak bola, saya dulu juga atlet lari, tapi prestasinya lebih ke sepak bola,” tambahnya. Ia lantas menceritakan pengalaman mendaftar sebagai CPNS tahun 2009 lalu. Sebagai penyandang disabilitas, ia tetap bersaing dengan orang normal di jalur umum dan ikut tes. Sayangnya, dia belum beruntung.

Padahal waktu itu ia sudah berusia 35 tahun. Keinginn untuk aparatur sipil pemerintah itupun dipendamnya dalam-dalam, lantaran ada moratorium cukup lama. Dan setelah ada rekrutmen CPNS yang dibuka dalam waktu dekat ini ia justru tak bisa berkompetisi. Karena usianya sudah 44 tahun.

Sebenarnya, dirinya ingin mengikuti rekrutmen itu melalui jalur prestasi atlet disabilitas. Ia semakin percaya diri setelah mengetahui Menpora Imam Nahrawi menyampaikan jika peluang PNS terbuka lebar untuk atlet berprestasi. Minimal emas di tingkat nasional seperti PON, perak di SEA Games dan perunggu di Asian Games.

“Saya punya dua emas dan satu perunggu, tapi usia saya sudah 44 tahun. Bagaimana tidak tua, wong selama ini tidak ada rekrutmen CPNS,” sesalnya. Masa depannya juga mulai tertata ketika 2010 ia diangkat menjadi tenaga honorer sebagai tenaga Satpol PP di Kantor Kecamatan Mojowarno. Tak jarang ia juga diperbantukan di pelayanan kecamatan.

Meski begitu, gajinya tetap menyesuaikan tugas utama sebagai anggota Satpol PP Kecamatan Mojowarno. “Yang menggaji saya pemkab sejak SK turun 2010. Tapi apa saya begini sampai tua. Anak saya dua dan bagaimana hidup saya nanti setelah pensiun tanpa tunjangan,” keluhnya.

Amin sendiri adalah salah satu atlet penyandang cacat di Jombang. Tidak dari sejak lahir, ia mengalami kecelakaan petasan saat usia 11 tahun. Kejadian itu membuat jari tangan kirinya habis dan tersisa hanya jari kelinging saja.

“Dulu main petasan saya kira tidak bisa meledak, saya pegang eh meledak di tangan. Lalu tangan saya hancur, jari diamputasi semua. Daging-daging yang bolong ditambal menggunakan daging perut dan paha,” ceritanya.

Setelah kejadian itu hidupnya berubah. Rasa minder selalu menghantui karena kemana-mana tangan kirinya dibungkus menggunakan kaos kaki agar tak terlihat teman-temannya. Ia melakukan itu sampai SMP dengan menyembunyikan tangannya di saku celana atau jaket yang dipakai.

Bakat bermain sepak bola dirinya sudah tumbuh sejak kecil. Ia menjadi anggota klub sepak bola di desanya. Berlaga antar desa, antar kecamatan hingga main kabupaten. Pada 1993, karir sepak bolanya mulai cemerlang setelah dilirik ketua NPC Jatim yang kebetulan melihat laga di Kabupaten Mojokerto.

Rasa minder yang dulunya menyembunyikan tangan di saku pun mulai hilang setelah ia bertemu dengan teman-teman seperjuangan. Ia mensyukuri keadaannya setelah melihat semangat atlet lain yang keadaannya jauh lebih parah.

“Saya bersyukur sekali, kemana-mana tidak pernah saya sembunyikan. Bertemu dengan teman-teman senasib itu sangat menyenangkan,” pungkasnya. (JPC/MPOL/mar)

Editor : mar
Uploader : irawan
Penulis :
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU