Menangkal Virus Hedonisme dengan Hidup Bersahaja

  • 01-02-2019 / 16:02 WIB - Editor: Mahmudi
  • Uploader:irawan
Menangkal Virus Hedonisme dengan Hidup Bersahaja Ali Akbar bin Aqil, Pengajar di Pesantren Daruttauhid, Malang

GEMERLAP kehidupan dunia terkadang menyilaukan mata. Sering kali kita terjebak oleh kemilau cahaya fatamorgana dunia. Terlebih jika kita memandang dunia sebagai tujuan utama. Tentu segala cara akan kita lakukan untuk mendapatkan apa yang menurut padangan mata kita itu, indah, menawan, dan menawarkan kenyamanan.

Transaksi prostitusi online yang melibatkan puluhan artis dan model adalah bukti dari keinginan mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas tanpa peduli halal dan haramnya. Ingin mendapatkan uang dengan mudah tanpa perlu berlelah kerja dan usaha. Puluhan hingga ratusan juta rupiah mengalir deras dari aktifitas perzinaan ini.

Mengapa ada sebagian orang yang rela tubuh dan kehormatannya dijamah dengan ditukar uang? Ada yang menyebut karena tuntutan keinginan, ingin hidup mewah sementara kemampuan pas-pasan, job yang tidak selalu datang untuk bermain di sintron atau manggung, membuat sebagian orang tergiur tawaran lelaki hidung belang untuk mencicipi ‘cinta satu malam.’

Gaya hidup hedonis yang menjadikan materi sebagai objek kenikmatan satu-satunya membutakan hati. Larangan zina diterjang. Larangan bercumbu dengan yang belum halal tak lagi digubris. Yang penting keinginannya bisa terpenuhi: bisa dapat HP terbaru agar tidak membuat malu diri jika berkumpul dengan teman-temannya, bisa nonton bioskop, bisa makan makanan yang lezat dan nikmat, memakai tas, pakaian, atau sepatu keluaran terbaru yang asli bukan kawe, dan sebagainya.

Hedonisme menjadikan diri seorang manusia berburu materi, menjadikan materi di atas segalanya. Tidak ambil pusing soal benar dan salah, menjaga atau menjajakan diri. Tujuan utamanya adalah mendapatkan materi yang diinginkan. Hedonisme adalah paham yang menjadikan materi sebagai ukuran sukses dan tidaknya seseorang. Bagaimana cara mengobati penyakit hedonisme?

Suatu kali seorang sahabat meminta kepada Nabi untuk memberi amalan agar ia dicintai oleh Allah dan manusia. Nabi menjawab permintaan sahabatnya dengan bersabda, “Zuhudlah terhadap dunia, pasti Allah mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang di tangan manusia, pasti manusia pun mencintaimu.” (HR Ibnu Majah).

Zuhud, seperti diungkap oleh sebagian ulama adalah meninggalkan segala sesuatu di dunia yang tidak berguna untuk menunjang kehidupan yang sebenarnya di akhirat kelak. Orang yang ingin hidup zuhud akan berusaha mengisi kehidupannya dengan kesahajaan. Hidup zuhud tidak identik dengan hidup melarat, mengemis iba, atau berpakaian compang-camping.

Orang yang zuhud hanya mengambil sesuatu yang halal sebatas untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarganya. Ia tidak mau

KOMENTAR ANDA

Berita Terkait

REKOMENDASI

Arema Tersingkir di Kandang Sendiri

Kecewa, Pemain Arema Harus Benahi Permainan

Dua Blandong Bebas Hanya Wajib Lapor

Lima Bulan ada di Malang, Kopi Kulo Jadi Idaman

-->