Home > > Opini

Taklimtainment: Komodifikasi Agama di Layar Kaca

  • 06-06-2018 / 13:06 WIB
  • Kategori:Opini
Taklimtainment: Komodifikasi Agama di Layar Kaca

Ramadan adalah bulan mulia. Bulan dimana mayoritas muslim berlomba memperbanyak ibadah. Acara-acara pengajian (majelis taklim) digelar tidak saja di masjid-masjid, tetapi juga di surau, langgar dan mushola. Stasiun televisi juga tidak mau ketinggalan. Beragam acara keagamaan di kemas dalam berbagai rupa program yang menghibur dan pemikat pemirsa. Agama telah dijadikan komoditas bagi televisi untuk bisa dijual sebagai sarana mengeruk keuntungan dari bujuk rayu iklan di acara yang ada.

Hampir semua stasiun televisi mempunyai acara yang terkait dengan Ramadan ini. Ada yang berupa lomba ceramah agama, kompetisi da’i cilik, lomba menyanyi lagu-lagu Islami, juga pengajian majelis taklim yang dikemas di studio dan di luar ruang yang menghadirkan ustad-ustad kondang. Tidak ketinggalan dalam setiap acara juga bertabur kuis yang hadiahnya jutaan rupiah.

Beragam iklan berupa aneka produk berjubel antri menunggu giliran tayang, menyela acara yang sedang tersaji. Aneka merk sarung, baju koko, minuman, makanan, obat penjaga stamina, dan beragam produk yang terkait dengan puasa dan lebaran memenuhi slot iklan layar kaca. Saat jelang Maghrib dan waktu seputar makan sahur menjadi jam pertunjukkan padat penonton (prime time) di hampir semua stasiun televisi.

 

Logika Televisi

Acara televisi selama Ramadan dari tahun ke tahun hampir serupa. Acara selalu berulang dengan kemasan yang sama. Tidak jarang acara di kemas dengan isi yang jauh dari nilai-nilai Ramadan. Televisi seperti sekedar memanfaatkan momentum Ramadan ini untuk mendulang banyak iklan produk yang bersedia membayar pada pengelola televisi.  Ya, inilah logika televisi, karena dia adalah entitas bisnis, maka logika yang dipakai adalah bagaimana mendapat keuntungan sebanyak banyaknya.

Sebenarnya tidak ada yang salah dengan logika yang dimainkan televisi ini. Karena televisi (terutama televisi swata) adalah sebuah industri padat modal yang butuh biaya besar dalam operasionalnya. Iklan adalah sumber pendapatan utama stasiun televisi. Maka logika mendapatkan iklan sebanyak mungkin dari setiap acara yang dibuat menjadi sebuah harga mati bagi pengelola televisi.

Perilaku televisi saat Ramadan ini sah-sah saja sebagai lembaga profit. Namun hendaknya tidak ada yang jadi korban dalam praktik ini. Masyarakat luas, para penonton televisi idealnya menjadi perhatian utama. Televisi tidak bijak kalau hanya merayu dan memberi iming-iming penonton agar menonton acara, namun kemanfaatan dari acara itu justru berdampak buruk bagi pemirsa.

Logika yang idealnya dibangun oleh televisi adalah menempatkan penonton sebagai khalayak yang harus diberdayakan, diberi pendidikan dan pencerahan, agar televisi juga menjalankan fungsi sebagai media yang mencerdaskan umat. Namun beberapa stasiun televisi selama Ramadan ini terlihat lebih menjadikan Ramadan sebagai komoditas yang digunakan untuk mendatangkan dan merayu penonton.

Menurut Kuntowijoyo ada dua budaya yakni budaya masjid dan budaya pasar. Budaya masjid menggambarkan religiusitas dan jauh dari sifat foya-foya, sementara budaya pasar adalah budaya yang penuh dengan tipudaya dan lebih mementingkan materi. Televisi telah membawa menuju pada budaya pasar. Komersialisasi media telah merepresentaskan agama dalam ruang profan dan hedonis.

Logika televisi tidak bisa lepas dari sudut pandang kapitalis. Televisi menjadikan segala sesuatu sebagai materi yang layak jual, termasuk agama. Disinilah proses komodifikasi terjadi. Komodifikasi berarti merubah agama menjadi barang dagangan yang dapat dijual, membawanya ke cara transaksi dagang layaknya di pasar.

 

Agama sebagai Komoditas

Agama, atau hal-hal yang terkait dengan agama, seperti Ramadan saat ini telah menjadi sebuah komoditas. Seperti layaknya komoditas barang atau jasa, maka sebuah komoditas pasti mempunyai nilai jual yang bisa digunakan untuk mendapatkan keuntungan. Disinilah Ramadan telah dipandang sebagai komoditas dan media (televisi) telah melakukan komodifikasi atas agama.

Lihat saja acara-acara pengajian dalam kemasan majelis taklim. Acara dikemas dengan unsur hiburan yang lebih menonjol. Majelis taklim itu dikemas jadi “Taklimtainment”. Sebuah majelis taklim yang disajikan dengan balutan hiburan (entertainment) yang kental. Tidak jarang justru muatan hiburannya yang lebih kentara ketimbang esensi dakwahnya. Esensi taklim sebagai sarana pengajaran agama Islam telah terdistorsi karena unsur hiburan yang lebih mengemuka.

Tidak jarang beberapa ustad atau ustazah yang muncul sekaligus menjadi bintang iklan produk tertentu. Bahkan tak jarang busana dan beragam aksesoris yang dikenakan para penceramah itu di endorse merk tertentu.  Dalam penampilan sang penceramah dan pengisi acara lain itu bernilai promosi pada produk tertentu. Disinilah letak persoalan yang bisa bernilai negatif bagi pemirsa.

Budaya konsumerisme justru muncul dari acara-acara yang bersifat keagamaan. Terjadi situasi yang bertolak belakang (paradok) antara konten pesan-pesan dakwah keagamaan yang dituturkan para penceramah dengan pesan-pesan lain yang melekat dalam diri dan perilaku sang da’i. Di satu sisi para penceramah menganjurkan hidup sederhana dan tidak bermewah, sementara dikesempatan yang sama seperti dia menganjurkan agar masyarakat memberi produk-produk iklan yang lagi tayang.

Inilah tantangan dakwah di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang super canggih saat ini. Format dakwah di media yang ideal harus terus dicari. Jangan sampai terjadi seperti apa kata pepatah Jawa kuno yang mengatakan “Sesuk in akhire jaman, tuntunan dadi tontonan, lan tontonan dadi tuntunan”.

Mendatangi majelis taklim ke tempat-tempat ibadah memang positip. Menyaksikan acara majelis taklim lewat layar kaca juga bernilai baik. Namun untuk mencerna pesan dakwah di media perlu kedewasaan, sikap kritis dan waspada agar terhindar dari muatan negatif yang mungkin menyertai dalam majelis tersebut.

Semua pemirsa televisi hendaknya dapat memilih dan memilah mana pesan-pesan dakwah yang senada dengan nilai positif bulan puasa, dan mana pula yang harus di cerca. Maka jangan telan mentah-mentah taklimtainment yang muncul di layar kaca. Mari terus kritis dan sehat bermedia. (*)

  • Editor : Husnun
  • Uploader : irawan

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI