Home > > Opini

Memperingati Hari Pers Nasional 2019: Pers dan Ekonomi Digital

  • 11-02-2019 / 11:07 WIB
  • Kategori:Opini
Memperingati Hari Pers Nasional 2019: Pers dan Ekonomi Digital Sugeng Winarno

Peringatan Hari Pers Nasional (HPN) tahun ini dipusatkan di Surabaya. Puncak acara digelar di Grand City Surabaya pada 9 Februari 2019 yang dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo. Sekitar 25 duta besar negara-negara sahabat juga hadir dalam forum investasi dalam rangkaian acara HPN ini. Acara konvensi media juga digelar yang dihadiri para tokoh-tokoh pers tanah air. Tema HPN tahun ini adalah “Pers Menguatkan Ekonomi Kerakyatan Berbasis Digital”.

Serangkaian kegiatan telah digelar di sejumlah daerah di Jawa Timur seperti Bangkalan, Jombang, dan Jember. Anugerah Jurnalistik Adinegoro, seminar, diskusi, expert sharing, pameran, dan beberapa kegiatan sosial, seperti bedah rumah jurnalis juga telah dilakukan panitia HPN. Salah satu alasan pemilihan Jatim sebagai tuan rumah karena pertumbuhan ekonominya yang bagus, terutama di sektor UMKM. Hal ini sejalan dengan tema HPN tahun ini.

Seperti disampaikan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Rudiantara, bahwa misi Indonesia adalah untuk mencapai “Energi Digital Asia”. Saat ini Indonesia telah menjadi penyuplai industri digital mayoritas di Asia Tenggara. Indonesia sebagai tempat lahir bagi 4 dari 10 unicorn yang ada di Asia Tenggara. Lahirnya Gojek, Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak telah membangkitkan ekonomi digital level Asia.

 

Ekonomi Digital

Sejak lahirnya media baru (new media) yang berupa internet dan beragam platform media sosial memang telah merubah banyak hal. Marshall McLuhan mengatakan lahirnya new media bakal merubah cara-cara orang berkomunikasi. Kini cara orang menjalankan aktivitas ekonomi juga banyak difasilitasi oleh teknologi informasi dan komunikasi berupa internet. Melalui internet mampu memotong beragam rangkaian proses rumit perdagangan menjadi lebih gampang dan menguntungkan.

Melalui internet telah menghilangkan sekat antara produsen dan konsumen. Jarak antara keduanya menjadi sangat dekat, seperti tak berjarak. Melalui internet ekonomi digital tumbuh pesat. Proses produksi barang menjadi lebih cepat, distribusi barangpun bisa sampai ke tangan konsumen tanpa tahapan yang berbelit. Apalagi munculnya beberapa pihak yang memoderasi pertemuan antara produsen dan konsumen secara online. Aktivitas ekonomi digital terbukti lebih efektif dan efisien.

Coba lihat munculnya beragam layanan transportasi online, Gojek misalnya. Ojek online ini telah memudahkan dan membantu banyak orang. Calon penumpang, para pengemudi, juga beragam usaha kecil menengah. Sekarang banyak pelaku ekonomi, misalnya penjual makanan, minuman, kue, pakaian, kerajinan, dan berbagai industri rumahan yang menggunakan jasa Gojek untuk proses pembelian dan pengiriman barangnya. Kemunculan transportasi online ini telah memainkan multi player efek yang sangat luas.

 Ekonomi digital membuat UKM bermunculan di mana-mana. Melalui digitalisasi ekonomi kerakyatan terbukti meningkatkan lapangan pekerjaan baru. Pelaku usaha-usaha baru juga bermunculan yang menggunakan platform digital berbasis aplikasi di smartphone dan internet. Menurut data Kominfo, ada sekitar 180 juta orang yang memiliki ponsel. Melalui ponsel inilah beragam aplikasi dijalankan guna memasilitasi proses ekonomi digital berlangsung.

Menjamurnya bisnis rintisan (startup) yang banyak digerakan anak-anak muda kreatif juga sangat signifikan dalam mendongkrak pertumbuhan sektor ekonomi. Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) dibentuk guna menciptakan iklim beragam usaha kreatif agar muncul dan mempunyai nilai jual tinggi. Melalui ide, gagasan, dan tangan-tangan kreatif generasi milenial yang menghasilkan banyak industri kreatif merupakan bukti bagaimana sinergi yang tepat antara sumber daya manusia dan teknologi komunikasi untuk meningkatkan ekonomi.

 

Peran Pers

Sebenarnya apa kontribusi pers dalam laku ekonomi digital saat ini? Salah satu hal penting yang dibutuhkan dalam digitalisasi adalah data dan informasi. Ranah digital menuntut para pelakunya mampu memperlakukan data dan informasi, mampu membaca, dan mengolah data dan informasi tersebut menjadi referensi dalam membaca peluang bisnis yang ada. Disinilah pers bisa memainkan peran dalam menyajikan beragam data informasi penting dan akurat terkait berbagai hal.

Pers juga penting melakukan kritik-kritik tajam pada kebijakan-kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada perkembangan ekonomi digital ini. Sifat kritis insan pers perlu dikedepankan dalam melihat beragam regulasi yang menghambat pertumbuhan ekonomi digital. Beragam keluhan, kritik, dan saran dari pelaku usaha bisa difasilitasi pers agar didengar pemerintah. Informasi terkait harga-harga bahan pokok, pasokan bahan makanan, dan semua yang terkait ekonomi perlu terus diberitakan secara akurat. 

Dalam mendukung laju ekonomi digital, pers punya kontribusi yang sangat signifikan. Beragam data dan informasi yang disajikan pers bisa menjadi rujukan yang akurat bagi para pelaku ekonomi digital. Dalam kaitan ini insan pers dituntut mampu menyajikan produk pers yang profesional, akurat, berimbang, tidak memihak, netral, dan independen. Tanpa semua itu maka produk pers hanya akan menyesatkan dan tidak berguna bagi masyarakat.

Di era perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang terus melaju, platform media juga terus mengalami perubahan. Namun pers tidak akan berubah dari tugas utamanya dalam merawat rasa kebangsaan, memupuk persatuan, mencegah pertikaian, dan memberi manfaat bagi kepentingan masyarakat luas. Pada sisinya yang lain, pers dituntut tetap kritis dalam mengritik segala ketidakberesan secara independen dan netral. Agar mampu menjalankan peran idealnya, menjunjung profesionalisme adalah harga mati bagi insan pers.

          HPN tahun ini hendaknya juga bisa menjadi sarana otokritik bagi insan pers sendiri. Harus diakui masih ada praktik pers yang belum berjalan ideal. Media abal-abal juga masih marak beroperasi turut menyebar berita dan informasi yang belum tentu kebenarannya. Dewan Pers mencatat ada sekitar 47.000 media massa di Indonesia hingga 2018 yang terdiri dari 2.000 media cetak, 674 radio, 523 televisi nasional dan lokal, dan sisanya media daring.

Apapun platform medianya, produk pers juga harus mampu menjadi rujukan masyarakat dalam memilah berita bohong (hoax) guna menemukan yang benar. Masyarakat butuh karya jurnalisme yang berkualitas, faktual, berimbang, netral, independen dan tidak partisan. Dalam Pemilu 2019 ini, profesionalisme pers akan diuji. Semoga lolos ujian. Selamat Hari Pers Nasional!.(*)

*) Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP UMM

  • Editor : Husnun
  • Uploader : irawan
  • Penulis : ya

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI