Masuk Pesantren, Siapkan Rp 38 Juta

  • 01-05-2018 / 23:31 WIB
  • Kategori:Sekolah
Masuk Pesantren, Siapkan Rp 38 Juta Gedung Tazkia IIBS Dau dengan desain megah menjadi ikon tersendiri. (Ipunk Purwanto/Dicky Bisinglasi/Malang Post, tazkia for malang post)

Dulu, masih ada orang yang menganggap pesantren sebagai lembaga pendidikan kelas dua. Biaya murah de­ngan fasilitas apa adanya. Namun saat ini banyak orang tua rela merogoh kocek puluhan juta untuk memasukkan anak mereka ke pesantren. Nominal itu berkali lipat lebih banyak dibandingkan biaya masuk ke SMA negeri maupun swasta. 


Untuk masuk ke Al Izzah IIBS Kota Batu misalnya, biaya masuk tembus  Rp 33,850 juta hingga Rp 35,850 juta tergantung nominal infaq yang dipilih,  dengan SPP per bulan Rp 2,3 juta. Sementara orang tua harus menyiapkan uang lebih banyak bila ingin anaknya menjadi santri Tazkia IIBS, yaitu Rp 38.020.000, dengan biaya SPP per bulan sebesar Rp 2,645 juta. Biaya besar nyatanya tidak menciutkan calon wali santri, bahkan mereka tetap berbondong-bondong menyekolahkan anaknya di pesantren. Bahkan orang tua harus inden bila ingin memasukkan anaknya ke Tazkia. 

Direktur Mahad IIBS Tazkia, Muhammad Rajab, M.PdI mengatakan, biasanya calon santri tingkat SMP dapat mendaftar mulai kelas 3 SD, sama halnya calon santri tingkat SMA dapat mendaftar mulai kelas VII SMP. Tujuan sistem ini untuk menyiapkan calon santri berkualitas sebelum masuk Tazkia sekaligus menjadi partner orang tua dalam mempersiapkan pendidikan anak sejak dini. 

“Setiap tahun disiapkan 40 santri putra dan 72 santri putri lewat pass priority ini. Keuntungannya, mendapat potongan biaya DPP normal regular. Khusus calon santri SMP akan diterima 100 persen tanpa tes sekaligus fasilitas pembinaan gratis selama proses pembelajaran,” ungkap 

Biaya masuk Tazkia memang mahal, namun angka itu sebanding dengan fasilitas yang ditawarkan dan prestasi yang mampu diraih santri atau santriwati. Humas Tazkia IIBS Abdul Jalil Mursyid mengatakan, asrama dilengkapi dengan kamar, kamar mandi, laboratorium, UKS, kelas, open class, gazebo, tempat olahraga, area memanah, wall climbing, hingga aula besar TICH (Tazkia International Conference Hall).

Tazkia, lanjutnya, juga memberikan beasiswa penuh kepada santri berprestasi, yatim, dan dhuafa sebanyak 10 persen dari total penerimaan santri baru. Tingginya peminat yang ingin bergabung dengan Tazkia IIBS membuat pihaknya menerapkan jalur pendaftaran peserta didik baru (PPDB) melalui sistem pass priority atau inden.

Pertengahan April lalu, publik Malang dibuat bangga dengan prestasi empat santriwati Tazkia IIBS yang memenangi lomba debat Bahasa Arab di Qatar. Lewat prestasi tersebut, masyarakat makin terbuka dengan keberadaan pesantren. Prestasi itu, juga menjadi bukti hasil pendidikan Tazkia yang menerapkan sistem pesantren unggul dan berstandar internasional. Dengan sistem manajemen berbasis ISO, membuat pesantren ini terlihat semakin modern dalam mengikuti perkembangan pendidikan.

Tazkia mengikuti perkembangan teknologi dan kurikulum melalui proses kegiatan pembelajarannya. Menerapkan sistem yang ada pada pesantren salaf (tradisional) dan mengintegrasikan sistem pesantren modern.  “Mempertahankan kaidah ushul fiqih dengan menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik,” kata Muhammad Rajab. 

Selain masih mengaji kitab kuning, di lingkungan IIBS Tazkia memiliki adab ta’dib. Ketika bertemu guru harus sopan dan mencium tangan. “Sedangkan untuk sistem modern dari segi manajemen dan kurikulum,” ungkapnya.

IIBS Tazkia berstandar internasional dengan menerapkan kurikulum holistik dan seimbang. Kurikulum tersebut meliputi kurikulum Alquran, Islamic Foundation, Nasional (Dinas Pendidikan), bahasa berupa Bahasa Arab dan Inggris, dan life skill. Selain itu dilengkapi kurikulum internasional yakni Kurikulum Cambridge. 

“Selama empat tahun berjalan, kami sudah menerapkan Kurikulum Cambridge. Untuk kurikulum diniyah dari Al Azhar akan diterapkan pada tahun ajaran baru nanti. Seluruh kurikulum bersifat penting, kami menata sistem yang terintegrasi (perpaduan). Jadi, penerapan saat pembelajaran di kelas langsung dipadukan dari beberapa kurikulum tersebut. Seperti pembelajaran dengan kurikulum nasional dan Cambridge jadi satu yang padu,” paparnya.   

Dia menambahkan, 30 sampai 40 persen SDM pengajar Tazkia merupakan S1, S2, dan S3 lulusan luar negeri mulai dari Kairo, Riyadh, Maroko, Tunisia, Sudan, Malaysia, Yaman, hingga Inggris. Untuk native speaker dari luar negeri sejumlah 4 orang. “Rinciannya, 3 orang untuk pembelajaran Bahasa Arab dan satu orang untuk pembelajaran Bahasa Inggris yang merupakan lulusan dari Libya,” bebernya.

Santri Tazkia IIBS merupakan siswa pilihan yang telah lolos seleksi. Mulai dari tes akademik, Alquran (kemampuan menghafal Alquran), tes kesehatan, psikotes, tes calon santri dan calon wali santri. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia  bahkan luar negeri. “Dari luar negeri yakni dari Thailand, Australia dan Qatar,” jelasnya Muhammad Rajab. 

 

Santri SMP Hafal 13 Juz
 

Sementara itu, Humas dan Sekretariat SMP/SMA Al Izzah IIBS Kota Batu, Muhammad Mahfudz Irwan, S.S mengatakan, pihaknya menerapkan sistem pendidikan yang memprioritaskan akhlak sebagai yang utama. Baik proses pendidikan, pembelajaran, pembinaan dan pembiasaan.

“Untuk mewujudkan hal itu, kami memiliki program yang berbeda. Untuk SMP kami  menerapkan kurikulum nasional atau K13, kurikulum pesantren, kurikulum Cambridge dan Hafalan Alquran 7-13 Juz,” papar Mahfudz kepada Malang Post.

Sedangkan untuk SMA juga sama. Hanya saja yang membedakan adalah program TOEFL, program suskses masuk PTN dan hafal Alquran 15 Juz. Dari program yang ditawarkan tersebut, siswa berhak memilih sebelumnya dengan mengikuti test terlebih dahulu.”Setelah mengetahui hasil dan kemampuan akan dipisahkan sesuai kelasnya,” jelasnya. 

Ia menguraikan, untuk hasil pengajaran maksimal setiap kelasnya diisi maksimal 32 siswa. Dengan jumlah 388 siswa SMP dan 292 siswa SMA.  Tak berbeda dengan kualifiskasi pengajarnya. SMP dan SMA Al Izzah saat ini memiliki tenaga pengajar dengan latar belakang pendidikan S1 dari berbagai perguruan tinggi negeri dan pondok pesantren. Di antaranya Lirboyo, Al Amin hingga Gontor.

Dengan sitem pengajaran hingga kurikulum yang terapakan, Al Izzah mampu menghasilkan  banyak prestasi. Mulai dari tingkat provinsi, nasional hingga internasional. Sedangkan untuk tingkat SMP,selain prestasi akademik sebanyak 80 persen santri lolos seleksi kampus favorit pada 2017. “Tidak hanya itu, ada beberapa dari santri kami yang melanjutkan kuliah di luar negeri seperti Al Azhar Mesir sebanyak lima orang,” imbuhnya.

Dengan berbagai prestasi yang diraih para santri dari SMP dan SMA Al Izzah secara tidak langsung berpondasi dari tradisi yang dibangun setiap harinya. Karena dalam pengembangannya, sekolah sekaligus pesantren ini menerapkan Tri Dharma Pondok pesantren. Yaitu pembinaan keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT, pengembangan keilmuan dan keahlian yang bermanfaat serta pengabdian pada agama, masyarakat dan negara. (mg3/eri/van/han) 

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Darah Korban Sempat Muncrat, Sugeng Ternyata Berbohong

Lulus, Minimal Siswa Hafal 3 Juz

Mantapkan Metode Experiential Learning

RPH Siapkan 20 Sapi Jelang Lebaran

Sutiaji: Singkirkan Kebencian dan Berita Bohong

VIDEO