Dekan FKIK UIN Maliki Prof Dr Bambang Pardjianto: Saya Akan Mengabdi Hingga Akhir Hayat

  • 15-02-2019 / 20:28 WIB
  • Kategori:Kampus
Dekan FKIK UIN Maliki Prof Dr Bambang Pardjianto: Saya Akan Mengabdi Hingga Akhir Hayat Foto: Istimewa

DEKAN Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang Prof. Dr. dr. Bambang Pardjianto, Sp.B.,Sp.BP-RE(K) merupakan salah satu Dokter bedah plastik pelopor dan senior di Malang. Di usia 75 tahun, ia masih terus eksis baik itu di bidang Pendidikan Kedokteran maupun secara keilmuan praktis hingga saat ini.

“Saya akan terus mengabdi di bidang ini hingga akhir hayat,” ujar pria yang akan berulang tahun 17 Februari, besok.

Jabatan Dekan di FKIK UIN Maliki diembannya pada 2017 lalu, ketika usianya menginjak 73 tahun. Ketika ditanya alasannya masih terus berkarir meski sudah menginjak usia lanjut, menurutnya ia sudah terbiasa beraktivitas penuh sejak dulu.

“Karena rutinitas sebagai dokter sudah melekat pada diri saya sejak muda, jadi saya tidak terbiasa kalau hanya untuk diam di rumah,” ungkap suami dari Dr. R.A.Y Siti Lintang Kawuryan Sp.A tersebut.

Sejak dulu, Bambang telah menaruh minat besar di bidang bedah plastik, itulah yang mendorongnya untuk menggeluti bidang Bedah Plastik, hingga meraih gelar Guru Besar di Universitas Brawijaya pada tahun 2008.

“Ketika itu masih belum banyak Dokter yang mengambil bidang bedah plastik, karena masa itu memang masih banyak kendalanya, saya saja mempelajari itu harus ke UI,” terang pria yang gemar menikmati keindahan alam itu.

Ia menyampaikan bahwa bedah plastik terbagi menjadi dua bagian, yaitu bedah plastik estetik (kecantikan) dan bedah plastik rekonstruksi (memperbaiki cacat bawaan dan akibat kecelakaan). Bedah plastik rekonstruksi lebih cenderung sering  dilakukan. Namun bedah plastik estetik juga tak kalah sering ia lakukan. Menurutnya bedah plastik estetik yang sering ia tangani adalah pada bagian hidung dan mata

“Saya lebih cenderung menangani bedah plastik rekonstruksi, umumnya dialami oleh korban kecelakaan ekstrem,” jelasnya.

Setelah puluhan tahun malang melintang pada bidang Bedah Plastik berbagai kasus pasien telah ia tangani. Namun ketika ditanya mengenai kasus terumit dan tersulit, menurutnya semuanya rumit dan sulit.

“Untuk bedah plastik semuanya rumit dan butuh ketelitian tinggi baik itu yang rekonstruksi maupun estetik,” ungkap pria yang juga gemar minum kopi tersebut.

Pria kelahiran Blitar yang gemar makan rawon ini juga menyampaikan bahwa menjadi seorang Dokter menjadi kebahagiaan tersendiri baginya. Sisi humanis dari Profesi Dokter yang membuatnya tekun menggeluti salah satu bidang yang cukup rumit di bidang Kedokteran.

Di lain sisi, kiprahnya di bidang Pendidikan Kedokteran juga menjadi pengabdiannya pada bidang keahliannya. Menularkan ilmunya ke sesama Dosen dan para mahasiswa, telah menjadi amanah yang selalu ia pertanggungjawabkan dengan baik.

Di sela-sela rutinitasnya setiap hari ia selalu meluangkan waktu berdua dengan sang Istri yang juga seorang Dokter. Bersama sang istri ia mendirikan sebuah lingkungan hijau nan asri terdiri dari banyak pepohonan, danau buatan, kolam renang, serta rumah panggung unik yang juga berfungsi sebagai sebuah penginapan di Kota Batu.

Saat sedang penat dengan berbagai aktivitas baik itu sebagai Dokter maupun sebagai Dosen ia akan menghabiskan waktu di tempat tersebut. Baru sekitar dua tahun lalu, lingkungan tersebut mulai dikelola secara serius sekitar dua tahun yang lalu.

“Semua desain dari lingkungan tersebut saya sendiri yang mengkreasikan, mulai dari desain penataan hingga desain pembangunan, saya senang melakukan itu,” imbuhnya.

Kesibukan yang tiada henti terkadang membuatnya hanya tidur lima jam dalam sehari. Untuk tetap menjaga kebugaran tubuhnya, setiap pagi ia rutin melakukan senam di depan rumahnya dan juga menggunakan sepeda statis. Namun menurutnya untuk tetap menjaga kebugaran tidak cukup dengan hanya berolah raga, tapi juga harus positif dalam kondisi apa pun.

“Sesibuk apa pun aktivitas yang saya jalani, semuanya akan berlalu dengan baik jika dijalani dengan positif, saya juga jadi tidak merasa terlalu lelah,” ungkap pria yang gemar menonton pertandingan klub-klub Inggris tersebut.

Prof Dr dr Bambang Pardjianto SpB SpBP(K) menyelesaikan pendidikan dasar di Surabaya dan sekolah menengah di Semarang. Dokter lulusan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (1974) ini, memperoleh spesialis bedah di Universitas Airlangga (1986), dan spesialis bedah plastik di Universitas Indonesia (1991), meraih gelar doktor dalam ilmu kedokteran di Universitas Airlangga (2005), dan pada 2007 ditetapkan sebagai konsultan bedah plastik oleh Kolegium Bedah Plastik. Saat ini Prof Bambang Pardjianto menjabat sebagai kepala SMF Bedah Plastik Rekonstruksi RSU Dr Saiful Anwar. Mengawali karir sebagai tenaga pengajar dengan jabatan asisten ahli madya sejak 1976, Prof Bambang Pardjianto pernah mendapatkan piagam penghargaan dari Departemen Kesehatan RI Kantor Wilayah Propinsi Timor Timur pada 1991, dan Satyalancana Karya Satya 20 tahun pada 2004. Sepanjang karirnya Bambang telah menghasilkan banyak karya ilmiah. (mg3/oci)

Editor : oci
Uploader : irawan
Penulis : asa
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU