Hijrah ke Ekonomi Islam Sebagai Implementasi Takwa

  • 17-02-2019 / 11:39 WIB
  • Kategori:Mimbar Jumat
Hijrah ke Ekonomi Islam Sebagai Implementasi Takwa

Oleh Zakaria Subiantoro, SE, MH,

Anggota CMM Kota Malang,  Anggota FORDEIS ( Forum Daí Ekonomi Islam ) MUI – Jatim, Anggota Dewan Masjid Indonesia, Kota Malang

 

IMAM SYAFI’I :

Jika ALLAH tidak menurunkan surat lain selain surat ini .. surat ini sudah cukup menjadi petunjuk bagi kehidupan manusia.Yaitu Surat ke103 : AL 'ASHR (MASA)

1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Allah mendifinisikan masa / waktu, terdapat pada QS.Al-Mulk ayat 2 : Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.

Dari surat ke 103 (al-Ashr) dan ayat 2 surat ke 67 (al-Mulk) diatas, sudah dapat kita ambil sebuah penegasan, bahwa Waktu yang dimaksud adalah Kehidupan itu sendiri.

Seiring dengan perjalanan hidup kita, hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun terus sampai detik kita baca tulisan ini. Dan sudah berapa kali kita mengikuti salat Jumát, dimana setiap khotib senantiasa mengajak kita semua untuk meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT. yaitu dengan meninggalkan seluruh yang dilarang dan menjalankan seluruh apa saja yang diperintahkan.

Pertanyaannya, minimal dari Jumát pekan kemarin sampai dengan Jumát hari ini, bagaimana kondisi taqwa kita. Apakah benar Meningkat, Sama saja atau bahkan mengalami Penurunan ?

 

Mari kita instropeksi diri (muhasabah) tingkat ketaqwaan kita kepada Allah SWT dimana dalam kesempatan ini kita tinjau dari sisi ekonomi. Mengapa ? Karena selama ini sebagian besar kita mengenal halal dan haram hanya pada makanan dan minuman saja. Sedangkan sejak bangun tidur sampai tidur kembali, sebagian besar aktivitas kita adalah aktivitas ekonomi, baik dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumtif, produktif maupun distributif.

 

Diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud ra, dalam hadits tersebut  Rasulullah .SAW, bersabda : “ Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari Kiamat dari sisi RabbNya, hingga ia ditanya tentang 5 perkara (yaitu) :  Tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan serta apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya” (HR.at-Tirmidzi no.2416, at-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 Hadits no.9772 dan hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh Albani dalam silsilah al-Hadits ash-Ashahihah no.946)

Dari hadits tersebut, ada 4 kelompok besar hal-hal yang Allah SWT tanyakan kepada kita pada hari kiamat nanti :

  1. Umur kita, dengan satu pertanyaan : dihabiskan untuk apa ?
  2. Masa Muda kita, satu pertanyaan juga : untuk apa ia gunakan ?
  3. Ilmu yang kita miliki, juga satu pertanyaan : Amalan apa saja yang telah dilakukan dengan ilmu tsb.

Ketiga-tiganya hanya dengan 1(satu) pertanyaan saja.

Akan tetapi, mari kita cermati terkait dengan yang ke 4(empat) yang tentunya ini hasil dari aktivitas ekonomi yang kita lakukan, yaitu :       

  1. HARTA kita, ditanyakan 2(dua) pertanyaan : Dari mana ia dapatkan ? Dan dalam hal apa Dibelanjakan  ?

Pertanyaan satu saja, saya kira kita pasti sudah kelabakan ( ingat waktu itu kita tidak usah repot-repot mengingat-ingat, tapi semua anggota tubuh kita bicara sendiri-sendiri ).

Apalagi ditanya 2(dua) pertanyaan ? Tapi kita sering abai dan acuh tak acuh, bahkan diantara kita terlibat menuding-nuding bahwa sistem  syariáh itu “podho ae” (sama saja). Luar Biasa kan ? Coba kita baca yang ada di ayat ke 29 surat an-Nissa ini, apa yang bisa kita ambil pelajaran : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil,

Ada beberapa contoh, semoga bisa menjadi bahan muhasabah dan menjadi inspirasi untuk melakukan perubahan / hijrah dalam beraktivitas ekonomi kita sesuai yang diharapkan oleh Al-Qurán dan as-Sunnah.

  1. Sebagai pembeli, perbedaan yang sangat mencolok saat kita beli di toko-toko besar (swalayan) dengan saat kita ke pasar tradisional atau bahkan pedagang sayur keliling (mlijo).

Di swalayan (kita ambil barang-barang kebutuhan kita) kemudian datang ke kasir untuk bayar sesuai totalnya dan tidak terlalu mengurus jika ada kembalian receh untuk didonasikan sesuai keinginan swalayan tersebut.

Di Pasar Tradisional atau Mlijo : Jujur .. kebanyakan kita nawarnya luar biasa, jika sudah disepakati masih minta tambah (bahasa jawa : imbuh)

 

  1. Sebagai penjual, misal kita jual mobil bekas kita… sebagian besar kita masih menutupi cacat dari mobil tersebut. Jika laku tinggi kita pasti info kepada keluarga kita dan berucap Alhamdulillah mobil kita laku tinggi (tinggal menambahkan hasil dari mengelabuhi saudara kita/pembeli).

 

  1. Transaksi  bisnis/konsumtif untuk memenuhi kebutuhan apa saja yang tidak secara tunai, maka antara yang membutuhkan dengan yang memiliki dana (baik antar perorangan maupun dengan lembaga keuangan) maka masih banyak diantara kita dalam rangka memenuhi kebutuhan dimaksud memakai transaksi pinjam meminjam uang dengan bunga (tergolong tidak adil).

 

Dari 3(tiga) contoh di atas berupa garis besar perilaku ekonomi kita, bisa ditarik kesimpulan bahwa Sistem Ekonomi Kapitalis yang ada dimasyarakat berlaku hukum ekonomi “Siapa yang Kuat (Modalnya) dialah yang Menang” dan yang “Kaya semakin Kaya, yang Miskin tidak akan pernah bangkit dari kemiskinannya”, serta bisa berakibat bagi kita semua “Menghalalkan segala cara untuk meraih kemenangan ekonomi”.

Sebagai penutup dari tulisan singkat ini, marilah kita semua (khususnya kaum Muslimin) dari sisa umur ini, kita niatkan untuk hijrah ekonomi yaitu dari sistem ekonomi kapitalis beralih kepada sistem ekonomi Islam / ekonomi berbasis Syariáh. Inilah salah satu cara kita untuk meningkatkan ketaqwakan kepada Allah SWT dengan taqwa yang sebenar-benar taqwa yaitu dengan meninggalkan seluruh larangan-Nya dan menjalankan seluruh perintah-Nya.

Sebuah sistim ekonomi yang berprinsip “ Mencari keuntungan dengan cara-cara yang adil untuk mencapai keberkahan bersama, baik didunia maupun diakherat “.

Rumah kita yang sebenarnya bukan disini (dunia) tapi ada diakherat, untuk kembali kerumah kita hanya dengan satu cara yaitu dengan menjalankan syariát-Nya. Termasuk bidang ekonomi.

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

  • Editor : bua
  • Uploader : slatem
  • Penulis : IST

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Sepasang Kekasih Kompak Mencuri Motor

Membunuh Korban Karena Kepergok Mencuri Jagung

Terapkan Sapta Pesona Untuk Menyambut Libur Lebaran

Fried Calamari, Camilan Renyah saat Berbuka Puasa

Wali Kota Malang Dukung Perbaikan PDAM

VIDEO