Mata Najwa

  • 21-02-2019 / 13:05 WIB
  • Kategori:Catatan
Mata Najwa

Sepakbola Indonesia
Dikelola secara barbar

Para penjahat leluasa
Mengatur si kulit bundar

Dari atas sampai bawah
Dikendalikan para mafia

Siapa menang kalah
Sudah diketahui mereka

Orang-orang baik
Terpaksa bekerjasama

Agar tidak binasa
Dengan begitu saja

Kebusukan sudah mengakar
Hingga tulang sumsum

Semua level kompetisi
Layak disebut mesum

Ketika suporter saling bantai
Berkalang nyawa

Para elit bola tertawa
Mengatur seenaknya

Nyaris tak ada lagi
Orang yang bisa kita percaya

Serendah itu sekarang
Moral sepakbola Indonesia

KLB harus mengganti
Orang-orang lama

Agar sepakbola tak lagi
Dikangkangi durjana

Demikian pesan mendalam yang disampaikan Najwa Shihab. Tuan rumah acara Mata Najwa di Trans7. 

Dari awal sampai akhir acara, puisi ini bagian yang menarik saya tunggu. Bagaimana pandangan seorang Najwa Shihab pada sebuah kasus. 

Khususnya terkait kisruh sepakbola Indonesia. Sudah memasuki jilid 4.

PSSI Bisa Apa Jilid 4:
Darurat Sepakbola Indonesia.
Rabu (20/2) tadi malam.

Acara yang dulu di MetroTV ini memang luar biasa. Saya pernah hadir langsung dalam Mata Najwa on Campus. Beberapa waktu lalu.

Kebetulan Mata Najwa ada kerjasama publikasi dengan Malang Post. Beberapa kali hadir di Malang. Selalu berhasil menghadirkan keseruan. 

Termasuk yang Rabu (20/2) malam. Cukup seru. Mulai jilid 1 hingga jilid 4. PSSI dibongkar. Mafia bola dihabisi.

Bahkan terbentuknya Satgas Anti Mafia Polri, sepertinya ada peran Mata Najwa. Dalam dua bulan ini, Satgas bekerja sudah menetapkan 15 tersangka. Terkait mafia bola.

Termasuk Joko Driyono jadi tersangka ke-15. Meski statusnya belum disebutkan terkait langsung dengan pengaturan hasil Liga 2 dan Liga 3. Jokdri masih dalam proses penyidikan. 

Jika Satgas Anti Mafia sudah bekerja dua bulan terakhir ini, maka Mata Najwa dengan tema PSSI Bisa Apa, jilid 1 sudah mulai tiga bulan lalu. 

Jilid 4 ada kemajuan. Bukan hanya pengaturan hasil laga Liga 2 dan 3 saja, kini mulai menyebut Liga 1 tahun 2018 kemarin. 

Narasumber Mata Najwa membeberkan adanya pengaturan hasil Liga 1. Gaya wawancara Najwa mampu mengorek informasi dari seorang perangkat pertandingan.

Mungkin terhipnotis dengan tatapan Mata Najwa, semua dibongkarnya. Terlepas perlu ada pembuktian lebih lanjut, Najwa secara eksklusif mendapatkan informasi penting terkait sepakbola Indonesia. Khususnya Liga 1.

Meski bagi sebagian orang, informasi tersebut adalah hal yang memang sering terjadi. Mungkin dianggap hal biasa. Tapi ini bisa jadi pintu Satgas Anti Mafia untuk masuk lebih dalam di level teratas. 

Saya mengikutinya. Bahkan harus melihat ulang di youtube. Tersebut nama tim Persija. Kaitannya dengan penyidikan Jokdri. Lalu Bali United, Borneo FC dan beberapa tim Liga 1 lainnya. Termasuk Arema.

Tim Arema dan nama IB disebut-sebut terlibat dalam pengaturan hasil pertandingan. Singo Edan disebutkan minta menang. 

Narasumber Mata Najwa itu mengungkap ada dua laga Arema. Liga 1, Arema lawan Borneo FC dan Piala Presiden, Arema lawan Bhayangkara FC. 

Ada peran IB yang disebutkan si narasumber. Bahkan IB disebut juga ikut menentukan hasil Liga 2. 

Rasanya semua sudah tahu, siapa inisial IB ini. Anggota Exco yang kini menjabat sebagai pelaksana tugas Ketua Umum, menggantikan Jokdri. 

Berdasar azas praduga tak bersalah, semua itu masih perlu pembuktian. Termasuk kasus pengaturan skor yang sekarang mulai mengarah pada hasil Liga 1. 

Layak ditunggu langkah Satgas Anti Mafia. Apakah hanya Liga 2 dan 3 saja? Atau lanjut Liga 1? Mata Najwa telah memulainya. 

Presiden Jokowi pun telah memberi lampu hijau. Terkait mafia bola. Untuk semua level kompetisi. 

"Habisi". Demikian satu kata yang disampaikan Presiden Jokowi kepada Maruarar Sirait, Pembina PSSI. Mengaku bertemu Presiden sore hari sebelum acara Mata Najwa.

Menghabisi mafia bola Indonesia, sama halnya menghabisi PSSI. Ini pendapat saya. 

Mengingat semua level kompetisi sudah terindikasi ada pengaturan hasil pertandingan. Seperti disampaikan Mbah Putih alias Dwi Irianto, yang juga nara sumber Mata Najwa.

Menurutnya semua sepakbola. Tidak hanya pada level tertentu. Artinya semua diatur. Lantaran rata-rata, wasit yang akan bertugas, telah mendapat 'servis'. 

Mengutip kalimat Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali dalam kesempatan itu, untuk membersihkan kolam yang kotor, tidak hanya ikannya yang diangkat, airnya juga habis. Dihabisi!

Meski juga tidak akan semudah itu. Menghabisi PSSI atau istilahnya menginstal ulang PSSI. Lantaran mekanisme, atau aturan PSSI rasanya sudah dibuat sedemikian rupa. Diinstal beberapa kali, virusnya tetap ada.

Perlu dingat, pemegang hak suara di PSSI itu banyak. Selain klub-klub, juga ada Asosiasi Provinsi (Asprov). Kalaulah virus itu bisa menular, apa mereka para voters ini juga tidak terjangkiti virus yang sama? Atau justru mereka yang membawa virusnya ke PSSI?

Seperti disebutkan Mbah Putih, justru klub-klub itu yang minta dibantu. Mereka minta tolong untuk diatur hasil pertandingannya. Nah, makin rumit.

Misal semua klub juga terindikasi 'bermain' dalam urusan mafia bola ini, apakah mereka juga harus dihabisi?
Termasuk Asprov yang ikut menentukan pilihan Ketua Umum dan Exco, bakal sangat panjang urusannya. Perlu Mata Najwa berjilid-jilid.

Untuk klub, rasanya mereka bermain pengaturan tidak hanya untuk menjadi juara. Bisa untuk menyelamatkan diri dari degradasi. Atau ingin naik ke kasta lebih tinggi. 

Bahkan, bisa jadi untuk menyenangkan suporternya. Rela harus 'beli pertandingan'. Apalagi dengan karakter suporter yang mudah emosi, inginnya menang terus, pihak klub akan berusaha dengan segala cara untuk menang. 

Maka terjadilah permainan sepakbola yang diatur-atur ini. Meski juga tidak semuanya berhasil sesuai harapan.

Dalam hasil akhir pertandingan sepakbola, ada urusan teknis dan non teknis. Artinya, meski sudah atur wasit agar bisa menang, jika permainan secara teknis kalah, tetap saja kalah. 

Seperti disebutkan oleh Andi Darussalam, mantan Ketua Badan Liga Indonesia, pada Mata Najwa, PSSI Bisa Apa Jilid 3, tidak mudah untuk atur hasil pertandingan.

Menurutnya saat itu banyak klub yang meminta tolong untuk bisa atur hasil pertandingan. Andi mengaku sulit. Tapi bukan berarti tidak bisa.

Mata Najwa menyebutkan, sekarang ini wasit sudah lebih canggih. Bisa dalam waktu 90 menit, atau cukup dalam waktu 1 menit. Bisa menentukan hasil pertandingan sesuai pesanan.

Pesanan tim yang membutuhkan. Tidak hanya Liga 3 atau Liga 2, Liga 1 rasanya tinggal tunggu waktu. Mungkin di PSSI Bisa Apa Jilid 5. Lebih terbongkar lagi. 

Menarik ditunggu. Bagaimana kelanjutan dari PSSI yang sudah mengagendakan KLB, Kongres Luar Biasa. 

Apakah memungkinkan untuk memotong satu generasi PSSI, seperti disebutkan Mata Najwa. 

Memotong satu generasi, mengganti seluruh pengurus lama, dengan pengurus baru. Menurut Najwa, KLB bisa dimanfaatkan untuk menentukan Ketua Umum baru yang mumpuni. Lalu menyusun kepengurusan baru, yang bersih.

Siapakah yang layak sebagai Ketua Umum PSSI, pasca dihabisi. Apakah Najwa Shihab? "Saya tidak mau," ungkap Najwa tampak tersipu-sipu, saat Maruarar Sirait menyebut Najwa Shihab bisa jadi kandidat Ketua Umum PSSI. 

Najwa mungkin sudah berhitung, beratnya jadi Ketua Umum PSSI. Jenderal sekelas Edi Rahmayadi akhirnya memilih mundur. Atau Najwa berpikir, mafia bola di PSSI tidak akan pernah bisa dihabisi. Dia khawatir justru terkena virus mafia. (*).

  • Editor : bua
  • Uploader : slatem
  • Penulis : buari

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Curi Burung Parkit, Remaja Ngajum Ditangkap

Pembobol SMP An-Nur 2 Bululawang Tertangkap

Terapkan Sapta Pesona Untuk Menyambut Libur Lebaran

Fried Calamari, Camilan Renyah saat Berbuka Puasa

Lulus, Minimal Siswa Hafal 3 Juz

Mantapkan Metode Experiential Learning

Daftar Sekolah Dekat Rumah, Antre Mulai Subuh

VIDEO