Tribun Berdiri

  • 22-02-2019 / 11:27 WIB
  • Kategori:Catatan
Tribun Berdiri istimewa

Apakah menguntungkan? Leg kedua sebagai tuan rumah. Dalam format home away, babak 16 Besar Piala Indonesia 2019.

Sore ini, Arema FC menjamu Persib Bandung di Stadion Kanjuruhan, Kepanjen. Pertemuan kedua. 

Setelah Arema bertamu ke Bandung, beberapa hari lalu. Singo edan raih hasil imbang 1-1. Modal berharga. 

Setidaknya daripada kalah di leg pertama itu. Makan Konate dkk hanya butuh hasil imbang 0-0 sudah pasti lolos ke babak 8 besar. Penting tidak kalah. 

Apalagi menang. Lebih meyakinkan. Meski tidak akan mudah. Sekalipun hanya untuk menjaga hasil laga tetap 0-0.

Faktor lawan. Persib tak sama dengan Timnas U-22 yang bisa menahan Arema imbang 1-1 di Stadion Kanjuruhan. Juga beda jauh kelasnya dengan Persita.

Bukannya Arema berhasil mengimbangi Persib 1-1 di Bandung? Oke. Itu adalah pertemuan pertama kedua tim, dalam komposisi yang baru. Musim 2019 ini.

Pelatih kedua tim, dan sebagian pemain dua tim ini baru. Mereka saling membaca. Kini, masing-masing sudah punya gambaran kekuatan. Sekaligus kelemahan.

Hadirnya Pavel, gelandang asing ini akan memperkuat Arema di lini tengah. Persib juga bakal makin tajam dengan bergabungnya N'Douassel, striker asing yang absen di leg pertama.

Secara komposisi pemain, serta dengan pelatih asing, dua tim ini relatif imbang.

Nah, jika nanti berakhir imbang 1-1, bakal ada perpanjangan waktu atau adu penalti. Namun jika imbangnya 2-2 atau diatasnya, maka Persib yang lolos dengan produktifitas gol away lebih bagus. 

Untuk itu, Arema memilih untuk menang. Berapa pun gol tercipta untuk menang. Harus buka banyak peluang, tampil menyerang. 

Tapi jangan over confident. Di atas kertas maupun di atas lapangan, tim tamu juga punya peluang sama untuk menang. Ya, Persib tak bisa dianggap remeh. Meski mereka bermain di luar kandang. 

Menurut saya, mereka punya mental tandang yang bagus. Lihat saja, catatan musim lalu. Mereka banyak bermain di luar kandang. Maklum, ada sanksi PSSI yang membuat mereka terusir dari Bandung.

Jadi, jangan menganggap Arema sangat diuntungkan bermain di kandang. Menurut saya justru sebaliknya. Harus ekstra waspada. 

Ini bukan kompetisi Liga 1, yang masih punya kesempatan di laga yang lain. Laga nanti sore adalah penentuan. Lolos atau tidak. Menang atau pecundang. 

Seperti laga final, selalu menghadirkan ketegangan yang berbeda dibanding laga reguler.

Lalu dengan keuntungan hadirnya ribuan Aremania sebagai pemain ke-12? Ya, mereka bakal menguntungkan Arema. Khususnya dari sisi keuangan. Banyak pemasukan. 

Bagi pemain, tentu juga jadi keuntungan. Agar lebih termotivasi. Meski juga perlu diingat, catatan musim lalu. 

Arema lepas dari zona degradasi, dengan 'terbantu' laga hukuman tanpa penonton. Entah analisa ini benar atau tidak, faktanya hasil positif di kandang, diraih saat tanpa penonton.

Justru laga sebelumnya, terutama saat bigmatch dengan Aremania memadati Kanjuruhan, hasilnya tak memuaskan. Ini faktor mental pemain. 

Bisa saja terulang, saat menghadapi Persib. Jika pemain Arema justru merasa tertekan. Target menang di depan ribuan Aremania. 

Semoga Hamka Hamzah dkk bisa memaksimalkan dukungan Aremania.
Sekaligus membuktikan, mereka tidak terpengaruh isu pengaturan skor musim lalu. 

Tetap fokus untuk menang. Menang secara meyakinkan. Tanpa embel-embel bantuan dari wasit. 

Kalah pun juga harus siap. Termasuk Aremania harus siap menerima semua kenyataan yang terjadi di lapangan. Bahkan saat melihat 'aksi drama' sang pengadil atau pemain lawan.

Jangan pernah terpancing (lagi). Cukuplah tragedi gas air mata, terjadi musim lalu usai Arema ditahan imbang Persib di Liga 1. 

Aremania harus bisa tunjukkan, sudah berubah. Sudah lebih baik. Seperti keinginan Hamka, agar Aremania bisa membalas jamuan yang baik oleh Bobotoh dan Viking di Stadion Jalak Harupat, Bandung. 

Bisa berdamai, tanpa ada upaya saling memancing emosi. Meski pemain Arema dan Persib sama-sama harus naik rantis ke stadion, hanya antisipasi dari gangguan oknum tak bertanggung jawab.

Aremania bisa jadi contoh, suporter penuh aksi dan kreasi dalam mendukung Arema. Tidak ada lagi nyanyian anjing. 

Aremania diminta tidak perlu nekat datang ke stadion Kanjuruhan jika tak memiliki tiket. Nonton TV saja. Biarlah calo tiket ngaplo di luar stadion. 

Panpel menghimbau Aremania agar tidak membeli tiket di calo. Meski calo-calo itu mugkin juga setor ke panpel Arema. 

Himbauan lainnya adalah, di semua pagar tribun penonton dilarang ada spanduk atau bendera Aremania. Alasannya menutupi tribun berdiri. 

Nah, kalau gak ada spanduk atau bendera sebagai bentuk kreasi dukungan Aremania, bagaimana rasanya? Ya cobalah kita biasakan. 

Atau mungkin hilangkan saja tribun berdiri. Menurut saya ini tribun gak jelas. Atau hanya 'penampungan' karena over kapasitas. 

Belum jelas, cara menghitung kapasitas tribun berdiri ini. Apakah jumlah tiket yang dicetak juga termasuk untuk tribun berdiri? Harga tiketnya sama dengan yang duduk?

Masalahnya, tribun berdiri ini posisinya rata dengan lapangan. Pagarnya menjulang tinggi. Bagi Aremania yang tidak berdiri persis di belakang pagar, mau lihat apa? Berkerumun di dalam pagar, mereka tidak bisa melihat terciptanya gol. 

Kecuali mereka masuk di tribun berdiri itu gratis. Kalau berbayar, apalagi kena harga calo, tak ada manfaatnya tribun berdiri. Lebih parah lagi, rawan copet. (*)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : buari
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU