Home > > Opini

Sukses Sekolah (Bukan) Karena Kurikulum

  • 22-02-2019 / 17:09 WIB
  • Kategori:Opini
Sukses Sekolah (Bukan) Karena Kurikulum Slamet Yuliono, guru SMP Negeri 1 Turen Kab. Malang

Bagi guru yang sudah lama mengabdikan diri di lingkungan sekolah, paham betul tentang arah yang akan ditempuh suatu proses pembelajaran. Mereka dengan sabar dan telaten menunggu kebijakan apalagi yang akan diperbuat pemerintah. Selagi konsep yang dibuat bertentangan dengan pembelajaran dan membingungkan, pasti akan ada perubahan dan pembenahan. Kita (guru) yang sudah lama berkecimpung dalam dunia kependidikan sekaligus sebagai masyarakat hanya bisa berharap semoga konsep ajar yang benar itu bermanfaat untuk kehidupannya.

Tengok keberadaan kurikulum yang saat ini diterapkan di sekolah, sebagai garis besar pedoman belajar untuk menjadikan anak manusia yang memiliki pengetahuan. Bila diamati mulai dari jenjang sekolah dasar, seluruh murid sudah dilatih dan diajarkan untuk menaklukkan beragam pengetahuan. Selanjutnya sebagai ujian awal dari pengetahuan yang telah diterima dan dipelajari itu di setiap semester mereka diuji untuk menetukan murid sudah tuntas belajar dalam tatanan kurikulum pelajaran demi mata pelajaran. Demikian pula saat masuk ke jejang dan tingkat di atasnya. Ujian dan langkah kerja yang hampir sama tetap diberlakukan.

Orang tua menyediakan uang lebih agar anak-anak bisa mendalami materi ajar agar lebih matang. Sementara, anak-anak menghabiskan setengah waktu dalam hidup mereka atau lebih untuk menguasai beragam ilmu yang diberikan guru. Siapa pun yang mempunyai nilai tertinggi dalam bidang akademik tertentu, otomatis akan menjadi kebanggaan masyarakat.

Akan tetapi, ada yang aneh dalam tatanan masyarakat yang karena ujian dan terpaan proses pembelajaran itu. Setelah anak-anak menguasai, setelah semua biaya dikeluarkan, setelah sebagian besar waktu dihabiskan, ternyata setelah dewasa mereka tidak banyak mendapat manfaat dari keahlian menguasai ilmu yang telah dipelajari.

"Di sini keahlian dan kepintaran itu tidak berguna, kami akan mengadakan training khusus untuk setiap pegawai baru yang bekerja," seru seorang supervisor saat tes wawancara yang diberikan kepada seorang lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang sedang melamar kerja.

Sang anak yang mendengar jawaban tersebut menjadi bingung. "Apa gunanya kami belajar begitu banyak di sekolah, begitu banyak waktu dibuang jika ternyata tidak banyak bermanfaat?" Dia tidak sadar bahwa pertanyaan yang dilakukan supervisor itu mewakili jutaan anak di negerinya, atau bahkan di banyak bagian dunia.

 

Kobarkan Belajar Kehidupan

Mengambil hikmah dari kasus di atas, lalu apa yang harus diperbuat pihak terkait dengan belajar kehidupan tersebut? Ternyata belajar kehidupan adalah simbolisasi pelajaran atau mata pelajaran di sekolah yang tidak jelas manfaat atau aplikasinya pada masa depan. Saat ini, dunia pendidikan dibingungkan kurikulum yang sedang berjalan, apakah akan tetap digunakan atau menyusun kurikulum baru?

Perubahan kurikulum biasanya hanya terkait pada bagaimana agar anak bisa menguasai, mampu memahami, tertarik atau mencintai mata pelajaran. Ada hal-hal lain yang dibahas, tetapi tetap tidak menyelesaikan persoalan mendasar. Apakah pelajaran yang ada itu penting dan perlu dipelajari atau tidak? Apakah pelajaran ini harus dikuasai semua orang? Apakah beberapa bagian dari mata pelajaran itu sebaiknya dilepas dari kurikulum atau dipaksakan untuk dipelajari anak? Dan, ini pertanyaan yang paling penting.

Kini, semua anak dijejali segala mata pelajaran di mana banyak yang tidak jelas bobotnya. Tidak jelas mana yang penting mana yang tidak. Bahkan parahnya, setiap guru menuntut mata pelajaran yang diberikan agar diutamakan.

Penulis saat bertemu teman-teman lama yang dulu dikenal cerdas, lulusan dari berbagai universitas ternama dan kini sudah mempunyai pekerjaan dan kehidupan mapan. Kepada mereka saya bertanya, apakah pelajaran menghafal istilah-istilah yang ada di pelajaran Bahasa Inggris, menghitung sin, cos, tangen yang membuat pusing dulu ada yang terpakai dalam praktik kehidupan? Semua mengatakan "tidak".

Apakah pelajaran menghafalkan nama planet, menghitung luas bumi, jumlah satelit dalam setiap planet, dan berbagai pengetahuan tentang tata surya memberi manfaat. Memberi manfaat bagi mereka dalam kehidupan? Berguna dalam pekerjaan? Mereka kompak mengatakan "tidak".

Mungkin ada puluhan atau bahkan ratusan pertanyaan lain yang akan menunjukkan betapa banyak pelajaran yang kita pelajari di sekolah ternyata tidak ada manfaatnya bagi kehidupan. Atau setidaknya, manfaatnya tidak sebanding dengan kepusingan dan waktu yang dibebankan. Hanya segelintir sekali orang yang kembali bersinggungan dengannya ketika dewasa.

Lalu, mengapa seluruh siswa diharuskan mempelajari? Mengapa mereka terus dicekoki dengan ilmu yang tidak nyata manfaatnya kelak di kehidupan? Lalu, buat apa mereka belajar yang tidak banyak gunanya buat masa depan?

 

Perbaiki Regulasi

Pemerintah (negara) paling bertanggungjawab atas keberlangsungan masa depan anak bangsa. Dan salah satunya adalah mengoptimalkan sistem pembelajaran yang lebih baik, bermutu, dan bermanfaat bagi anak-anak yang kini menempuh jenjang pendidikan di tingkat dasar hingga menengah. Sukses dan gagal dalam mengaplikasikan sistem pembelajaran ada di tangan negara.

Karena itu, regulasi yang mendukung keberadaan sistem pembelajaran harus selalu ditinjau untuk dievaluasi keberadaannya. Jangan sampai menganggap sistem yang kini diterapkan menjadi beban sejarah karena salah urus atas kebijakan yang telah dilakukan.

Hindarkan alasan kebijakan terkait masalah pendidikan dan pengajaran ini dengan berdalih urusan salah benar sudah ada dari pemerintahan terdahulu, kami hanya meneruskan. Sudahi polemik masalah pembelajaran secara bijak untuk maju bersama dalam konsep yang lebih bermutu.

Bermutu dalam menentukan kebijakan demi anak bangsa yang kini masih mengenyam pendidikan di tingkat dasar hingga jenjang lanjut. Mereka-merekalah yang akan menjadi pewaris tampuk pemerintahan dua puluh tahun yang akan datang. 

Inilah PR pemerintah. Jika memang ingin mengevaluasi kurikulum, kini saatnya berpikir lebih jauh ilmu mana yang bermanfaat nyata dan mana yang tidak. Jangan bebankan anak-anak dengan ilmu yang tidak jelas kegunaannya bagi kehidupan, dengan kewajiban yang tidak jelas arahnya. Semoga. (*)

  • Editor : Husnun
  • Uploader : irawan
  • Penulis : IST

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Membunuh Korban Karena Kepergok Mencuri Jagung

Pembunuh Pardi Terungkap, Pelakunya Asal Pakis

Terapkan Sapta Pesona Untuk Menyambut Libur Lebaran

Fried Calamari, Camilan Renyah saat Berbuka Puasa

Wali Kota Malang Dukung Perbaikan PDAM

VIDEO