Kandang Singa?

  • 23-02-2019 / 12:19 WIB
  • Kategori:Catatan
Kandang Singa? Foto: Ipunk Purwanto/MP Online

Secara hasil, tidak begitu mengagetkan. Bagi saya. Sudah saya ulas di catatan edisi Jumat. Tentang peluang Arema FC menjamu Persib Bandung.

Pun saya sampaikan secara live. Dalam siaran langsung RRI Pro2 87,9FM. Kebetulan sebagai komentator laga tersebut di Stadion Kanjuruhan.

Catatan di www.malangpostonline.com, tak jauh beda dengan komentar saya di RRI yang juga dipancarkan ke Bandung dan sekitarnya.

Setelah semusim tak siaran di radio, kemarin kembali mengulas jalannya pertandingan Singo Edan. Dalam suasana berbeda.

Sebenarnya sangat berharap Arema lolos ke Babak 8 Besar Piala Indonesia. Kenyataannya, hasil imbang 2-2, sudah cukup bagi Persib untuk mengubur impian dari ribuan Aremania.

Menarik untuk saya sampaikan tentang hasil pertandingan ini. Tak bisa ditunda. Meski edisi Sabtu, harusnya saya buat catatan tentang kuliner Malang. Untuk kuliner edisi Minggu besok saja, insyaallah.

Begitu tiba di stadion, naik ke tribun VIP, tampak pemandangan yang bersih. Sisi timur, selatan dan utara. Tak tampak satu pun spanduk atau bendera Aremania. Luar biasa.

Pada hari pertama diterapkannya larangan pasang spanduk/bendera ini, Aremania sangat patuh.

Tak keliatan atribut Aremania. Nyaris lupa kalau ini Stadion Kanjuruhan. Home base tim Singo Edan Arema.

Alasan agar tribun berdiri bisa digunakan pun terpenuhi. Tak ada spanduk yang menutupi tribun bawah di belakang gawang selatang dan utara.

Saya juga bisa melihat jelas, tribun berdiri tampak bersih. Masih kosong. Hingga jelang kick off masih kosong melompong. Baru saat pertandingan jalan, sisi selatan mulai terisi.

Saya lihat kehadiran Aremania, tampaknya diluar espektasi manajemen dan panpel Arema. Kondisi Stadion Kanjuruhan tidak penuh. Masih longgar.

Bisa jadi faktor pertandingan digelar sore, di hari efektif kerja. Ada siaran langsung. Aremania juga baru saja memenuhi Kanjuruhan saat uji coba lawan timnas.

Lawan Persib, tidak full house. Jumlah Aremania lebih banyak saat lawan Timnas. Terbukti tribun berdiri tak banyak terpakai.

Tanpa spanduk dan bendera, nyanyian Aremania juga tertib. Terasa damai, seperti yang diinginkan kapten tim Arema, Hamka Hamzah.

Tak ada nyanyian yang menyerang suporter lain. Teror kepada tim Persib pun relatif landai-landai saja. Tidak ada 'dibunuh saja'. Aman, penuh damai. Sesuai target.

 

Permainan Arema turut landai.

Begitu unggul cepat lewat gol Makan Konate, pemain Arema seolah sudah puas.

Mungkin pemain berpikir, Persib tak akab bisa cetak dua gol untuk buka peluang lolos. Padahal prediksi saya, babak 1 akan berakhir imbang.

Usai cetak gol itu, Arema nyaris tak ada peluang berbahaya lainnya. Justru Persib, sejak pertengahan babak pertama berhasil mengembangkan permainan. Hingga akhirnya cetak gol lewat penalti di akhir babak pertama. Imbang.

Babak kedua, terjadi jual beli serangan. Beberapa pergantian dilakukan kedua tim. Untuk ubah permainan.

Saya mencermati pergantian untuk tim Arema. Menit 49, keputusan coach Milomir Seslija terbilang tepat menarik keluar Rafli. Digantikan Pavel.

Rivaldy Bawuo digantikan Ridwan menit 60. Tidak ada masalah, terbukti Arema bisa cetak gol lewat tandukan Gladiator Lima, menit 73. Bahkan sebenarnya bisa unggul 3-1 kalau saja penalti Makan Konate berbuah gol menit 53.

Petaka alias apes terjadi menit 85, kelengahan lini tengah dan belakang Arema berbuah gol Siregar. Ubah kedudukan jadi 2-2.

Bermula dari tendangan jarak jauh Febri Hariyadi di sebelah kanan pertahanan Arema, bola tak bisa diamankan dengan sempurna oleh Utam Rusdiana. Bola mantul ke arah Siregar. Pemain tengah dan belakang terlambat menutup pergerakan Siregar hingga berhasil jebol gawang Arema.

Gol ini diawali dengan ditariknya Gladiator Lima, digantikan Nur Hardianto menit 80. Sepintas juga tidak ada masalah dengan pergantian ini. Dalam posisi Arema sudah unggul 2-1.

Hanya saja, menurut hemat saya, tim pelatih Arema mungkin lupa, bahwa pada laga tersebut adalah penentuan. Untuk lolos, Arema butuh menang. Dan jika imbang 2-2 Persib yang lolos. Arema selesai.

Nah, saat Gladiator cedera, pergantian terakhir, Arema memasukkan Nur Hardianto, striker yang setipe. Bayangan saat itu, Jayus yang akan masuk untuk menguatkan lini tengah. Khususnya dalam bertahan. Demi mengunci kemenangan.

Ternyata lima menit berselang. Gol balasan Persib tercipta. Dalam kondisi fisik dan konsentrasi pemain Arema sudah menurun. Lalu Hamka coba naik sebagai striker. Kejar kemenangan. Sudah tak merubah kedudukan.

Tak disangka. Gol Siregar jadi penentu untuk Persib lolos ke babak 8 besar. Aremania terdiam.

Aremania tampak terkejut. Mereka seperti tak lagi bisa mengangkat moral pemain Arema. Yuli Sumpil dkk di tribun timur tak percaya dengan permainan Arema.

Laga selesai untuk kelolosan Persib dengan keunggulan produktivitas gol tandang.

Pemain Arema tertunduk lesu. Coba bangkit, berusaha bentuk lingkaran untuk menyanyikan anthem Salam Satu Jiwa. Tapi apa daya, Aremania terlanjur kecewa.

Aremania tak ikut menyanyi. Yuli Sumpil memimpin rekan-rekannya 'beri motivasi' dengan lagu 'maine kurang sangar'. Sampai pemain dan tim pelatih akhirnya meninggalkan tengah lapangan.

Melihat 'pemandangan' di dalam stadion yang tidak seperti biasanya itu, serta permainan Arema yang dinilai kurang sangar itu, lalu saya bertanya dalam hati. Apakah benar, ini kandang singa? (*)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : buari

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI