Soto Lonceng

  • 24-02-2019 / 19:53 WIB
  • Kategori:Catatan
Soto Lonceng

Kuliner Malang

 

Selesai kupang. Lanjut soto. Kuliner yang juga banyak ditemui di Kota Malang.

Jika kupang dari Pasuruan, soto juga bukan asli dari Malang.

Kuliner yang satu ini dari Lamongan. Rata-rata warung soto yang ada, pakai nama soto lamongan. Khususnya soto ayam.

Kali ini, saya mampir di Soto Ayam Lamongan ‘Lonceng’. Bagi penggemar soto di Malang, pastilah pernah menikmati soto ini. Atau setidaknya pernah dengar.

Soto ini termasuk kuliner legendaris di Malang. Cita rasanya pun masih terjaga, sejak dulu hingga sekarang.

Sudah ada mulai tahun 1965, Soto Lonceng masih mempertahankan suasana warung tempo dulu. Berada di Jalan Kyai Tamin 85, Kota Malang. Kawasan ini sering disebut juga pecinan.

Kalau dari pasar besar, berada di bagian belakang sebelah timur. Lebih dekat dengan Jalan Martadinata. Kalau dari arah Klenteng Eng An Kiong belok kanan atau dari arah Gadang belok kiri sedikit.

Pertigaan antara Jalan Martadinata dan Jalan Kyai Tamin. Tepat di pertigaan itu ada monumen lonceng. Jam kuno yang berada di sisi timur pertigaan. Untuk itu, soto yang satu ini disebut Soto Lonceng. 

Terpasang papan nama dengan dasar putih, tulisan merah. Warung Soto Ayam Lamongan “Lonceng”. Hanya itu petunjuknya. Kaca jendela juga ada tulisannya, meski tidak begitu jelas. Awas kelewatan.

Saya termasuk penggemar soto ayam. Hampir semua soto di Malang ini, pernah saya cicipi. Termasuk yang paling sering, Soto Lonceng ini. Sendiri, maupun bersama keluarga.

Meski tidak pernah tahu, bagaimana rasanya soto ini saat awal buka tahun 60 lalu, namun resepnya disebut-sebut tak pernah berubah. Rasanya sama.

Mereka yang dulu pernah makan Soto Lonceng, bakal merindukan. Termasuk suasana warungnya. Bisa bernostalgia suasana Malang tempo dulu. Kuno.

Soto Lonceng dimulai alm. Abdul Manan, asli Lamongan. Kini dilanjutkan oleh Asmiyadi, cucu dari alm. Abdul Manan.

Saya memanggilnya Pak Yadi.  Sebagai penjaga warisan kuliner dari kakeknya. Saat ini sudah ada tiga cabang Soto Lonceng, selain yang di Jalan Kyai Tamin. Ada juga di Jalan Brigjen Slamet Riadi, Oro-oro Dowo dan di Jalan A. Yani Blimbing.

Lantaran sudah cukup lama, pelanggan pertama Soto Lonceng saat ini sudah kakek-kakek atau nenek-nenek. Bisa jadi, sudah diturunkan pada generasi ketiga atau keempat untuk juga langganan Soto Lonceng. Sensasi rasanya tak berubah, dengan suasana nostalgia.

”Sejak pertama berdiri, sampai sekarang tempatnya disini, tidak berpindah-pindah. Kondisi warung juga tidak banyak berubah, terlihat klasik seperti ini,” sebut Pak Yadi.

”Kakek meminta saya untuk tetap mempertahankan keaslian warung ini. Agar orang yang mampir tidak hanya nostalgia dengan menyantap masakannya, namun juga merasakan keaslian lokasinya,” lanjut Pak Yadi yang kini sudah punya satu cucu ini.

Selain mengajak istri, beberapa kali saya juga mengak anak-anak mengenal Soto Lonceng. Ternyata Ibu dan bapak mertua saya juga sudah lama langganan soto ini. Ada nostalgia.

Urusan rasa, menurut saya tak bisa dibandingkan dengan soto yang lain. Artinya punya ciri khas masing-masing. Punya resep khusus. Meski sama-sama soto lamongan, kadang berbeda.

Soto Lonceng, menurut saya tipe soto yang kuahnya  tidak terlalu kental. Enak dan gurih, warnanya tidak begitu kuning. Irisan daging ayamnya juga tidak yang besar-besar, tidak lebar.

Infonya, soto ini menggunakan daging ayam kampung yang masih muda. Membuat terasa lembut. Bikin semangkok soto cepat habis. Disajikan panas, ditambah sambel dan kecap. Maknyus.

Tidak ada pilihan menu lain. Hanya soto ayam. Ini saja. Begitu saya lihat di daftar menu yang terpasang di atas rombong sotonya. Soto Ayam Rp 15.000. Soto jeroan atau menu soto lain, tidak ada.

Saya bisa melihat langsung, Pak Yadi meracik soto yang akan disajikan dalam mangkok. Kebetulan, salah satu mejanya, berhimpitan dengan rombong soto yang ada dalam ruangan berukuran sekitar 3x4 meter itu.

Tidak seperti restoran besar, dengan ruangan yang lega. Warung Soto Lonceng, memang tidak berubah seperti itu. Mungkin sengaja, makin panas tambah seru. Penting rasanya uwenak. Coba saja! (*)

  • Editor : bua
  • Uploader : buari
  • Penulis : buari

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI