Arti Wartawan

  • 25-02-2019 / 09:28 WIB
  • Kategori:Catatan
Arti Wartawan

To Be Journalist (1)

Wartawan atau jurnalis adalah seorang yang melakukan jurnalisme.

Demikian mengutip dari wikipedia bahasa Indonesia. Wartawan yaitu orang yang secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya dikirimkan/dimuat di media massa secara teratur.

Laporan ini lalu dapat dipublikasi dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet. 

Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu untuk melayani masyarakat.

Kurang lebih, itulah wartawan. Seperti yang juga diartikan dalam kamus besar Bahasa Indonesia.

Wartawan, orang yang pekerjaannya mencari dan menyusun berita untuk dimuat dalam surat kabar, majalah, radio, dan televisi; juru warta; jurnalis.

Istilah jurnalis baru muncul di Indonesia setelah masuknya pengaruh ilmu komunikasi yang cenderung berkiblat ke Amerika Serikat. 

Istilah ini kemudian berimbas pada penamaan seputar posisi-posisi kewartawanan. Misalnya, "redaktur" menjadi "editor."

Pada saat Aliansi Jurnalis Independen berdiri, terjadi kesadaran tentang istilah jurnalis ini. Menurut aliansi ini, jurnalis adalah profesi atau penamaan seseorang yang pekerjaannya berhubungan dengan isi media massa. 

Jurnalis meliputi juga kolumnis, penulis lepas, fotografer, dan desain grafis editorial. Akan tetapi pada kenyataan referensi penggunaannya, istilah jurnalis lebih mengacu pada definisi wartawan.

Sementara itu wartawan, dalam pendefinisian Persatuan Wartawan Indonesia, hubungannya dengan kegiatan tulis menulis yang di antaranya mencari data (riset, liputan, verifikasi) untuk melengkapi laporannya. 

Wartawan dituntut untuk objektif, hal ini berbeda dengan penulis kolom yang bisa mengemukakan subjektivitasnya.

Bagaimana asal dan ruang lingkup istilah jurnalis ini?

Dalam awal abad ke-19, jurnalis berarti seseorang yang menulis untuk jurnal, seperti Charles Dickens pada awal kariernya. Dalam abad terakhir ini artinya telah menjadi seorang penulis untuk koran dan juga majalah.

Banyak orang mengira jurnalis sama dengan reporter, seseorang yang mengumpulkan informasi dan menciptakan laporan, atau cerita. Tetapi, hal ini tidak bisa dikatakan benar karena dia tidak meliputi tipe jurnalis lainnya, seperti kolumnis, penulis utama, fotografer, dan desain editorial.

Tanpa memandang jenis media, istilah jurnalis membawa konotasi atau harapan profesionalitas dalam membuat laporan, dengan pertimbangan kebenaran dan etika.

Untuk itu, akhirnya ada yang namanya kode etik jurnalistik. Sebagai rambu-rambu bagi wartawan dalam melaksanakan tugasnya. 

Kode Etik Jurnalistik adalah himpunan etika profesi kewartawanan.

Wartawan selain dibatasi oleh ketentuan hukum, seperti Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999, juga harus berpegang kepada kode etik jurnalistik.

Tujuannya adalah agar wartawan bertanggung jawab dalam menjalankan profesinya, yaitu mencari dan menyajikan informasi.

Kode etik jurnalistik di Indonesia punya sejarah panjang. Mulai era tanpa kode etik, hingga periode banyak kode etik jurnalistik seperti sekarang ini. Menyusul banyaknya organisasi profesi wartawan. 

Terlepas apa pun organisasinya, kode etik jurnalistik menempati posisi yang cukup vital bagi wartawan, bahkan dibandingkan dengan perundang-undangan lainnya yang memiliki sanksi fisik sekalipun, Kode Etik Jurnalistik memiliki kedudukan yang sangat istimewa bagi wartawan.

Menurut M. Alwi Dahlan, mantan Menteri Penerangan, Kode Etik Jurnalistik bagi wartawan, sedikitnya memiliki lima fungsi.

Pertama melindungi keberadaan seseorang profesional dalam berkiprah di bidangnya.

Kedua, melindungi masyarakat dari malapraktik oleh praktisi yang kurang profesional

Ketiga, mendorong persaingan sehat antarpraktisi

Keempat, mencegah kecurangan antar rekan profesi.

Kelima, mencegah manipulasi informasi oleh narasumber.

Nah, seperti apakah Kode Etik Jurnalistik tersebut? 

Untuk menjamin kemerdekaan pers dan memenuhi hak publik untuk memperoleh informasi yang benar, wartawan Indonesia memerlukan landasan moral dan etika profesi sebagai pedoman operasional dalam menjaga kepercayaan publik dan menegakkan integritas serta profesionalisme. 

Atas dasar itu, wartawan Indonesia menetapkan dan menaati Kode Etik Jurnalistik:

1. Wartawan Indonesia bersikap independen, menghasilkan berita yang akurat, berimbang, dan tidak beritikad buruk.

2. Wartawan Indonesia menempuh cara-cara yang profesional dalam melaksanakan tugas jurnalistik.

3. Wartawan Indonesia selalu menguji informasi, memberitakan secara berimbang, tidak mencampurkan fakta dan opini yang menghakimi, serta menerapkan asas praduga tak bersalah.

4. Wartawan Indonesia tidak membuat berita bohong, fitnah, sadis, dan cabul.

5. Wartawan Indonesia tidak menyebutkan dan menyiarkan identitas korban kejahatan susila dan tidak menyebutkan identitas anak yang menjadi pelaku kejahatan.

6. Wartawan Indonesia tidak menyalahgunakan profesi dan tidak menerima suap.

7. Wartawan Indonesia memiliki hak tolak untuk melindungi narasumber yang tidak bersedia diketahui identitas maupun keberadaannya, menghargai ketentuan embargo, informasi latar belakang, dan “off the record” sesuai dengan kesepakatan.

8. Wartawan Indonesia tidak menulis atau menyiarkan berita berdasarkan prasangka atau diskriminasi terhadap seseorang atas dasar perbedaan suku, ras, warna kulit, agama, jenis kelamin, dan bahasa serta tidak merendahkan martabat orang lemah, miskin, sakit, cacat jiwa atau cacat jasmani.

9. Wartawan Indonesia menghormati hak narasumber tentang kehidupan pribadinya, kecuali untuk kepentingan publik.

10. Wartawan Indonesia segera mencabut, meralat, dan memperbaiki berita yang keliru dan tidak akurat disertai dengan permintaan maaf kepada pembaca, pendengar, dan atau pemirsa.

11. Wartawan Indonesia melayani hak jawab dan hak koreksi secara proporsional.

Untuk poin 11 ini, wajib dilakukan wartawan jika terbukti ada berita yang tidak benar. 

Pembaca yang merasa dirugikan dengan sebuah pemberitaan bisa menyampaikan pada wartawan atau pada tim redaksi media yang bersangkutan. Menunjukkan bukti yang benar.

Pada kenyataan di lapangan, tidak semua wartawan benar. Bahkan kini juga ada wartawan abal-abal, alias palsu. Terakhir diamankan polisi karena si wartawan palsu terbukti melakukan pemerasan.

Muncul beberapa nama lain untuk wartawan dengan konotasi negatif. Seperti wartawan bodrex.


Wartawan bodrex adalah wartawan yang bikin pusing. Meski bodrex sebagai nama obat, sebenarnya untuk meredakan sakit kepala. 

Lantaran tak mau sakit kepala, pihak narasumber atau bagian humas akhirnya mengeluarkan amplop berisi uang agar wartawan bodrex atau wartawan gadungan itu mau pergi. 

Ada juga istilah wartawan amplop
Wartawan yang suka menerima uang atas berita yang dimuatnya. Mungkin itu adalah sisi gelap dar jurnalistik.

Dimanfaatkan pihak-pihak tak bertanggung jawab untuk cari uang. Seperti halnya profesi yang lain. Dokter juga ada yang gadungan. 

Sementara itu, penyebutan wartawan menurut kerjanya yang benar, ada wartawan cetak. Adalah wartawan pencari berita untuk media cetak, seperti koran, tabloid atau majalah. Ada juga wartawan radio, televisi dan online. Bergantung media dari si wartawan.

Untuk fotografer, sering disebut sebagai wartawan foto. Adalah wartawan pencari berita dengan menggunakan kamera. 

Ada juga istilah wartawan lepas, yaitu wartawan yang tidak menjadi staf tetap salah satu surat kabar atau media, tetapi hanya menyumbangkan tulisan mewakili beberapa penerbitan pers. 

Demikian catatan kali ini saya ulas tentang wartawan. Diambil dari blog milik saya, tobejournalist.blogspot.com. Saya buat bersambung dalam beberapa edisi Catatan Buari sebagai panduan dasar menjadi wartawan. Atau setidaknya untuk mengenal wartawan. Semoga bermanfaat. (*)

Editor : bua
Uploader : slatem
Penulis : buari
Fotografer :

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU