Berita Adalah Kekayaan

  • 27-02-2019 / 21:32 WIB
  • Kategori:Catatan
Berita Adalah Kekayaan

To Be Journalist (3)

Pendapat orang tentang apa yang dimaksud dengan berita itu bermacam-macam, berbeda-beda satu sama lain, tidak saja karena sudut pandang dan titik perhatiannya yang berbeda, tetapi juga karena kepentingannya terhadap berita itu juga berbeda.

Berita bukanlah kejadian, melainkan laporan mengenai kejadian. Kalau dianggap komoditi, maka berita adalah komoditi yang mudah rusak ataupun basi. 

Kalau dianggap sebagai kekayaan maka berita adalah kekayaaan yang selalu berubah, karena nilai-nilai yang mudah berganti.

Syarat berita.  Ada unsur aktualitas. Semakin hangat berita tersebut, semakin membuat pembaca tertarik untuk membaca dan menikmati.

Mempertimbangkan skala berita.  Adalah kemampuan berita tersebut menyentuh banyak orang dalam radius yang luas. Masalah yang menyangkut jutaan orang tentu lebih menarik dibanding masalah yang menyangkut belasan orang saja.

Punya nilai ketokohan. Bukan hanya dilihat dari segi ketokohan formal saja, melainkan ketokohan informal juga. Tokoh formal adalah tokoh yang diangkat secara resmi baik oleh masyarakat maupun lembaga. Sementara tokoh informal tidak diangkat, melainkan diakui ketokohannya oleh masyarakat.

Sesuatu yang inovatif.  Adalah temuan baru, baik berupa benda maupun ide yang mampu memecahkan permasalahan dengan baik dari sebelumnya.

Berita unik. Sesuatu sering dikatakan menarik karena unik. Oleh karena unik membuatnya menjadi berbeda dengan yang lain.

Harus informatif. Sudah pasti informasi ini adalah yang baru dan mengundang manfaat bagi yang menerima informasi tersebut.

Jika syarat berita itu terpenuhi, baik beberapa maupun hanya satu. Maka berita tersebut dipastikan menarik. Punya news value. 

Dikatakan menarik jika memenuhi unsur berita. 

Berita yang lengkap akan memuat enam unsur yang dikenal dengan rumus 5W+1H (what, where, why, when, who dan how) yaitu apa, dimana, kapan, mengapa, siapa dan bagaimana. 

Masing-masing unsur harus masuk dalam suatu berita, meskipun penempatannya dilain alenia. Penguraian masing-masing unsur harus memperhatikan pokok masalah yang akan ditulis. Misalnya, tulisan mengenai profil seseorang maka ditekankan pada unsur ‘who’.

Sebenarnya menulis berita sama dengan menulis tulisan lain, seperti tulisan surat. Yang penting tulisan itu bisa dipahami dan enak dibaca. 

Tetapi karena tulisan berita mempunyai kekhususan maka menuliskannya agak berbeda. Berita yang dimuat di media massa harus mampu merayu pembacanya dan menarik perhatian agar dibaca sampai habis. Oleh karena itu, wartawan dituntut untuk memiliki kemahiran menyusun kata-kata. 

Tulisan yang menarik, dimulai dari yang penting menuju yang kurang penting. Tulisan seperti ini disebut dengan tulisan model piramida terbalik. Susunan berita ini menjadi model hampir semua media massa. Dengan tulisan yang lebih penting dulu, pembaca diharapkan akan terpikat, seorang redaktur juga akan mudah memotong tulisan tersebut, apabila dirasa ruangnya kurang mencukupi.

Kebalikan model tulisan itu adalah piramida tegak. Yaitu berita yang ditulis mulai kurang penting menuju ke yang paling penting. Alasan sebenarnya hampir sama dengan model tulisan sebelumnya, yakni untuk promosi. Dengan model tulisan seperti ini, pembaca belum mendapatkan sesuatu di awal tulisan, karena itulah dia meneruskan sampai akhir. 

Namun perlu diingat orang sekarang semakin efektif dan efisien dalam bertindak. Begitu membaca tulisan dan tidak segera mendapatkan apa-apa, maka bisa ditinggalkan tulisan tersebut. Untuk itu berita dengan tulisan dari kurang penting menuju paling penting, sekarang jarang digunakan.

Model lain adalah bentuk blok. Model ini mencampur berita penting dan kurang penting. Bisa jadi tulisan menarik, tapi seorang redaktur akan kesulitan dalam memotongnya apabila ruangan tidak cukup. Karena itu berita menggunakan model ini jarang dipakai.

Model atau bentuk berita ini terkait juga dengan susunan berita.  Susunan berita yang paling lazim dipergunakan adalah dengan urutan judul, kepala berita dan tubuh berita. Aada pula yang menambahkan penutup.

Meskipun judul letaknya paling atas, tetap tidak harus dibuat terlebih dahulu. Judul hanya terdiri dari satu kalimat. Judul harus mencerminkan isi beritanya. 

Membuat judul bisa mengambil petikan kalimat dalam tubuh berita, baik kalimat langsung maupun tidak, ataupun membuat susunan sendiri. Bisa jadi, judul terdiri atas satu sampai dua baris. Jika harus dibuat dua baris, hendaknya terkandung suatu maksud. Ada kalanya judul yang dibuat tidak mencerminkan isi beritanya. Biasanya ini dilakukan untuk berita yang bersifat ringan. 

Berikutnya kepala berita atau lead. Yang dimaksud kepala berita adalah bagian berita yang paling penting diantara sekian banyak bagian lainnya. 

Pembagian ini penting untuk merangsang pembaca agar membaca tulisannya sampai selesai. Kepala berita hendaknya tidak terlalu panjang, antara satu sampai empat kalimat. Bisa jadi merupakan intisari dari semua tulisan. 

Dengan demikian susunan akan dimulai dari yang umum menuju yang khusus. Boleh juga kepala berita ditempatkan sebagai bagian khusus tulisan. 

Namun, harap diingat, kepala berita tidak harus mengandung semua unsur. Hal ini bisa dilakukan asalkan tidak terlalu panjang. Tetapi lazimnya kepala berita merupakan gabungan dari beberapa unsur berita. Pemilihannya tentu memperhatikan mana yang paling penting dan mana yang kurang penting.

Sedangkan tubuh berita adalah uraian berita setelah kepala berita. Tubuh berita membeberkan kejadian yang berlangsung dan diselingi kalimat-kalimat langsung dari tokoh yang terkait dengan kejadian. Tetapi tetap perlu diperhatikan mana yang penting ditulis dan mana yang tidak.

Penyusunan tubuh berita hendaknya tetap mengacu pada masalah yang diberitakan. Meskipun demikian, wartawan diperkenankan pula memasukkan masalah lain asalkan dalam satu konteks. 

Terakhir penutup. Biasanya merupakan penegasan ulang terhadap pernyataan sebelumnya. 

Dalam menulis berita, kalimat yang digunakan hendaknya tetap berpedoman pada penggunaan ejaan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Baik susunannya, kata-katanya, maupun tanda bacanya. 

Dalam hal-hal tertentu, media massa memang menghalalkan penyimpangan. Biasanya penyimbangan dari tata bahasa Indonesia yang baik dan benar, dilakukan untuk menghidupkan tulisan. 

Kata-kata yang bukan dari bahasa Indonesia atau menyimpang dari ketentuan bahasa, hendaknya dicetak miring, ini menunjukkan pemakaian kata itu memang disengaja. 

Untuk menghidupkan tulisan itu pula, ada kalanya diselipkan kutipan langsung, itu hendaknya tetap berada dalam satu alenia kecuali bila kutipan itu sendiri isinya berbeda dengan alenia sebelumnya. 

Kalimat dalam berita hendaknya hemat, pengulangan sedapat mungkin dihindari. Juga usahakan selalu memakai kalimat aktif dalam memberikan segala sesuatu. 

Catatan ini diambil dari blog milik saya, tobejournalist.blogspot.com.  Dibuat bersambung dalam beberapa edisi Catatan Buari sebagai panduan dasar menjadi wartawan. Atau setidaknya untuk mengenal kerja seorang wartawan. Termasuk dalam hal menulis berita. (*)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : buari

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI