Soal USBN Bocor dan Reorientasi Motivasi Belajar Siswa

  • 12-03-2019 / 09:51 WIB
Soal USBN Bocor dan Reorientasi Motivasi Belajar Siswa Andi Akbar Tanjung

“Tujuan pendidikan yaitu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan” – Tan Malaka –

Di Minggu sore dengan langit jingga yang sedang menuju senja, seorang anak kelas 3 SMA bernama Fulan sedang membantu ayahnya di ladang yang berada di kaki Gunung Butak – Malang. Selepas bertani seharian, mereka beristirahat sambil bercengkrama tentang pendidikan Fulan.

“Bagaimana sekolahmu nak...?” tanya ayah Fulan setelah menyeruput kopi hitam yang mulai mendingin.

“Alhamdulillah lancar Yah. Insya Allah, minggu depan saya akan USBN dan ini sudah dapat beberapa bocoran soal dari grup chattingan yang saya ikuti bersama teman-teman” jawab Fulan mantap karena optimis akan mendapatkan nilai di USBN nanti.

“Lahh.., ngapain kamu pakai cara seperti..??” Ayah Fulan bertanya dengan nada yang meninggi sambil menoleh menatap wajah anaknya.

“Ehh., anuu Yah., tujuannya biar nilai saya bisa bagus” Fulan membalas sambil menunduk ragu.

“Wallaah Nak., siapa yang ajarkan kamu kalau tujuan sekolah biar dapat nilai? Belajarlah karena kamu memang ingin tahu. Dengan pengetahuan, meskipun nanti kamu jadi seorang petani pasti kamu akan menjadi petani yang cerdas dalam mengurus ladangmu. Tidak dengan nilai bagusmu yang hanya akan berakhir di selembar kertas bernama ijazah”

ooOoo

Demikianlah ilustrasi tentang bagaimana pandangan siswa di Indonesia terhadap tujuan pendidikan. Ilustrasi tersebut mungkin tidak mewakili semua siswa dan orang tua di Indonesia namun kisah tersebut sangat dekat dalam keseharian kita dan tentunya menjadi gambaran secara umum tentang bagaimana paradigma pendidikan yang terbangun di Indonesia.

Demikian halnya dengan pemberitaan dunia pendidikan Kota Malang belakangan ini. Berita tentang adanya grup obrolan di kalangan siswa SMA yang menyebarkan atau membocorkan soal Ujian Sekolah Berbasis Nasional (USBN). Bahkan perbuatan tercela ini menjadi headline news Koran Malang Post selama sepekan terakhir. Sebuah grup Line bernama “UN USBN Jatim” diikuti oleh lebih dari seribu akun dimana setiap anggota yang ingin bergabung harus membayar sejumlah uang kepada admin grup. Dari dalam grup inilah bocoran soal dan kunci jawaban USBN disebarkan. Setelah menjadi bahan pemberitaan,Grup tersebut akhirnya dihapus (Malang Post, 6/3). Namun tidak membutuhkan waktu yang lama, diberitakan lagi bahwa aktifitas jual-beli soal USBN ini belum berakhir. Mereka kemudian mengganti modus dengan berpindah ke Line Square bahkan dengan penerimaan anggota grup yang lebih selektif (Malang Post, 8/3).

Fenomena bocornya soal ujian bukanlah persoalan baru dalam perjalanan dunia pendidikan Indonesia. Hal ini berawal tatkala Ujian Nasional (UN) menjadi syarat kelulusan siswa dan bahan untuk mengukur kualitas pendidikan di berbagai daerah. Melihat vitalnya fungsi UN, berbagai pihak mengahalalkan segala cara agar siswa yang mengikuti UN bisa mendapatkan nilai yang memuaskan salah satunya yaitu dengan membocorkan soal UN. Lintas kalangan akhirnya ikut ambil bagian mulai dari siswa itu sendiri sampai pada level pejabat daerah. Tujuannya satu, agar siswa mendapatkan nilai terbaik yang kemudian digunakan untuk kepentingan masing-masing kalangan.

Melihat bagaimana UN bisa menggeser cara pandang siswa Indonesia tentang ujian, pada tahun 2015 pemerintah memutsukan untuk tidak lagi menjadikan UN sebagai syarat kelulusan siswa. Sejak saat ini, siswa di Indonesia bisa bernafas lega dan bisa menjadi lebih “apa adanya” dalam menghadapi UN tanpa harus “berakting cerdas” dalam menjawab UN dengan menggunakan bocoran kunci jawaban. Namun melihat kejadian terbaru di atas membuat kita bertanya, kenapa persoalan bocornya soal masih terjadi hingga sekarang?

Di samping persoalan adanya dugaan campur tangan pihak internal Dinas Pendidikan (Malang Post, 6/3), penyebab lain dari persoalan bocornya soal USBN ini juga perlu kita soroti adalah mental atau motivasi siswa itu sendiri. Hal ini sangatlah substansial karena apabila motivasi belajar siswa Indonesia berada di jalur yang sebenarnya maka dengan bocoran soal apapun tidak akan membuat mereka mau berbuat curang.

Menurut seorang psikolog dunia, John Santrock (2004), motivasi itu dibagi menjadi dua yaitu Motivasi Instristik (dorongan yang datangnya dari dalam diri individu) dan Motivasi Ekstrinstik (dorongan yang berasal dari luar). Selama ini, motivasi belajar yang dimiliki oleh kebanyakan siswa di Indonesia adalah untuk mendapatkan nilai yang bagus. Hal ini merupakan Motivasi Ekstrinstik dimana nilai menjadi pendorong untuk mereka belajar. Sehingga, dalam menghadapi ujian, bagi mereka nilai adalah tujuan utama dan disaat yang bersamaan mereka tau bahwa ada jalan pintas untuk mendapatkan nilai yaitu dengan bocoran soal ujian.

Pertanyaan selanjutnya, siapakah yang mengajarkan atau mendorong anak-anak di Indonesia untuk memiliki motivasi yang demikian?Jawabannya adalah lingkungan dimana mereka bertumbuh yaitu, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ada banyak orang tua yang memarahi anaknya ketika pulang dengan nilai yang jelek di mata siswaan tertentu. Tidak sedikit guru yang mengategorikan siswanya pintar atau tidak hanya berdasarkan nilai ujian. Dan pola pikir masyarakat yang terbangun dari bagaimana pemerintah membangun sistem pendidikan yang menuhankan angka.

Menyadari hal di atas maka semua pihak sudah sepatutnya urun usaha bukan sekedar asa dalam meluruskan kembali paradigma siswa Indonesia tentang tujuan dari pendidikan. Orang tua yang sebaiknya lebih menghargai usaha anaknya daripada mengutuk nilai 45 bertinta merah di kertas ujian. Guru yang seharusnya lebih memahami teori Kecerdasan Majemuk (Mutiple Intelegence) yang meyakini bahwa setiap anak memiliki cara cerdasnya masing-masing. Dan pemerintah yang sudah sepatutnya membangun ekosistem pendidikan yang lebih menghargai proses bukan sekadar menuhankan hasil akhir. Dengan usaha demikian maka pendidikan bangsa ini akan kembali kepada marwahnya yang suci yaitu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan, dan memperhalus perasaan. (*)

 

*) Instruktur bahasa di Language Center – Universitas Muhammadiyah Malang

  • Editor : Husnun
  • Uploader : irawan
  • Penulis : IST
  • Fotografer : -

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

UIN Bantah Nyanyian Mudjia


GRATIS !!!

Untuk Berlangganan Berita Malang Post Online,
Ketik Nama dan Email di Form Berikut Ini.



VIDEO

-->