Isu Mengenai Fatwa Kiamat oleh Pondok Pesantren Miftahu Falahil Mubtadiin Hoax?

  • 14-03-2019 / 08:40 WIB
  • Kategori:Batu
Isu Mengenai Fatwa Kiamat oleh Pondok Pesantren Miftahu Falahil Mubtadiin Hoax? RILIS: Kapolres Batu, AKBP Budi Hermanto SIK M.Si saat rilis isu kiamat bersama Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Falahil Mubtadin, Muhammad Romli di Polres Batu, Rabu (13/3) kemarin. (Kerisdianto/MP Online)

BATU - Ramainya informasi tentang tersebarnya isu kiamat yang difatwakan oleh Pondok pesantren Miftahu Falahil Mubtadiin (Majlis sholawat Musa AS) di Dusun Pulosari, Desa Sukosari, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang Kasembon dibantah oleh Pengasuh Pondok Pesantren Miftahu Falahil Mubtadiin Muhammad Romli.

Isu tersebut mencuat karena sebelumnya beredar informasi sebanyak 52 warga Desa Watu Bonang, Kecamatan Badegan, Ponorogo, berbondong-bondong pindah ke Malang karena isu kiamat dan beberapa isu lainnya yang difatwakan oleh Pondok Pesantren Miftahu Falahil Mubtadiin. 

Peristiwa itu viral setelah diunggah oleh salah satu warga net Rizky Ahmad Ridho melalui laman Facebook Info Cegatan Wilayah Ponorogo (ICWP) pada Senin (11/3) sekitar pukul 10.14 WIB.

Meluruskan beredarnya informasi tersebut Polres Batu langsung melakukan rilis pada Rabu (13/3) kemarin. Dalam pernyataannya dalam konfrensi pers di Polres Batu, Pengasuh Pondok Pesantren Miftahu Falahil Mubtadiin Muhammad Romli mengaskan bahwa jika isu kiamat yang tersebar itu adalah berita tidak benar atau hoax.

 

TUNJUKKAN: Handoko, warga yang rumahnya bersebelah dengan Ponpes Miftahu Falahil Mubtadiin menunjukkan video salah ayah santri yang mencari anaknya di rumahnya, Rabu (13/3) kemarin.

 

Ia menyatakan bahwa dirinya tidak menyebarkan tentang fatwa bahwa kiamat akan terjadi setelah bulan suci ramadan tahun ini. "Apa yang disampaikan di pondok kami tentang 10 tanda kiamat itu ada dalam hadits dan Al-qur'an. Ada yang mengatakan bahwa saya menyebar fatwa kiamat. Itu hoax dan ada yang memanfaatkan kajian ini," ujar Romli dihadapan para jurnalis.

Selain itu, dalam fatwa yang disebar juga menjelaskan bahwa santri sampai rela menjual mobil, bahkan tanahnya untuk diberikan ke Ponpesnya juga tidak benar. "Jika ada yang seperti itu mungkin bisa dianggap sebagai amal," imbuhnya.  

"Kami tidak menyuruh mereka menjual aset dan tanah. Di pondok kami jika ada yang ingin mengungsi ke sini, belajar di sini, harus sedia makanan sendiri selama satu tahun. Nah ini yang salah diasumsikan oleh masyarakat," bebernya.

 

 

Bahkan, lanjut dia Pompes yang diasuhnya telah dinyatakan oleh Perwakilan PC Ansor Kabupaten Malang dan MUI Kabupaten Malang bahwa Ibnu Mukti menyatakan ajaran yang diberikan oleh ponpes ini tidak ada yang menyimpang dari faedah.

Ibnu mengatakan bahwa, penafsiran masyarakat yang salah serta dikait dengan adanya tahun politik ini. Karena itu pihaknya meluruskan hal ini karena tak ingin ada salah tafsir.

"Kami sudah diberikan ruang untuk mediasi. Hasilnya tidak ada yang menyimpang, semua ajaran sesuai faedah," kata Ibnu. Diketahui mediasi dilakukan bersama Muspika, Polres Batu, MUI dan Ansor Kabupaten Malang. 

Hal tersebut juga ditegaskan oleh Kapoles Batu, AKBP Budi Hermanto SIK MSi bahwa Polres Batu memfasilitasi terkait informasi dan isu yang telah beredar saat ini. "Beberapa informasi itu diantarnya isu kiamat sudah dekat, soal perang hingga kemarau panjang, jemaah yang diminta menjual semua aset dan menyetor ke pondok tidak benar," imbuhnya.

Serta adanya senjata tajam berupa golok yang dijual seharga Rp 1 juta untuk kepentingan perang, hingga anak - anak yang diharuskan memotong tangan adiknya untuk menjadi santapan makanan. Hingga tentang anak - anak kelas 5 SD, di saat musim paceklik akan memotong tangan adiknya untuk dijadikan santapan makanan.

Pihak Polres saat ini akan melakukan penyelidikan secara internal dari jajaran kepolisian. Sehingga tidak ada yang dirugikan. Serta isu yang beredar tidak semakin melebar. 

Malang Post juga mendatangi lokasi Ponpes, saat masuk jurnalis dilarang mengambil gambar. Bahkan saat keluar dari Ponpes pihak pesantren menggeledah dan meminta foto yang teh diambil untuk dihapus. Namun pihak Ponpes menyambut wartawan dengan baik.

Dilokasi, Malang Post ditemui langsung oleh Nur Khoiron selaku adik dari Romo Kyai Ramli Soleh Syaifuddin. Ia juga menyatakan bahwa informasi yang tersebar tidak benar.

"Memang benar ada jamaah dari berbagai daerah yang bermukim. Jumlahnya sekitar 300 orang. Mereka bermukim dalam rangka menyambut bulan ramadhan dan pengajian rutin yang digelar setiap malam malam Selasa ngaji kitab, mamam Jumat sholat simtuduror, malam sabtu istighosah," bebernya.

Namun dirinya tak bisa memberikan informasi lebih detail karena secara aturan di Ponpen yang berhak bicara adalah pengasuh Ponpes. Bahkan saat wartawan ingin mewawancarai jamaah atau santri juga tidak diperbolehkan. 

Sementara, itu salah satu warga yang rumahnya bersanding dengan Ponpes, Handoko mengatakan jika informasi tentang fatwa yang telah tersebar di media sosial tersebut adalah benar. Mulai dari santri yang menjual rumahnya adalah benar.

Laki-laki yang juga menajdi Ketua Forum komunikasi pemuda islam Kasembon ini mengatakan jika ada orangtua dari salah datu santri bernama Abdul Hamid dari Mojokerto kehilangan anaknya.

"Saya ada bukti video bahwa Abdul Hamid kehilangan anaknya bernama Zainudin. Bahkan kata sang ayah, santri tersebut menjual rumah yang dimilikinya seharga Rp 35 juta. Padahal harga rumah tersbeut 120 juta," bebernya.

Ia menjelaskan, rumah yang dijual tersebut di Sesa Wates Sumpak, Dusun Kalitangi RT 02, RW 01 Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Tak hanya itu ia juga berani mengantarkan ke rumah pembuat pedang yang dijualnya di Desa Gedangan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri. (eri)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : eri
  • Fotografer : eri

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI