Home > > Opini

Strategi Pembelajaran di Zaman VUCA

  • 16-03-2019 / 14:54 WIB
  • Kategori:Opini
Strategi Pembelajaran di Zaman VUCA Wafiqotin Nazihah

“Kekerasan, tidak pasti, kompleksitas dan kecemasan”. Berangkat dari situlah sebenarnya strategi pembelajaran perlu diubah. Tak melulu mencondongkan materi kepada peserta didik, karena pada sejatinya mereka sudah sangat pandai mencari materi secara mandiri. Namun yang perlu ditekankan, para remaja millennial haus akan motivasi dan pendekatan. Oleh karenanya penerapan kemampuan pedagogi harus selalu diterapkan oleh guru dalam menjalankan tugasnya,

Kesabaran dan ketekunan guru memerhatikan karakter yang dimiliki oleh peserta didik menjadi modal utama terjalinnya hubungan yang baik diantara keduanya. Mengajak dan meluangkan waktu sedikit saja, hanya sekadar menanyakan masalah pribadinya, tentu membawa dampak yang luar biasa bagus. Sebagai guru yang baik jangan malu bercengkrama dengan murid kita, karena siapapun bisa menjadi apapun tak terkecuali murid kita sendiri.

Setelah mampu menciptakan kenyamanan, langkah yang seharusnya ditempuh adalah bagaimana peserta didik mampu belajar dengan situasi dan kondisi kelas yang menyenangkan. Tidak jarang, para generasi Z bertanya pada guru, membaca buku di perpustakaan atau yang lainnya. Bagi mereka, teknologi sudah mampu menjawab segala pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak mereka tanpa harus bertanya pada guru.

Tantangan yang cukup besar, bahwa dalam menerapkan strategi pembelajaran yang sejajar dengan tuntutan zaman. Pendidik cerdas, melek teknologi, barangkali kata-kata tersebut sangat cocok dengan situasi yang ada di zaman VUCA pada era millennial ini. Teknologi mengubah obsesi dunia. Tua muda tak lagi jadi penghalang melebarnya tuntutan bahwa teknologi bagian dari isi dunia. Luasnya saja, anak-anak generasi Z lebih memanjakan diri dengan mencari ilmu lewat scroll atas bawah lewat telepon genggamnya, mereka lebih cerdas dalam hal mencari ilmu.

Sifat anak muda yang melejit bagai kilat, sekiranya cenderung membuat resistensinya semakin nglunjak ketika dibentak dan semakin tak mau tahu ketika dihalusi. Menjadi suatu garapan seorang pendidik zaman now untuk memperbaiki. Tak kalah canggih dengan teknologi, metode pedagogi harus tetap diterapkan. Strategi pembelajaran dan pendekatan yang tepat akan merangsang mereka berpikir luas tentang dunia ini, semua kecanggihan teknologi lebih diarahkan pada generasi Z. Sehingga otomatis berbagai informasi terbaru melejit dipikiran mereka.

Hal ini menjadi tentangan tersendiri bagi para pendidik. Lakukanlah pemberian implus lewat cerita-cerita motivasi, sebelum memulai kelas. Dengan hal tersebut, kita sebagai pendidik akan wajib mengupdate dan mengakses berita-berita terbaru selama 24/7. Selanjutnya, pemberian cerita motivasi akan menjadi giliran peserta didik di minggu-minggu berikutnya untuk membludakkan pengetahuan yang mereka dapatkan selama ini dari teknologi yang sudah mereka kuasai.

Corong informasi, begitulah kiranya kata yang tepat bagi seorang pendidik. Jangan sampai menjadi pendidik yang hanya bisa menakut-nakuti. Jadilah pendidik yang suka memotivasi dengan beragam ilmu yang sekiranya cocok bagi generasi Z. Anak zaman now sebenarnya haus akan berita positif. Maka dari itu, sudah seyogyanya kita sebagai orang tua di sekolah menaklukkan hati mereka dengan beragam asupan positif. Sebagai upaya menyongsong agar masa depan mereka cerah. Karena pada sejatinya, di zaman ini semua tenaga sudah beralih pada teknologi. Sehingga kita harus benar-benar melek menghadapi dunia yang segenggaman ini.

Mari menjadi seorang pendidik yang selalu bertanya dan memberi pertanyaan kaitkan dengan trend yang ada saat ini. Jangan malu untuk mendekati peserta didik, walaupun hanya menanyakan kabar atau segala hambatan yang mereka alami saat belajar. Jadilah mediator dan motivator bagi peserta didik kita. Dengan cara itu kita akan benar-benar menjadi pendidik yang cerdas dengan tidak membiarkan mereka menjelajah dunia dengan sesukanya tanpa ada tujuan dan capaian yang jelas.

Segala usaha yang kita lakukan untuk peserta didik kita akan menjadi ladang amalan yang senantiasa mengalir dalam setiap dentuman nafas. Tak perlu muluk-muluk untuk merubah sikap dan perilaku peserta didik, karena mereka hanya butuh hal-hal sederhana untuk bisa berubah. Contohnya saja dengan motivasi yang kita berikan, mereka akan mampu menyaring dengan sendirinya apa yang harus mereka lakukan. Kemudian mereka akan aksi dengan sendirinya tanpa menunggu aba-aba, karena para anak millennial sudah sangat cerdas dalam menggunakan fasilitas teknologi yang sekarang sudah sangat mendunia.

Kombinasikan segala informasi dengan keaktualan yang ada untuk dijadikan perbandingan bahwa segala kemungkinan akan dapat teratasi dengan saling berdiskusi, bertukar pendapat, memberikan semangat dan wejangan yang hangat. Hanya untuk menyentil hati agar peserta didik merasa “baper”, bahasa gaulnya seperti itu, menghadapi dunia yang mengglobal dengan teknologi yang sulit disaring baik buruknya. Tapi sudah tak jadi kendala bagi para pendidik karena bekal yang tertanam dalam benak peserta didik mengenai ragam inspirasi dan motivasi sudah barang tentu mengakar.

Sederhana tapi luar biasa dampak yang dihasilkan dari pemakaian teknologi yang baik dan benar. Beragam informasi baik yang menyangkut materi pembelajaran, politik, ekonomi dan lain sebagainya bisa dengan mudah diketahui, tak perlu bergerak kesana kemari. Hanya duduk santai, scroll telepon genggam semuanya sudah bisa didapatkan. Para generasi millennial memiliki kecerdasan yang luar biasa hebat dengan pemikiran yang kritis dan kreatif terhadap segala perkembangan yang terjadi. Maka dari itu, beri lowongan kepada mereka untuk menghasilkan karya-karya luar biasa sebagai pengembang masa depan mereka, tak perlu menuntut dan menakut-nakuti dalam belajar, karena segala yang berupa tuntutan tak bisa direalisasikan dengan maksimal.

Realita yang ada sekarang masih banyak peserta didik yang terpaksa belajar karena memang dipaksa untuk melakukan segala sesuatu yang bukan kehendak mereka. Sebagai contoh kecil, orang tua yang mengharuskan anaknya berprestasi dalam bidang akademik padahal si anak tersebut pandai dan berbakat pada bidang non akademiknya. Dengan langkah tak ada greget si anak yang penurut akan melakukan apa yang orang tua inginkan, sehingga yang dihasilkan tidak akan ada kemaksimalan walaupun nantinya nilai akan ada perubahan.

Pentingnya memberikan kebebasan pada anak pada era milenial sebenarnya pengaruh positifnya luar biasa. Jika, sebelumnya sudah ada arahan dan wejangan. Dengan begitu, eksplorasi anak lebih luas dengan bantuan teknologi yang saat ini menjadi teman hidup mereka dalam melakukan segala aktivitas di kesehariannya. (*)

 

*)  Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Malang

  • Editor : Husnun
  • Uploader : irawan
  • Penulis : ist
  • Fotografer : -

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Curi Burung Parkit, Remaja Ngajum Ditangkap

Pembobol SMP An-Nur 2 Bululawang Tertangkap

Terapkan Sapta Pesona Untuk Menyambut Libur Lebaran

Fried Calamari, Camilan Renyah saat Berbuka Puasa

Lulus, Minimal Siswa Hafal 3 Juz

Mantapkan Metode Experiential Learning

Daftar Sekolah Dekat Rumah, Antre Mulai Subuh

VIDEO