Tanpa Ketegangan, Belum Sentuh Moral Generasi Penerus

  • 18-03-2019 / 03:38 WIB
  • Kategori:Politik
Tanpa Ketegangan, Belum Sentuh Moral Generasi Penerus DISKUSI DEBAT: Para pakar dari bidang pendidikan, kesehatan, sosial, budaya dan politik serta perwakilan PKS dan PKB serius mengikuti Diskusi Debat Cawapres yang dipimpin Pemred Malang Post, Dewi Yuhana.

MALANG-Debat Calon Wakil Presiden antara KH Ma’aruf Amin dan Sandiaga Uno meninggalkan kesan adem ayem. Kedua sikap dan pembawaan masing-masing cawapres cenderung sama. Se­hingga debat kemarin jauh dari kata tegang atau sindir-menyindir yang biasa terjadi. Kesan itu terasa dari hasil diskusi nonton bareng Debat Cawapres di Graha Malang Post, kemarin malam.

 “Secara umum debat ini jauh dari debat sebelumnya yang penuh ketegangan sindir-menyindir. Ma’aruf sangat tenang pembawaannya, se­dangkan Sandiaga juga tidak meluap-luap. Jadi saat ada menyindir pun caranya sopan,”papar Wawan Pakar Politik Kota Malang Wawan Sobari PhD.

Pakar politik dari Universitas Brawijaya (UB) Malang ini menyampaikan jika dinamika debat kemarin sangat sederhana. Meski begitu di sisi lain debat semalam memiliki sisi positif bagi salah satu cawapres yakni Cawapres no 1. Di mana setelah debat kemarin, Maaruf yang selama ini dipandang tidak menguasai materi dan hanya mengikuti apa yang dikatakan pasangannya Jokowi, mampu membuktikan dirinya.

“Di sisi lain memang Maaruf Amin dapat membuktikan diri. Selama ini kan dia di underestimate-kan. Debat ini menjawab keraguan publik jika dia sebenarnya juga menguasai tema-tema tersebut,” tegas Wawan.

Sementara itu dipandang pula debat semalam tidak agresif di mana kedua cawapres dengan pemikirannya masing-masing dapat membawa topik dari cara pandangnya sendiri-sendiri. Hal ini salah satunya disampaikan Ketua Dewan Pendidikan Kota Malang Prof. Dr. Muhammad Amin SPd MSi kemarin malam di Ruang Rapat Redaksi Malang Post.

“Ini fifty-fifty apalagi di segmen pendidikannya, Karena KH Maaruf meski menawarkan banyak konsep akan tetapi bisa dikatakan sangat matang. Akan tetapi ketika dilihat di sisi empiris tentu saja wacana Link and Match Sandi juga yang dibutuhkan saat ini,” ungkap Prof Amin.

Hal senada disampaikan juga oleh budayawan Kota Malang Dr. Riyanto M Hum. Di mana ia menyampaikan apa yang dibawa masing-masing cawapres dapat mewakili dua golongan masyarakat besar.

Yakni golongan menengah ke atas dan menengah ke bawah. Apa yang disampaikan KH Maaruf Amin dengan konsep dan sistem penyelesaian masalah pendidikan, kesehatan hingga sosial lebih pada metode preventif promotif akan lebih dipahami oleh golongan menengah  ke atas.

“Seperti misalnya ngomongin stunting. Menengah ke bawah kan tidak akan mikirin apa itu stunting. Tapi apa yang disampaikan Sandiaga dengan penekanan lapangan pekerjaan akan lebih menarik bagi yang menengah ke bawah tentu saja,” tegas pria yang juga Direktur UBTV ini.

Sementara itu pendapat cukup berbeda datang pula dari Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang Luluk Dwi Kumalasari S.Sos MSi. Salah satu tema debat yakni permasalahan sosial kurang memuaskan dibahas dalam debat cawapres kemarin. Dikatakannya pembahasan spesifik terkait permasalaham moral masyarakat kurang diangkat secara spesifik.

“Permasalahan sosial saat ini yang berat adalah membina mental dan moral generasi penerus. Yang saya lihat dari cawapres 1 dan 2 masih belum ada yang menyentuh pada langkah spesifik mengatasi hal ini. Keduanya bicara pendidikan karakter dan akhlak terus tetapi tidak ada langkah konkret apa yang akan dilakukan. Ini yang kurang dari debat hari ini (kemarin,red),” tuturnya.

Disampaikannya pula jika bahwa keduanya pun belum dapat membawa bahasan secara multidimensional. Secara segmen kedua cawapres menjelaskan bidang per bidang tanpa mengkaitkan masalah sosial, pendidikan hingga tenaga kerja sebenarnya adalah hal yang saling berkaitan.

Sementara itu turut hadir Dekan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Islam Malang (Unisma), Dr. Hardadi Airlangga Sp PD menyampaikan jika permasalahan kesehatan apa yang disampaikan kedua cawapres pun sama-sama memiliki kelebihan dan kelemanhan masing-masing.

“Masalah JKN-KIS, distribusi obat dan tenaga medis selama ini saya kira sudah baik, hanya saja perlu perbaikan dan penyempurnaan terus. Ini memang yang dibawa terus oleh KH Maaruf. Akan tetapi di satu sisi, Sandiaga menawarkan sebuah kontra sistem di mana ia ingin merubah sistem agar lebih rinci dan menyelesaikan problem kesehatan selama ini. Ini baik, tapi selama ini yang selalu sulit adalah ketika melaksanakannya” jelasnya,

Sementara itu di sisi lain dari kacamata politisi, kedua cawapres diakui sama-sama menguasai isu dan materi debatnya masing-masing. Hal ini dapat dibuktikan dari pertanyaan dan jawaban yang dilontarkan dapat dipahami keduanya.

Ketua DPC PKB Kota Malang H. Fathullah menyampaikan apa yang disampaikan cawapres Sandiaga tentu akan sangat menarik bagi generasi milenial. Khususnya dengan wacana menekankan pada penyediaan lapangan pekerjaan.

Akan tetapi Fathullah mengatakan jika cawapres Maaruf lebih menekankan pada hal yang sudah nyata di depan dan konsen pada penekanan bekerja memperbaiki sistem yang ada lebih baik lagi.

“Karena dua-duanya ini memang tidak bisa dibandingkan. Yang satunya memang sudah banyak pengalaman jadi simple. Yang muda pasti lebih tergesa-gesa ya,” tandasnya.

Sementara itu Politisi PKS Kota Malang M. Syaiful Ali Fatah pun mengungkapkan debat semalam menarik karena menguji gagasan masing-masing calon. Dikatakannya kunci utama yang penting adalah bagaimana calon dapat menjelaskan solusi dan menemukan kunci permasalahan

“Kuncinya sebenarnya di perbaikan. Kunci permasalahan yang ada di masyarakat ditemukan dan kemudian diperbaiki”, pungkasnya.(ica/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : angga
  • Penulis : ica
  • Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI