Sistem Pendidikan Mengambang, Warga Butuh Program Nyata

  • 19-03-2019 / 01:56 WIB
  • Kategori:Politik
Sistem Pendidikan Mengambang, Warga Butuh Program Nyata serius: (ki-ka) Diskusi ini juga diikuti pakar budaya UB, Dr. Riyanto, M. Humaniora, pakar kesehatan FK Unisma dr M Hardadi Airlangga, Sp.PD, Sekretaris DPD PKS Kota Malang M Syaifull Ali Fatah STP, Sosiolog UMM Luluk Dwi Kumalasari dan Ketua PKB Kota Malang H Fatkullah dan foto kanan Ketua Dewan Pendi­dikan Kota Malang, Prof M Amin mengulas materi debat ca­wa­pres terkait pendidikan.

MALANG-Debat calon wakil presiden (cawapres), KH Ma’aruf Amin dan Sandiaga Uno tak mengulas detail tentang pendidikan. Konsep sis­tem pendidikan yang diusung belum memuaskan kalangan akademisi. 

Hal itu akhirnya meninggalkan pertanyaan. Di antaranya bagaimana Indonesia membangun sistem pen­didikan berdasarkan riset untuk meng­hadapi persaingan global. Penilaian tersebut terungkap dalam diskusi pada nonton bareng debat Cawapres RI, Minggu (17/3) malam yang digelar Malang Post.

Ketua Dewan Pendidikan Kota Malang, Prof Dr Muhammad Amin SPd MSi merupakan salah satu pakar yang memberikan ulasan.

Di antaranya soal pendapat KH Ma’aruf Amin yang hendak menguatkan instrumen pemantauan anggaran pendidikan, dengan menguatkan sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).

“Saya pikir pemanfaatan anggaran kan sudah ada instrumennya. Instrumen ini juga bukan hanya sekadar menghitung beban kerja dan kinerja,  tetapi bagaimana kembali pada tujuan pendidikan. Yakni menyiapkan generasi siap terampil dan mandiri,” jelas Amin.

Akhlak dan pendidikan karakter, dipandangnya sebagai sesuatu yang harus ditekankan pemimpin negara. Salah satu caranya merancang sistem pendidikan yang lebih baik. Sehingga dapat mengajarkan anak melatih bersikap dan meningkatkan karakter.

Tentunya juga dengan sisipan kearifan lokal. Pasalnya lanjut  Amin, masyarakat berbudaya menunjukkan karakter pendidikannya.

Apa yang dijelaskan Prof Amin sedikit banyaknya merupakan pernyataan yang disinggung oleh cawapres Sandiaga Uno. Dalam penjelasannya pada pertanyaan debat soal pendidikan, ia akan lebih menekankan pada pendidikan karakter.

Hal ini juga dikomentari pakar politik Universitas Brawijaya (UB), Wawan Sobari PhD . “Kalau saya sederhana saja, bagaimana mengawasi anggaran pendidikan tidak dilihat dari ukuran instrumen. Tapi lebih pada berapa biaya yang dikeluarkan untuk pendidikan. Instrumen pendidikan tidak sepenuhnya efektif,” jelasnya dalam diskusi yang dimoderatori Pemred Malang Post, Dewi Yuhana ini.  

Menurut Wawan, hal yang perlu diperhatikan dalam dunia pendidikan adalah bagaimana usai lulus. anak-anak Indonesia bisa segera bekerja. Dan tentu memanfaatkan ilmunya.

Meski begitu salah satu peserta diskusi dari kalangan budayawan, Dr Riyanto M Hum mengatakan,  kedua cawapres sama-sama memiliki karakter berbeda memandang sistem pendidikan.

“Kalau Sandiaga dia memang progresif, dia memang menganalisis dari data pengangguran apa yang dibutuhkan dari dunia pendidikan adalah bagaimana me-link dan match-kan lulusan. Akan tetapi Ma’aruf tidak bisa disalahkan karena konteks berbicara dengan latar belakang profesornya. Hanya saja kalau orang awam pasti lebih memilih langsung kerja kan,” paparnya.

Maksud Riyanto, kedua pandangan cawapres dalam debat tema pendidikan masing-masing memiliki pemikiran berbeda. Tapi sama-sama tidak dapat ditentukan yang mana lebih  baik atau tidak.

Sementara itu Ketua Fraksi PKB DPRD Kota Malang, HM Taufiq yang juga hadir dalam diskusi Malang Post menjabarkan jika apa yang dibutuhkan warga Indonesia saat ini dalam dunia pendidikan adalah sistem. Yakni dapat membuat  stakeholder sama-sama terlibat.

“Masyarakat sebenarnya inginnya kan sekolah saja. Tetapi orang tua juga punya peran besar nyatanya itu belum maksimal. Apa yang dijelaskan KH Maaruf bisa menunjang itu dengan pemantauan sistem, sedikit banyak akan membuat sistem pendidikan di jalurnya,” paparnya.

Sementara itu diskusi debat cawapres di Malang Post masih berlanjut di tema kesehatan dan kesejahteraan sosial yang akan dibahas dalam tulisan berikutnya. (ica/van/bersambung)

Editor : van
Uploader : angga
Penulis : ica
Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU