UPDATE NOW
UPDATE NOW

Situs Sekaran Sungguh Luas, Sepakat Lestarikan

  • 19-03-2019 / 23:32 WIB
  • Kategori:Malang
Situs Sekaran Sungguh Luas, Sepakat Lestarikan Luasan Situs Sekaran dilihat dari udara. Total area ekskavasi sekitar 380 m2.

SINGOSARI-Seluruh stakeholder setuju Situs Sekaran dijaga dan dilestarikan. Hal itu menjadi ruh rapat koordinasi yang digelar Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Selasa (19/3) kemarin. Hadir pula Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Provinsi Jatim, PT Jasa Marga Pandaan Malang serta komunitas dan pemerhati budaya. 

"Kami sebagai warga Desa Sekarpuro ingin situs itu di jaga dan dilestarikan. Selain menjadi benda cagar budaya, situs ini juga dapat menjadi daya tarik wisatawan, untuk datang ke Desa Sekarpuro, Pakis," urai Kepala Desa Sekarpuro, Sulirmanto, saat menyampaikan pendapat dalam rapat koordinasi yang digelar di kantor Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang tersebut.

Dalam rakor masing-masing pihak yang mendapatkan kesempatan berbicara, langsung meminta bahwa situs yang berada di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis dilestarikan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Restu Respati, anggota komunitas Jelajah Jejak Malang. Dia tak hanya mengatakan setuju Situs Sekaran ini dijaga dan dilestarikan. Tapi dia juga siap membantu ekskavasi lanjutan setelah jadwal ekskavasi yang dilakukan BPCB selesai.

Ya, ekskavasi yang dilakukan tim BPCB akan berakhir pada Kamis (21/3) mendatang. Namun dapat dipastikan ekskavasi belum selesai. Sehingga tim dari BPCB meminta tim dari Disparbud, Kabupaten Malang yang melanjutkan. Hanya saja, saat melakukan ekskavasi nanti, tetap harus didampingi oleh pegawai dari BPCB.

Sementara itu, Kepala BPCB Jatim Andi Muhammad Said mengatakan, proses ekskavasi sudah dilakukan selama delapan hari. Identitas Situs Sekaran, di Dusun Sekaran, Desa Sekaran, Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, sedikit demi sedikit mulai terkuak.  Situs tersebut merupakan bangunan kuno, berasal pada masa pra Majapahit atau sebelum abad XIV. Dugaan itu dikuatkan dengan temuan-temuan BPCB saat melakukan ekskavasi sejak Selasa (12/3) lalu.

"Berdasarkan bahan bata yang berukuran lebih besar dari ukuran bata di Kawasan Cagar Budaya  Trowulan, ditambah dengan temuan berupa fragmen porselen dan mata uang Cina yang didominasi berasal dari masa  Dinasti Song, maka kuat dugaan situs ini berasal dari zaman sebelum masa pra Majapahit," terang Andi.

Sementara arkeolog BPCB Provinsi Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho menyampaikan, jika tekstur batu bata pada situs cukup rapuh. Batu bata tersebut tak tahan hujan dan panas. Dia juga menyebutkan saat ini ekskavasi sudah dilakukan pada luasan lahan 380,703 meter persegi dengan grid berjumlah 32 kotak.

“Luasan ini melebihi target kami sebelumnya. Dan kami belum tahu, apakah ini masih lebih luas lagi, atau tidak. Karena sampai saat ini kami terus menggali,’’ kata pria yang akrab dipanggil Ucok ini.  Ucok juga mengatakan, grid dibuat dengan ukuran 4 m x 4 meter. Tujuannya adalah untuk memudahkan proses perekaman data. “Orientasi grid berdasarkan arah utara – selatan kompas. Dan dari grid ini pula diketahui situs ini menghadap ke Gunung Semeru dan membelakangi Gunung Kawi,’’ urainya.

Sementara dari interpretasi rekonstruksi, di situs Sekaran, tambah Wicaksono ditemukan 3 sisa pondasi struktur bata yang berdasarkan denahnya memiliki orientasi barat laut – tenggara dan masih memiliki potensi yang cukup besar ditemukan sisa-sisa pondasi lagi di area singkapan 380 meter persegi. “Situs Sekaran diperkirakan masih lebih luas dari area singkapan ekskavasi saat ini. Dengan indikasi adanya tatanan bata di barat daya area ekskavasi saat ini,’’ tambahnya.

"Batu bata yang kami temukan dan kami duga pondasi ini cukup rapuh. Sehingga dibutuhkan pelindung di atasnya," kata Wicaksono.

Dalam rapat itu juga, Wicaksono mengatakan, situs ini agar dijaga keamanannya. Ya, dia menyebutkan jika beberapa hari ekskavasi, banyak warga datang. Tapi karena kurang hati-hati, maka banyak batu bata yang patah dan hancur.

Sementara itu, Direktur Utama PT Jasa Marga Pandaan Malang, Agus Purnomo mengatakan pihaknya siap menunggu hasil. Agus mengaku sangat setuju dengan pelestarian benda cagar budaya. "Untuk menentukan sikap, kami masih menunggu hasil. Apakah akses tol digeser atau tidak," katanya.

Agus yang mengikuti rapat koordinasi mengaku jika akses tol digeser, maka akan ada tambahan biaya. Namun demikian itu tidak menjadi soal. Yang terpenting  saat ini, pihak BPCB segera menuliskan laporan tentang situs tersebut. Karena dengan temuan itu, maka pihaknya pun dapat segera melangkah.

"Kami akan melaporkan hasil ekskavasi ini ke Kementerian PUPR untuk langkah selanjutnya," ungkapnya.

Sedangkan Sekretaris Disparbud Kabupaten Malang, Ainur Rofiq mengatakan, jika Pemerintah Kabupaten Malang sangat mendukung pelestarian budaya. Bahkan, pemerintah Kabupaten Malang melalui Disparbud siap menjaga, memelihara dan melestarikan Situs Sekaran.

"Kami juga siap melanjutkan ekskavasi. ini merupakan teman terbesar tahun ini, dan kami sangat memberikan apresiasi kepada  BPCB Jatim yang maksimal dalam melaksanakan ekskavasi, dan PT Jasa Marga yang memberikan dukungan penuh selama tim melakukan ekskavasi," terang Rofiq.

Disinggung masalah anggaran untuk ekskavasi, Rofiq mengatakan tak menjadi soal. Jika ekskavasi harus melanjutkan, maka akan menanggarkan kegiatan itu dalam Perubahan Anggaran Keuangan (PAK). "Gak masalah, bekerja dulu, anggarannya belakangan. Tapi yang jelas situs ini aman dulu," urainya.

Rofik juga mengatakan jika hasil rapat koordinasi ini, segera dilaporkan kepada Wakil Bupati Malang H. M. Sanusi untuk mendapatkan arahan.

Sedangkan dalam rapat koordinasi, ada lima point kesimpulan yang di buat. Pertama pelestarian dan pemekaran situs Sekaran menjadi tanggung jawab bersama masyarakat dan stakeholder lainnya. Kedua bahwa keberadaan dan pelestarian  situs ini memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat luas.

Point ke tiga adalah  kajian lengkap tentang situs ini harus dibuat secara cepat oleh BPCB, untuk kemudian disampaikan kepada pelaksana pembangunan tol Pandaan Malang. Sehingga oleh pihak pelaksana tol dapat dilanjutkan hasilnya ke Kementerian PUPR.

Sedangkan point ke empat adalah diupayakan area situs terlindungi dari panas dan hujan, lantaran kondisi batu bata pada situs sangat rapuh dan mudah hancur. Sedangkan point terakhir adalah pengamanan dan pelestarian situs harus dilakukan secara berkelanjutan, dengan membentuk konsorsium.(ira/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : hargodd
  • Penulis : ira
  • Fotografer : ira

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

ComvaLion... Julukan Anyar Sylvano Comvalius

Wow... Comvalius Dikontrak Arema Dua Musim

Kontainer Bermuatan Sabu Diamankan Polisi di Tol Bakahueni

Hamili Anak Tiri, Ngaku Khilaf

Sepiring, Masakan Rumahan Suasana Kafe

800 Botol Bisa Buat Bangunan 3 x 3 Meter

Rute Rasa Berubah, Berlimpah Promo Menarik

VIDEO

-->