UPDATE NOW
UPDATE NOW

Struktur Situs Sekaran Mirip Puri Tabanan

  • 25-03-2019 / 04:11 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Struktur Situs Sekaran Mirip Puri Tabanan PERTAMA MEMBERITAKAN: Struktur Situs Sekaran mulai terbuka walau belum seluruhnya diekskavasi. Keberadaan situs di Dusun Sekaran, Desa Sekarpuro, Pakis, Kabupaten Malang ini pertama kali diberitakan Malang Post.

TEMUAN Situs Sekaran di Desa Sekarpuro, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang jadi perhatian nasional. Itu karena luasan dan beragam tinggalan kuno yang tersisa. Temuan ini menyingkap misteri bangunan dan kota kuno dalam konteks peradaban. Berbagai ulasan dibeber dalam diskusi Malang Post bertajuk, ‘Belajar dari Situs Sekaran: Ekskavasi, Menjaga dan Melestarikan Benda Cagar Budaya,’ Jumat (22/3) lalu. 

PERNAH melihat atau berkunjung ke kawasan Puri Tabanan di Bali? Sebuah kawasan yang disucikan karena dahulunya merupakan kediaman Raja Tabanan. Struktur Puri Tabanan dikelilingi gapura-gapura unik bergaya paduraksa. Menariknya, struktur tersebut mirip seperti yang ditemukan di Situs Sekaran.

“Kami menemukan struktur gapura. Ini mirip seperti gapura yang ada di Bali,” ungkap Arkeolog Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur, Wicaksono Dwi Nugroho. Dalam proses ekskavasi, memang menemukan semacam struktur gapura. “Mirip seperti gapura yang ada di Bali,” ujarnya.

Dugaan kuat Wicaksono itu berdasarkan sejumlah fakta. Di antaranya ukuran lubang gapura. Ukuran dari sisi ke sisi gapura (lubang masuk dan keluar,red) memiliki ciri ukuran yang sama seperti di Bali.

Pria yang akrab disapa Coi ini mengatakan,  lubang tersebut memiliki lebar kurang lebih 82 cm. Melihat ukuran lubang gapura, ia kembali meyakinkan jika struktur gapura yang ditemukan bukan gapura biasa. Namun bergaya paduraksa.

“Gapura Paduraksa bisa kita lihat di puri-puri di Bali, khususnya Puri Tabanan,” jelasnya.

Berdasarkan analisa tersebut,  Wicaksono meyakini jika struktur gapura ini dapat membawa penemuan lebih dari yang diperkirakan. Gapura Paduraksa menunjukkan sebuah kompleks hunian elit kalangan raja ataupun bangsawan.

Karena itulah Situs Sekaran berpotensi lebih besar jika dilakukan ekskavasi lebih luas. Saat ini, lanjut Wicaksono, pihaknya sudah membuka sekitar 1.760 meter persegi luasannya. Sementara potensi luasan situs dilihat dari polanya bisa mencapai dua kali lipat yakni 3.550 meter persegi. Prediksi luasan ini berkaca pada struktur puri di Bali. Seperti penemuan struktur dari jejeran tumpukkan bata lurus panjang,  yang diperkirakan dinding pembatas kawasan situs.

“Karena kami juga menemukan seperti jalur bata yang seperti mengelilingi. Akan tetapi ada bagian yang terputus karena sudah tergerus tanahnya, kemungkinan longsor. Tapi ketika kami tarik garis lurus dari bagian yang hilang itu, bisa nyambung ke bagian bata yang masih tersisa,” jelas Wicaksono.

Dikatakan pula jika orientasi bangunan atau struktur situs ini menghadap ke arah laut, bisa dikatakan miring menghadap arah sungai.  Wicaksono kembali memberikan analisanya berdasarkan paduraksa yang membawanya pada analisa kompleks hunian. Hal ini dikatakannya sangat penting untuk kembali dipelajari dan ditemukan polanya.

“Karena jika kita lihat dari atas, bekas bata-bata ini sudah membentuk semacam kompleks sebuah hunian. Ada gapura, lalu masuk sedikit dari sana ada bekas-bekas seperti ruangan hunian. Ini penting diketahui,” papar pria ramah ini.

Dari hasil temuannya saat ekskavasi, mengungkap lebih dalam. Apa yang ada di dalam Situs Sekaran penting bagi ilmu pengetahuan. Pasalnya hingga saat ini, belum ada temuan yang dapat mengungkap pola ruangan pada hunian di era kerajaan dulu.

Diperkirakan pula, Situs Sekaran berasal dari kehidupan pada abad ke 10 hingga ke 14 alias masa Pra Majapahit. “Ini dilihat dari ukuran besaran bata seperti struktur tumpukkan bata di Situs Trowulan. Didukung juga dengan temuan lain yang menguatkan,” papar pria yang juga Koordinator Ekskavasi Situs Sekaran ini.

Temuan lain yang menguatkan yakni dari fragmen dan mata uang China. Didominasi dari masa Dinasti Song (yang berjaya pada abad 10 sampai 14). Meski begitu ada pula mata uang China yang juga berasal dari mata uang Dinasti Han dan Ming. Dapat dilihat dari ukiran-ukiran dan bahan pembuatnya.

Dugaan sementara, Situs Sekaran sejak Singhasari atau Ken Arok. Mengacu pada Pararaton, berada di wilayah Nagari Kabalon, hingga di wilayah Tugaran, yang kini menjadi Tegaron di kawasan Lesanpuro, Kota Malang.

Meski begitu ia mengakui jika analisa tersebut hanya hipotesa. Tentu ini masih membutuhkan temuan lain untuk memperkuat berbagai dugaan.

 

Tabir Kota Tua dalam Pararaton

Sementara itu, arkeolog Universitas Negeri Malang (UM), Dwi Cahyono mengatakan, penemuan Situs Sekaran berkaitan dengan kota kuno di wilayah Malang timur atau disebutnya sebagai Ancient City. Penemuan situs itu seperti membuka tabir rahasia kota kuno seperti yang disebutkan dalam Pararaton.

Dalam kitab itu disebutkan ada sebuah kota tua yang terletak di lereng Gunung Buring. Kota itu bernama Kabalon, sebuah daerah yang dikenal sebagai sentra pengrajin emas. “Bahkan dalam kitab Pararaton disebutkan Ken Arok pernah menolong Mpu Palot yang pulang dari Kabalon ke Turyantapada,” ungkapnya.

Sedangkan Situs Sekaran berada di lereng Gunung Buring. Ken Arok pernah belajar di Kabalon namun dia tidak dipercaya oleh warga Kabalon. Lantas ia pergi ke Tugaran. Letak Tugaran hanya tiga kilometer dari Situs Sekaran.

Dalam Kitab Pararaton pula dijelaskan, lanjut Dwi, berkisar antara abad 14, kawasan Kabalan merupakan tempat tinggal Putri Hayam Wuruk yakni Kusuma Wardhani. Hal ini berkaitan dengan apa yang dijelaskan Wicaksono sebelumnya, jika Situs Sekaran diprediksi merupakan kompleks hunian raja-raja dan keturunannya. Dikatakannya situs ini diduga menunjukkan pola pemukiman masyrakat lembah sungai.

“Karena di sana dilalui Sungai Amprong. Kawasan ini pun kami duga menunjuk pada pemukiman jika ditarik dari kawasannya yang memiliki kata ‘puro’ yang berarti kota. Kemungkinan Sekaran menjadi tempat pemukiman yang tidak terlalu padat,” kata dia.

Situs Sekaran merupakan area pemukiman seiring dengan toponimi area situs. 

Dwi mengatakan jika sebelumnya sudah mempelajari area wilayah Malang Timur. Itu seiring dengan adanya persamaan nama wilayah. Yaitu Madyopuro, Lesanpuro, Sekarpuro dan Ngadipuro.

”Ngadipuro adalah nama dusun, yang terpecah dua. Yaitu Ngadipuro Lor ikut Desa Sekarpuro, sedangkan Ngadipuro Kidul ikut wilayah Madyopuro, Kota Malang,” katanya.

Berdasarkan toponimi tersebut, Dwi pun membuat pola untuk wilayah Malang Timur.  Yaitu manca lima atau empat plus satu. Empat sesuai mata angin dan satu berada di tengah atau menjadi sentrum.

”Tengah adalah Madyopuro. Karena dari namanya madyo dari bahasa lama adalah pusat, sedangkan puro adalah kota,” ungkapnya. Sementara di sebelah utara adalah Desa Sekarpuro. Dia mengatakan nama sekar sendiri diambil sebagai kata lain bunga. Dimana wilayah tersebut dulunya bisa diartikan sebagai taman, sedangkan sebelah selatan adalah Lesanpuro, yang menjadi pintu gerbang kota. Dusun Ngadipuro, yang ada di lereng gunung. 

Dugaan bahwa wilayah Malang timur merupakan area pemukiman, dikuatkan dengan aliran Kali Amprong, yang menjadi sumber kehidupan. Berbagai temuan sejarah lain, di antaranya Situs Gribig di Kelurahan Lesanpuro, makam di Madyopuro dan Sekarpuro, serta temuan-temuan lainnya. 

”Temuan-temuan itu menguatkan hipotesa saya, apakah di wilayah Malang timur itu ada jejak kota,” kata Dwi. Kini lebih menguatkan lagi dengan temuan Situs Sekaran. (ica/ira/van)

  • Editor : van
  • Uploader : angga
  • Penulis : ica
  • Fotografer : Guest

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

ComvaLion... Julukan Anyar Sylvano Comvalius

Wow... Comvalius Dikontrak Arema Dua Musim

Kontainer Bermuatan Sabu Diamankan Polisi di Tol Bakahueni

Hamili Anak Tiri, Ngaku Khilaf

Sepiring, Masakan Rumahan Suasana Kafe

800 Botol Bisa Buat Bangunan 3 x 3 Meter

Rute Rasa Berubah, Berlimpah Promo Menarik

VIDEO

-->