UPDATE NOW
UPDATE NOW

Empat Katup Jantung Bocor, Hidup Menumpang di Rumah Tetangga

  • 25-03-2019 / 23:31 WIB
  • Kategori:Malang
Empat Katup Jantung Bocor, Hidup Menumpang di Rumah Tetangga KURUS: Baru berusia satu tahun, Adelia Faranisa Azni harus hidup dengan mengenakan selang di bagian pipi untuk pengganti makanan.

Adelia Faranisa Azni, Balita Penderita Penyakit Jantung Bawaan

Di tengah gerimis, Malang Post mendatangi sebuah rumah berwarna biru muda di kawasan Jalan Bareng Raya II, Senin (25/3) siang kemarin. Di dalam rumah tersebut, ada seorang bayi berusia 1 tahun yang bernama Adelia Faranisa Azni. Tubuhnya sangat kurus dan di bagian pipi terdapat sebuah selang yang digunakan sebagai pipa makanan. Bayi malang tersebut sedang menderita penyakit jantung bawaan (PJB).

Ibunda Adel (sapaan akrab Adelia), Siti Rahma mengungkapkan, sejak lahir, Adel berbeda dengan bayi pada umumnya. Ketika lahir, badannya biru dan hanya seberat 2,3 kilogram. Kemudian, ketika diberi ASI, ia hanya mampu meminumnya sedikit.

“Kemudian, kepalanya ini terus berkeringat. Sehingga membuat bantalnya basah,” terang perempuan berusia 28 tahun itu.

Ketika berusia tiga hari, Adel juga sempat menderita sakit kuning. Kemudian, juga disertai dengan sesak nafas. “Setelah itu, saya periksa ke dokter dan anak saya divonis terkena penyakit jantung bawaan. Saya sempat kaget dan tidak percaya,” ujar perempuan berjilbab ini sambil berkaca-kaca.

Ternyata, penyakit yang diderita Adel sudah muncul sejak di dalam kandungan. Sebab, sang ibu terkena virus tokso. “Sama dokter, saya belum boleh hamil lagi. Harus vaksin dulu. Sampai saat ini belum vaksin, lha biayanya mahal,” ujar dia.

Selama ini, lanjut Siti, Adel sudah sempat periksa ke dokter. Hasilnya, pada 4 katup jantung Adel mengalami kebocoran. Selain itu, Adel juga tidak memiliki pembuluh darah untuk mengalirkan darah ke paru-paru.

Karena itulah, sejak lahir, Adel bolak balik ke rumah sakit untuk opname. Satu kali opname, membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua minggu. “Tak jarang, bisa sampai satu bulan. Sudah satu minggu ini, sejak keluar dari rumah sakit, Adel sehat. Ini mukjizat yang luar biasa, Alhamdulillah,” ujar dia.

Dalam merawat Adel, ia juga membutuhkan perawatan yang ekstra. Saat ini, Adel menumpang di rumah tetangganya, tepat berada di sebelah rumahnya. “Sebab, di rumah saya itu ada warung dan juga jualan bensin. Selain itu, kakak saya juga buka bengkel. Adel tidak bisa. Harus ada di rumah yang punya ventilasi dan tanaman,” jelas Siti.

Beruntung, ia mendapat tumpangan gratis dari tetangganya. Sebab, sang tetangga tak tega melihat kondisi Adel. Sampai saat ini, Adel masih belum mendapatkan vaksin untuk imun tubuhnya secara lengkap. Sebab, sampai saat ini, kondisi Adel masih tidak terprediksi. Kalau dalam keadaan terlalu lelah, badannya kemudian semakin biru dan mengalami sesak nafas.

“Kalau begitu, Adel sedang kumat dan harus segera di bawa ke rumah sakit,” kata dia.

Mantan pegawai house keeping Melati Husada ini melanjutkan, sebenarnya, Adel butuh operasi jantung. Namun, harus dirujuk ke Jakarta. Sebab, rumah sakit di Kota Malang masih belum memiliki alat yang lengkap.

“Waktu Adel usia lima bulan, saya bawa ke sana. Namun, tidak bisa dioperasi lantaran pembuluh darah Adel terlalu kecil. Rasanya campur aduk, sudah susah payah sampai di sana dan jauh-jauh, ternyata ndak bisa (operasi),” papar dia sambil menangis.

Karena terlalu lelah untuk mengikuti antrean dokter, tubuh Adel akhirnya drop dan membuatnya dirawat di rumah sakit Jakarta. Selama dua bulan pertama, Adel dan ibunya sering riwa-riwi menuju rumah sakit dan harus mengantre sejak pagi hingga malam.

“Akhirnya Adel drop, dia sakit dan terkena radang paru-paru juga. Akhirnya, dia dirawat di sana selama satu bulan. Setelah dinyatakan benar-benar pulih, kami baru kembali ke Malang,” kata dia.

Selama ini, lanjut Rahma, Adel setiap hari hanya mengkonsumsi susu khusus dan dialirkan melalui pipa makanan. “Setiap dua minggu sekali, harus diganti sonde (pipa makanan) ke rumah sakit,” beber dia.

Selain itu, Adel juga mengkonsumsi vitamin, obat khusus jantung dan obat anti alergi. “Kalau dia panas, saya juga berikan obat khusus. Kalau dia batuk, harus di uap, sebanyak enam kali sehari,” lanjut Siti.

Namun, dalam merawat Adel, justru membutuhkan banyak biaya. Sehari-hari, ayah Adel bekerja sebagai karyawan di Toko Sajadah sambil menjadi sopir ojek online. Sementara dirinya, hanya sebagai ibu rumah tangga yang sesekali berjualan online. Sebab, biaya perawatan Adel cukup mahal. “Kalau sedang sakit batuk atau sesak, Adel harus uap, satu kali uap 25 ribu dan dalam satu hari harus 6 kali,” kata dia.

Selain itu, untuk susu khusus, satu kaleng dibanderol Rp 400 ribu. Sementara, Adel membutuhkan 5-6 kaleng. “Itu untuk makanan sehari-hari Adel, setiap tiga jam, harus diberi susu sebanyak 80 mililiter,” papar dia.

Siti berharap, ia bisa memberikan pengobatan yang terbaik bagi anaknya. Sebagai seorang ibu, ia memiliki harapan besar supaya anaknya tumbuh seperti teman-teman seusianya. “Banyak yang menyarankan saya untuk memberikan terapi kepada Adel. Namun, saya tidak memiliki biaya. Saya akan berusaha sekuat tenaga supaya Adel sembuh. Saya tidak tega melihat dia terus-terusan seperti ini,” pungkas Siti sambil menyeka air matanya.(tea/ary)

  • Editor : van
  • Uploader : abdi
  • Penulis : tea
  • Fotografer : Ipunk

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

ComvaLion... Julukan Anyar Sylvano Comvalius

Wow... Comvalius Dikontrak Arema Dua Musim

Kontainer Bermuatan Sabu Diamankan Polisi di Tol Bakahueni

Hamili Anak Tiri, Ngaku Khilaf

Sepiring, Masakan Rumahan Suasana Kafe

800 Botol Bisa Buat Bangunan 3 x 3 Meter

Rute Rasa Berubah, Berlimpah Promo Menarik

VIDEO

-->