Teror Barracuda, Si Entonk dan Gethuk

  • 26-04-2018 / 21:07 WIB
Teror Barracuda, Si Entonk dan Gethuk foto: stenly/mp

Alhamdulillah, patut disyukuri, away Arema ke kandang Madura United berjalan lancar dan aman-aman saja. Baik sebelum, saat dan sesudah pertandingan tak ada kejadian yang membahayakan atau mengancam keselamatan tim Singo Edan. Hingga kepulangan Dendi Santoso dkk, Minggu (22/4) sore, tak lagi dijumpai penyerangan seperti yang terjadi musim lalu.
Luar biasa. Langkah antisipasi Panpel Madura United cukup maksimal, bahkan sejak rombongan tim Arema baru mendarat di Bandara Trunojoyo, Sumenep, Kamis (19/4) lalu. Tim Arema disambut sedikitnya 10 polisi dengan membawa senjata laras panjang. Pemain mendapatkan instruksi untuk segera naik ke bus, tanpa harus menunggu bagasi.

Termasuk tak bisa berlama-lama dengan Aremania Madura yang menunggu mereka di depan bandara.Hotel tempat tim menginap pun dijaga ketat polisi. Termasuk pengawalan ketat diberikan ketika berangkat menuju Stadion Gelora Ratu Pamelingan, untuk sesi latihan resmi. Ada lebih dari 20 polisi, dengan separuh lebih diantaranya bersenjata laras panjang.
Perjalanan ke stadion yang hanya 15 menit, dikawal ketat di bagian depan, belakang, kiri dan kanan bus pemain. Begitu memasuki stadion, para polisi ini berjajar membuat barikade untuk memberi jalan rombongan tim Arema turun dari bus dan masuk ke dalam stadion. Ini baru mau latihan, masih belum jadawal pertandingan yang sebenarnya.

“Pengamanan memang meningkat dari pada sebelumnya. Pihak Panpel dan kemananan antisipasi setelah kejadian di Malang, saat Arema melawan Persib,” ujar Tabri, Media Officer Madura United. Laga Madura United lawan Arema pun dijaga super ketat, dengan panpel menyiapkan pengamanan meningkat 200 persen dibanding laga sebelumnya, Sabtu (21/4) lalu.
Jika normalnya pengamanan di Stadion Pamelingan hanya 250 personil, maka meningkat jadi 800 personil saat laga Madura United lawan Arema. Panpel Madura United pun meyakinkan tim Arema bakal aman saat away kali ini. Terbukti aman.  Mulai berangkat menuju stadion hingga kepulangan menuju hotel, tim pengamanan lengkap dengan dua kendaraan taktis (rantis) barracuda.

Barracuda ini mengawal perjalanan tim Arema FC kala menuju stadion, berada di depan dan belakang bus yang mengangkut pemain Singo Edan. Selain dua rantis, ada sekitar 30 petugas keamanan dengan berkendara motor yang mengawal rombongan Arema. Panpel benar-benar tak mau kecolongan, seperti tahun lalu bus Arema terkena lemparan baru.

Ya begitulah, super ketatnya pengamanan untuk tim Arema, yang ternyata juga membuat pemain menjadi tegang. Maklum saja, mereka melakoni pertandingan sepakbola yang kebetulan di luar kandang. Bisa dibayangkan, menjalani sesuatu yang tidak seperti biasanya. Dikawal dua barracuda. Memang sukses membuat tim aman, tapi juga sukses buat pemain Arema tak tenang.

Terlepas langkah antisipasi panpel yang layak mendapat apresiasi, menurut saya, sebenarnya membuat kondisi tim secara psikologis jadi terganggu. Mereka seolah dalam ancaman yang luar biasa jelang pertandingan. Pemain seperti terkondisikan dari awal, bahwa pertandingan ini berbahaya, rawan ricuh,  atau rawan mendapat serangan dari suporter lawan.
Untuk itu, dua Barracuda telah disiapkan untuk antisipasi pemain naik kendaraan rantis ini. Misal tim Arema menang, besar kemungkinan pemain harus naik barracuda. Ya, inilah sepakbola Indonesia yang tak bisa lepas dari urusan non teknis, bahkan sebelum laga dimulai. Semoga kekalahan Arema atas Madura United bukan karena ‘teror barracuda’.

***
Sudah dalam posisi unggul 1-2 pada menit 66, tak mampu dipertahankan tim Singo Edan atas Madura United. Bahkan tak sampai harus menunggu hingga menit 90, karena selang beberapa menit, Maitimo berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2, lewat hadiah penalti. Seperti gol Thiago dari penalti yang membuat Arema sempat unggul atas tuan rumah.

Jika sebelumnya Benny Wahyudi yang melakukan pelanggaran, maka hadiah penalti balasan terjadi karena Utam Rusdiana melakukan pelanggaran, menit 72. Pada titik ini, mendadak teringat pada sosok Kurnia Meiga Hermansyah. Kiper Arema yang yang akrab disapa Si Entonk itu memiliki kemampuan yang lengkap. Termasuk dalam urusan menggagalkan penalti. Saya hanya bisa berandai-andai saja, mungkin Enthonk mampu mengamankan tendangan Maitimo.

Bahkan bisa jadi, adik kandung Ahmad Kurniawan ini bisa melakukan antisipasi gerakan Greg Nwokolo tanpa harus melakukan pelanggaran yang berbuah penalti. Ya, pada momen-momen krusial dibawah mistar gawang Arema, selalu teringat sosok Kurnia Meiga yang statusnya kini belum jelas. Saya yakin, banyak Aremania merindukan aksi kiper Timnas itu di tim Arema.

Apalagi dalam kondisi tim Arema terpuruk seperti saat ini, dengan sederet kiper yang ada, ternyata belum ada satu pun kiper yang paten, menjadi benteng terakhir pertahanan Arema. Adanya pelatih kiper asing pun masih butuh waktu, menjadikan kiper nomor satu. Baru kelihatan Utam dan Kartika Ajie yang sudah kebobolan 12 gol dari lima laga Arema.

Saya percaya, mereka kiper yang bagus dan bertalenta. Hanya saja, untuk sebuah kompetisi besar yang dengan barisan penyerang asing berkualitas, dibutuhkan sosok kiper yang berkelas. Menarik saat Utam sudah terpincang-pincang sebelum eksekusi penalti dilakukan oleh Maitimo, masih tetap dipertahankan, meski ada Kartika Ajie di bangku cadangan.
Hingga akhirnya, gol penentu kemenangan Madura United tercipta oleh Davronov menit 87 dan merubah kedudukan jadi 3-2.

Terlepas gol ketiga Madura United ini ada pengaruh dengan kondisi Utam, yang pasti Davronov menjebol gawang Arema dari eksekusi tendangan bebas jarak jauh. Sekali lagi, terbayang sosok Si Enthonk saat itu bisa mengamankan gawang Arema.

Begitu juga gol pertama Madura United dari tendangan bebas Greg Nwokolo, menit 42. Berhasil mengecoh Utam yang gagal melakukan antisipasi. Terkecoh dengan pergerakan Fabiano yang ikut terbang, Utam justru gagal mengamankan bola dari tendangan Greg. Padahal aksi-aksinya pada 40 menit pertama terbilang cukup bagus dalam membaca arah bola.

Hanya konsistensinya yang belum terjaga, dalam sebuah pertandingan sebesar Liga 1. Maklum dengan jam terbang di level kompetisi tertinggi ini, terbilang masih minim, Utam perlu terus berbenah. Lalu di laga berikutnya, setelah Kartika Ajie dan Utam Rusdiana, akankah kiper Joko Ribowo atau Reky Rahaya bakal mendapat giliran tampil? Yang jelas bukan Si Enthonk.

***
Jujur, secara keseluruhan permainan Arema sudah ada peningkatan, saat lawan Madura United. Sekalipun akhirnya kalah 3-2. Pasca hasil imbang 2-2 lawan Persib yang sempat berujung kericuhan di Stadion Kanjuruhan, ada motivasi tinggi pemain Arema untuk menang. Setidaknya menunjukkan permainan yang lebih berkarakter Singo Edan.

Bahkan ada keberanian tim Arema untuk melakukan perombakan formasi pemain. Sepertinya dengan membangku cadangkan pemain asing. Sebuah langkah yang tak lazim dengan memilih pemain lokal dibanding pemain asing yang harusnya memiliki kualitas di atas rata-rata. Namun justru memberi warna yang berbeda, khususnya di lini tengah Arema.

Lalu yang menjadi pertanyaan, ini adalah buah tangan siapa? Ya, racikan baru ini merupakan taktik strategi dari coach Joko ‘Gethuk’ Susilo atau murni dari Milan Petrovic. Pelatih asing yang dikontrak dengan status asisten itu memang mendapat kepercayaan menangani Dendi Santoso dkk, saat coach Gethuk mengikuti kursus pelatih AFC Pro. Namun hanya meninggalkan satu laga.

Tepatnya saat Arema menjamu Persib di Stadion Kanjuruhan, Gethuk tak mendampingi Arema. Namun lawan Madura United, pelatih asal Cepu itu sudah hadir dan mendampingi tim Singo Edan. Meski dalam persiapan dipimpin oleh Milan Petrovic, namun rasanya ada campur tangan Gethuk yang dari awal statusnya sebagai head coach alias pelatih kepala.
Maaf. Saya sempat terpikir, kalau misal pada laga lawan Madura United itu, sekalian tanpa kehadiran coach Gethuk, mungkin beda hasilnya. Bukan karena faktor Gethuk tak membawa keberuntungan, namun dalam hal urusan teknis. Maksud saya, jika benar Milan dapat kepercayaan 100 persen menyiapkan tim lawan Madura United, ya harusnya tanpa Gethuk.

Pendapat saya, dalam satu kapal, harusnya tak ada dua nahkoda. Ya, tak bisa ada dua matahari. Tim jadi bingung dalam mengambil keputusan puncak. Meski saya tidak tahu persis, bagaimana status atau hubungan coach Gethuk dengan Milan Petrovic ini sebenarnya. Apakah memang Gethuk sebagai head coach dan Milan asisten, atau keduanya memang berduet?

Pastinya, desakan Gethuk untuk mundur masih terus terjadi. “Tapi Gethuk gak mungkin mundur, tapi duet,” ungkap seorang teman yang cukup dekat dengan manajemen tim

  • Editor : bua
  • Uploader : slatem

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Singo Edan Pelajari Kelemahannya

Warga Surabaya Tertangkap Nyabu di Sukun


GRATIS !!!

Untuk Berlangganan Berita Malang Post Online,
Ketik Nama dan Email di Form Berikut Ini.



VIDEO

-->