trial_mode: on

SPMI Harus Singkron Dengan IAPT 3.0 dan IAPS 4.0

  • 15-04-2019 / 14:52 WIB
  • Kategori:Kampus
SPMI Harus Singkron Dengan IAPT 3.0 dan IAPS 4.0 Kasubdit Penguatan Mutu Kemenristek Dikti, Masluhin Hajaz, ST, memaparkan materinya terkait implementasi SPMI terhadap akreditasi.

MALANG - Diluncurkannya instrumen akreditasi yang baru dengan versi 3.0 oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) sejak Oktober 2018 lalu, perlu lebih dikenal dan dimengerti lebih jauh oleh Perguruan Tinggi. Oleh karena itu, Instrumen Akreditasi Perguruan Tinggi (IAPT) 3.0, terus disosialisasikan agar perguruan tinggi dapat menyesuaikan mutu mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin cepat.  

Dalam hal ini, STIE Malangkucecwara Malang (ABM) menggelar workshop dengan tema Sinkronisasi SPMI dengan IAPT 3.0 dan IAPS 4.0. Workshop yang digelar Senin (15/4), dihadiri oleh utusan Perguruan Tinggi dari dalam dan luar Kota Malang. 

Sebagai pemateri hadir dalam acara tersebut, Prof. Dr. Nyoman Sadra Dharmawan, selaku Tim Pengembang SPMI Universitas Udayana, Masluhin Hajaz, ST, selaku Kasubdit Penguatan Mutu, Ditjen Belmawa Kemenristek Dikti dan Dr. Ir. Setyo Pertiwi, M.Agr., sebagai Tim Pengembang SPMI IPB. 

Ketua STIE Malangkucecwara Malang Dra. Bunyamin, Ph.D., mengatakan standar mutu kampus menitik beratkan pada kualitas  outcome Perguruan Tinggi sebagai aspek yang penting untuk diperhatikan. Mengingat aspek ini berkaitan dengan bagaimana lulusan perguruan tinggi dapat mendapatkan pekerjaan sesuai dengan kompetensinya. “Peningkatan penjaminan mutu sesuai standar yang ditentukan akan memberikan rasa puas pada custumer dan steak holder,” ujarnya. 

Ia berharap worshop kali ini menjadi momentum untuk terjalinnya networking antara partisipan. Sehingga kedepannya menjadi patner untuk maju bersama. 

Kasubdit Penguatan Mutu Kemenristek Dikti, Masluhin Hajaz, ST, mengatakan, 
Implementasi Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) digunakan untuk akreditasi. “Kalau dulu mungkin tidak dianggap, tapi saat ini sembilan puluh persen menggunakan SPMI,” katanya saat menyampaikan materi dengan judul Penguatan Budaya Mutu Melalui Implementasi SPMI. 

Dalam workshop kali ini, pihaknya hanya menginspirasi para peserta membuat instrumen. Bukan memberikan bocoran mengisi instrumen. “Kami hanya memberikan inspirasi bagaimana membuat instrumen dan menyusun dokumen yang baik,” tambah Hajaz.

Ia menegaskan, untuk meningkatkan SPMI, maka pimpinan dan jajaran dosen memiliki visi dan presepsi yang sama. Semua komponen kampus harus satu tujuan. Bagaimana penjaminan mutu terus meningkat. “Pimpinan harus mempunyai visi dan pemikiran yang kuat. Bagaimana kampus bisa terus maju dengan mutu yang bagus,” tegasnya. (imm)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : JPC
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI