Begini Cara Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Siswa

  • 23-04-2019 / 14:44 WIB
  • Kategori:Sekolah
Begini  Cara Tumbuhkan Rasa Percaya Diri Siswa JUARA: Salah satu prestasi siswa-siswi SMPK Mardi Wiyata dalam bidang seni musik band di Charis Akademi. (ist/Malangpostonline)

MALANG - Ada banyak talenta dan potensi yang dimiliki anak namun tidak terdeteksi oleh orang tua maupun guru. Atau potensi yang ada diketahui namun tidak bisa berkembang dengan maksimal. Salah satu faktor yang menjadi penyebabnya yaitu karena tidak adanya ruang maupun kesempatan yang diberikan pada anak didik.  

Kepala SMPK Mardi Wiyata Drs. Jeremias Torimtubun menegaskan, tugas guru tidak hanya mengajar dalam kelas. Tetapi juga memperhatikan dan menilai semua potensi yang ada dalam setiap diri siswa. Sebab tidak semua siswa memiliki kemampuan di satu bidang yang sama. Ada yang hanya mampu di bidang sains dan ada juga yang di bidang sosial, olahraga atau seni kreatifitas. “Tugas guru untuk menilai dan memetakan semua potensi tersebut, agar siswa tumbuh berkembang bersamaan dengan potensi yang mereka miliki,” katanya kepada Malangpostonline.com.  

Ketika guru menemukan bakat dan potensi dalam diri anak didik, maka harus ada wadah dan kesempatan untuk mengembangkannya. Kalau tidak, kreatifitas siswa akan mati. “Ketika anak punya potensi tapi tidak diberikan kesempatan maka akan mandul,” imbuhnya. 

Sebaliknya, kata dia, ketika siswa diberikan kepercayaan untuk dibina dan disertakan dalam berbagai perlombaan maka perkembangan akan terlihat dalam diri mereka. “Dengan dipercaya anak akan merasa dihargai dan akan mengeluarkan kemampuannya dengan maksimal,” ungkapnya. 

Bahkan menurut Jeri, sapaan akrabnya, ketika anak diberikan kebebasan dalam mengeksplore kemampuannya, akan mucul bakat-bakat baru di luar dugaan guru. “Karena anak-anak sudah percaya diri. Tidak lagi minder atau kecil hati. Sehingga seluruh potensinya akan muncul,” terangnya. 

Di SMPK Mardi Wiyata, mulai kelas VII siswa sudah mendapatkan pendampingan khusus. Apalagi sejak tahun lalu sekolah ini mencanangkan Tahun Prestasi, tidak ada lagi batasan untuk siswa berkreatifitas. “Kalau kelas tujuh memang belum sesuai dengan espektasi guru. Tapi ketika terus dibina sesuai bidang kemampuannya akan muncul siswa-siswi hebat di bidang MIPA, Bahasa, Olahraga, Seni dan sebagainya,” papar Jeri. 

Sementara itu, ada banyak manfaat lain dalam proses pembinaan anak didik. Diantaranya tumbuh sikap mandiri sebagai satu nilai karakter. Mental yang kuat tidak membuat anak menjadi cengeng dan selalu bergantung pada guru. “Tidak ada gurunya pun mereka akan belajar dan berlatih sendiri. Karena guru sudah memberikan kepercayaan pada siswa,” tuturnya. 

Jeri menambahkan, sebuah proses tentu membutuhkan waktu yang tidak singkat. Adakalanya anak harus jatuh dan bangun untuk mencapai prestasi. Usaha dan perjuangan mereka merupakan bagian yang harus dilalui agar siswa-siswi SMPK Mardi Wiyata menjadi pribadi yang tangguh. “Disinilah kita sebut sebagai proses pembinaan mental. Urusan menang dan kalah itu mudah, yang paling penting adanya rasa percaya diri dan mau berjuang,” tegasnya. 

Oleh sebab itu, dalam proses pendidikan yang seutuhnya dibutuhkan sinergitas antara orang tua, guru dan masyarakat. Pendidikan yang berkaitan dengan akademik, mental, karakter dan keterampilan butuh upaya besar dan berkesinambungan. “Seringkali kami mengundang para ahli seperti motivator atau psikolog untuk membangkitkan semangat siswa terutama saat mereka down. Ini bagian dari kerjasama kami dengan pihak orang tua dan masyarakat,” pungkasnya. (imm)

Editor : bua
Uploader : irawan
Penulis : Imam W.
Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERBARU