Sutiaji Tertantang Zonasi, Orang Tua Siswa: Tambah Ruwet!

  • 25-04-2019 / 21:16 WIB
  • Kategori:Malang
Sutiaji Tertantang Zonasi, Orang Tua Siswa: Tambah Ruwet! Sutiaji

MALANG - Menyusul adanya aturan baru dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), daerah harus menyesuaikan. 

Pada aturan baru kali ini tidak ada lagi sekolah favorit dan tidak, karena peserta didik akan diterima berdasar pada zona wilayah masing-masing. Zonasi. 

Untuk itu, Pemerintah Kota Malang sudah menerapkan Peraturan Menteri itu dalam bentuk Peraturan Wali Kota sebagai bentuk komitmen. 

Wali Kota Malang Sutiaji menyampaikan bahwa Kota Malang menjadi salah satu daerah yang memberi gagasan pada kebijakan ini yang intinya untuk pemerataan kualitas pendidikan.

“Sudah perwal, kita sudah laksanakan peraturan menteri terkait zonasi,” tandas Sutiaji.

Menurut Sutiaji, kebijakan ini menjadi sebuah tantangan bagi bidang pendidikan. Karena sebelumnya input siswa berprestasi hanya pada sekolah favorit. 

Jadi hal semacam itu sudah tidak membanggakan karena sudah mengelompokkan siswa berprestasi pada sekolah berprestasi.

“Mau tidak mau inputnya dari situ (zonasi), ditantang kita. Tapi ini untuk perbaikan kualitas pendidikan kita,” imbuhnya.

Namun tantangan terkait kebijakan zonasi yang baru tak berhenti sampai di situ. Pengelompokan zona yang diatur oleh perwali tak dapat mentoleransi basis lokasi dari orang tua (ortu) siswa. 

Menurutnya jika orang tua siswa memiliki KTP berbeda dengan wilayah domisili, maka anaknya harus masuk zona sesuai dengan KTP orang tua.

“Semisal orang tuanya kerja di Kauman tapi aslinya Tunjungsekar ya tidak bisa,” lanjutnya. 
Akibatnya, penerapan aturan baru PPDB baru ini cukup membuat gusar para orang tua siswa yang karena basis lokasinya harus masuk dalam zona yang ditentukan, dan justru semakin jauh dari rumah mereka.

Seperti yang disampaikan oleh salah satu orang tua siswa di Malang, yang rumahnya berada di jalan Wiroto Hamid Rusdi Timur yang masuk zona kelurahan Polehan. 

Dari segi jarak, lokasi tersebut tentu lebih dekat ke SMP 5, namun karena daerah rumahnya masuk pada kelurahan Polehan maka anaknya hanya bisa masuk SMP 2, SMP 9, dan SMP 19 yang lokasinya cukup jauh.

“Masalah zonasi ini bikin tambah ruwet, rumah saya di jalan Wiroto Hamid Rusdi Timur tapi masuk kelurahan Polehan, padahal lebih dekat ke SMP 5,” kata dia pada Malangpostonline.com.(mg3/bua)

  • Editor : bua
  • Uploader : slatem
  • Penulis : Inasa
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI