UPDATE NOW
UPDATE NOW
   UPDATE NOW
Home > > Opini

Ki Hajar Dewantara dan "Traumatik" Pendidikan Abad 21

  • 01-05-2019 / 09:52 WIB
  • Kategori:Opini
Ki Hajar Dewantara dan "Traumatik" Pendidikan Abad 21 Ratnawati, S.Pd ( Pengajar Sejarah SMAN 1 Kota Malang )

Abad ke-21 ditandai dengan era revolusi industri 4.0 sebagai abad globalisasi, artinya kehidupan manusia  pada abad ke-21 mengalami  berbagai perubahan yang mendasar yang berbeda  dengan tata kehidupan sebelumya. Segala usaha kerja manusia wajib hukumnya untuk unggul dan berkualitas.

Hakekat  revolusi  industri 4.0 merupakan penggabungan teknologi fisik dan digital melalui analitik, kecerdasan buatan, teknologi koqnitif, dan internet of things (Iot) untuk menciptakan perusahaan digital yang saling terkait dan mampu menghasilkan keputusan yang lebih cepat.

Dewasa ini dunia pendidikan sedang mengalami 'traumatik’ menghadapi tantangan era revolusi industri 4.0. Informasi dan teknologi memengaruhi aktifitas pendidikan dengan sangat masif. Pendidikan mengalami disrupsi yang sangat hebat, peran guru yang selama ini adalah satu-satunya peyedia ilmu bergeser  berpaling. Dimasa mendatang  kehadiran guru di ruang kelas akan semakin menantang kreatifitas yang sangat tinggi dan kemampuan mengajar yang  mumpuni.

Kemajuan Iptek telah mengubah wajah dunia sebagaimana revolusi industri generasi pertama melahirkan sejarah ketika terjadi peralihan tenaga kerja di Inggris  dari tenaga hewan dan manusia, digantikan oleh mesin. Menurut, Robert Emerson Lucas, bahwa: "Untuk pertama kalinya dalam sejarah, standar hidup rakyat biasa mengalami pertumbuhan yang spektakuler.  

 Berikutnya, pada revolusi industri generasi kedua ditandai dengan kemunculan elektrifikasi yang memicu kemunculan pesawat telepon, mobil, pesawat terbang. Vaclav Smil menyebut periode ini sebagai "Peradaban Sinergi" di mana sebagian besar inovasi paling penting. Debut revolusi industri generasi ketiga ditandai dengan kemunculan pengontrol logika terprogram pertama (PLC), yakni modem 084-969. Otomatisasi komputer ini membuat mesin industri tidak lagi dikendalikan manusia. Dampaknya tidak saja mengubah dunia industri namun juga budaya dan habit generasi secara mendasar.

 Revolusi industri generasi keempat ini ditandai dengan kemunculan komputer super, kecerdasan buatan atau Intelegensi Artifisial. Industri 4.0 menghasilkan "pabrik cerdas". Menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, lewat internet sistem siber-fisik berkomunikasi dan bekerja sama satu sama lain dan manusia secara bersamaan. Banyak pekerjaan hilang digantikan dengan kecerdasan buatan. Namun juga menjadi peluang karena muncul banyak jenis pekerjaan baru. Tantangan pendidikan ke depan adalah bagaimana menyiapkan sumber daya manusia yang tidak akan tergantikan oleh mesin.

 Melihat tantangan tersebut, dunia pendidikan harus mempersiapkan sumber daya yang memiliki keahlian. Saat ini pekerjaan yang bersifat rutin sudah banyak diambil alih oleh mesin. Ke depan pekerjaan yang masih belum bisa diambil alih oleh mesin dan robot adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan berpikir kritis, bersosialisasi, serta memecahkan masalah yang muncul.

Beberapa kompetensi yang dibutuhkan mempersiapkan era industi 4.0 di antaranya adalah kemampuan memecahkan masalah (problem solving), beradaptasi (adaptability), kolaborasi (collaboration), kepemimpinan (leadership), dan kreatifitas serta inovasi (creativity and innovation).

Peran pendidik untuk mampu melahirkan peserta didik yang terus menjadi 'manusia pembelajar' atau long life learner sangatlah penting. Tentunya pola pendidikan era lama kini menjadi kurang relevan untuk diterapkan pada generasi zaman 'now' yang terkena dampak langsung distruptif teknologi.

Dahulu smart phone dianggap sebagai 'musuh'. Bahkan sempat memberlakukan peraturan untuk mengumpulkan seluruh smart phone peserta didik selama kegiatan belajar berlangsung karena dianggap mengganggu. Rupanya sekarang justru hal itu membuat peserta didik kehilangan semangat belajar. "Seperti orang kecolongan belahan hati," sedemikian tidak terpisahkannya 'Generasi Z' dengan gadget. 

Dengan gadget tersebut sebagai media pembelajaran untuk para digital native ini. Ternyata, peserta didik justru mampu melakukan banyak eksplorasi pembelajaran. "Ada banyak hal yang justru generasi Z ini lebih banyak tahu, jika dahulu generasi memerlukan waktu seminggu untuk mengerjakan sebuah tugas multimedia, generasi zaman 'now' dengan media yang ada hanya memerlukan waktu lebih singkat.

 Di sinilah kemudian dibutuhkan keberanian bagi para pendidik untuk berani merefleksikan kembali perannya di depan kelas.  "Peran pendidik, dosen, kini dituntut tidak hanya bertugas 'transfer ilmu' di depan kelas," Upaya merefleksikan kembali filosofi Ki Hadjar Dewantara penting untuk dilakukan.” Di depan memberi panutan, di tengah memberi semangat dan di belakang mampu mendorong masih sangat relevan.

Guru di era industri 4.0 ini adalah kemestian yang tidak dapat ditepis. “Teknologi tak akan menghapus secara keseluruhan fungsi manusia, melainkan bisa memberikan kesempatan baru pada mereka.” Itulah ungkapan Jack Ma pada acara World Economic Forum di Davos Swiss (24 Januari 2018).  Peran seorang guru dalam menghantarkan generasi yang kuat dan berkarakter tidak tergantikan oleh apapun yang sifatnya material. Metode pendidikan yang digunakan Ki Hajar Dewantara pada Perguruan Taman Siswa disebut sistem among. Isinya terangkum dalam asas yang sangat masyhur, yaitu ing ngarso sung tuladha, in madya mangun karsa, tut wuri handayani.

Pendekatan terbaik yang dilakukan oleh seorang guru adalah pendekatan hati. Pendekatan hati tidak akan terhalang oleh waktu, ruang, dan materi. Sentuhan hati akan mudah mengendap dalam jiwa manusia tidak ada yang bisa menggantikannya. Hal ini sesuai dengan persepsi filsafat bagaimana seorang manusia memanusiakan manusia.

Tugas guru  tidak sebatas membuat peserta didik menjadi pintar namun juga memberi motivasi, membangun karakter sehingga menjadi insan atau pribadi yang berintegritas. Peran pendidik masih sangat penting meski pengetahuan kini sudah bisa diakses dari banyak sumber. Value, believe, independent thingking, kerja tim dan peduli terhadap orang lain adalah kemampuan yang tidak dikuasai oleh mesin. Itu sebabnya, guru harus mengajarkan peserta didik kemampuan tersebut untuk memastikan  bahwa  manusia berbeda dengan mesin.

Di era digital  sudah tidak zaman lagi istilah 'guru selalu benar.' Tugas guru selain memberikan motivasi juga menjadi filter dari beragam literasi media yang ditemukan peserta didik agar tidak mengarah pada hasil yang kontra produktif. Pendidik harus mampu melahirkan generasi kreatif, inovatif, mampu menjawab tantangan dengan sumber-sumber yang kredible, sesuai aturan ilmiah dan juga menjunjung tingg etika. Dari sini diharapkan bermunculan generasi 'kekinian' yang mampu menjawab setiap tantangan yang muncul di eranya dengan berkarakter dan berintegritas. Unggul dalam akademik maupun afektif. sehingga tercipta  perkembangan yang seimbang. Maju terus Pendidikan Indonesia.(*)

  • Editor : Husnun
  • Uploader : irawan
  • Penulis : ist
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

GE Way

Tiket Pesawat Mahal, Danau Toba Kehilangan Turis

Air Putih Demi Metabolisme

VIDEO