Mutilasi Pasar Besar Malang

Pelaku Tulis Gereja Comboran di Telapak Kaki Korban

  • 14-05-2019 / 23:35 WIB
  • Kategori:Hukum Kriminal
Pelaku Tulis Gereja Comboran di Telapak Kaki Korban

MALANG - Kasus penemuan mayat korban mutilasi di lantai 2 Pasar Besar meninggalkan beberapa pesan yang diduga ditulis oleh pelaku sendiri. Selain tulisan di tembok dan secarik kertas (berita Malangpostonline sebelumnya), ditemukan pula petunjuk lain terletak di bagian tubuh yang terpotong dari korban mutilasi ini.

Beradasar foto potongan kaki yang didapat Malangpostonline.com, di kedua telapak kaki korban ditemukan tulisan. Di telapak kaki sebelah kanan tampak tulisan agak besar namun tidakk begitu jelas terbaca. Sementara di telapak kaki di sebelah kiri bertuliskan kata lebih panjang yakni "Wahyu yang kuterima dari Gereja Comboran bersama keluarga".

Berdasar informasi ini Malangpostonline.com kemudian menelusuri lokasi gereja yang ada di kawasan Comboran.  Menurut warga sekitar dan juga data yang didapat, terdapat dua gereja yang berada di kawasan Comboran.

Pertama adalah Gereja Kristus Tuhan (GKT I) yang berada di Jalan Prof Moh Yamin dan kedua adalah Gereja Beth-El Tabernakel (GBT) Kristus Pelepas yang berada tidak jauh yakni di Jalan Sartono SH. Keduanya berada di sepanjang kawasan Comboran.

Malangpostonline.com kemudian mengunjungi lokasi gereja pertama yakni GKT I sekitar pukul 18.30 WIB. Saat hendak dikonfirmasi mengenai informasi catatan yang ada di telapak kaki korban mutilasi, tidak ada pengurus sekretariat yang dapat dikonfirmasi karena sedang berlangsung kebaktian doa harian.

Meski begitu salah satu karyawan yang tidak ingin disebutkan namanya menjelaskan jika selama beberapa bulan terakhir ini tidak ada kejadian janggal yang diketahui dilakukan atau terjadi pada jemaat GKT I ini.

"Kalau misal ada jemaat hilang pasti kita sudah tahu. Tapi ini ga ada sama sekali laporan. Kita, antara jemaat dan pengurus biasanya sangat kuat hubungan koordinasinya. Jadi kalau ada apa apa kita semua mengetahui," ungkap narasumber Malangpostonline.com ini.

Saat diperdengarkan sebuah rekaman keterangan tentang catatan di telapak kaki korban mutilasi, ia menerangkan kata Wahyu, familiar dengan apa yang ada di injil atau alkitab. Wahyu dikatakannya sebagai istilah dalam alkitab. Wahyu sendiri menurut definisi umum adalah sebuah pencerahan atau petunjuk dari Tuhan kepada nabi atau rasul.

Sementara itu ia sempat pula mengatakan bahwa bagi sebagian umat nasrani, kebiasaan mencatat sebuah ayat dalam sebuah buku, catatan kertas atau bahkan bagian tubuh kerap dilakukan. "Ga semua sih ya. Tapi ya kadang ada yang melakukan itu," tegasnya.

Sementara itu saat ditanya mengenai kejadian janggal pada jemaat atau lingkungan gereja, sumber Malangpostonline.com ini tidak mengetahui adanya kejadian janggal terjadi.

Selain mempertanyakan apakah ada jemaat yang hilang, Malangpostonline.com juga bertanya apakah terdapat umat gereja yang diketahui mengalami gangguan kejiwaan atau memiliki catatan perilaku yang janggal, ia pun tidak mengetahui hal ini.

Selanjutnya Malangpostonline.com bergerak ke gereja kedua yang berada pula di kawasan Comboran. Yakni GBT Kristus Pelepas. Suasana gereja ini tertutup dan sepi saat hendak dikonfirmasi. Meski begitu masih ada pengurus sekretariat yang dapat diwawancarai.

Binaya, pengurus sekretariat GBT Kristus Pelepas mengatakan tidak mengetahui apapun soal kejadian penemuan potongan tubuh diduga korban mutilasi ini. Maupun, hal-hal yang berkaitan dengan korban dan pelaku yang sampai saat ini masih belum diketahui jelas informasinya.

"Tidak ada yang hilang. Tidak ada laporan jemaat apapun soal ini," tegasnya.

Binaya mengatakan hingga kemarin, tidak ada jemaat GBT Kristus Pelepas yang menghilang ataupun mengalami kejadian janggal selama ini. Perempuan berambut sebahu ini menjelaskan pula jika selama ini jemaat gereja tidak ada yang memiliki catatan gangguan kejiwaan, sakit ataupun melakukan kelakuan janggal.

Saat diberikan informasi soal catatan dibawah telapak kaki korban, Binaya mengatakan hal tersebut bisa jadi tidak berarti apa-apa. Bisa jadi ditulis untuk mengalihkan isu ataupun semacamnya. Pasalnya ia meyakini tidak ada kejadian janggal apapun di gerejanya.

"Jemaat kita juga tidak ada yang jadi pedagang di Pasar Besar. Ndak ada," tegasnya. (ica/bua)

  • Editor : bua
  • Uploader : slatem
  • Penulis : ica
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI