trial_mode: on
Ekspedisi Panatagama (11)

Kopi Sondel di Petilasan Trunojoyo

  • 16-05-2019 / 02:10 WIB
  • Kategori:Kabupaten
Kopi Sondel di Petilasan Trunojoyo KOPI GUNUNG: Arkeolog M. Dwi Cahyono dan Redpel Malang Post Bagus Ary W, mencermati kopi Sondel di bukit Selokurung.

Bukit Selokurung, benteng pertahanan Trunojoyo, sukses didaki oleh tim Ekspedisi Panatagama. Di kaki Bukit Selokurung Ngantang, terdapat situs pertapaan Waturejo. Berdasarkan cerita tutur dari warga, tempat itu jadi basis juang Trunojoyo. Lokasinya cocok dikembangkan sebagai wisata alam dan sejarah. Dikelilingi taman bambu, hutan pinus, kebun kopi dan tanaman durian.

Tim ekspedisi dibuat terpesona dengan keindahan alamnya. Tim yang turun antara lain Wakil Ketua PCNU Kota Malang Mahmudi Muhith, arkeolog M. Dwi Cahyono, redaktur Malang Post Abdul Halim dan Bagus Ary Wicaksono. Serta wartawan Inasa All Islamiah dan fotografer Muhammad Firman. Setelah melewati kebun durian dan hutan pinus, tim disambut taman bambu.

Untuk menyusuri jalan setapak menuju situs tersebut juga harus lewati rimbunnya pepohonan bambu. Di ujung taman bambu, terdapat sebuah tebing memanjang dan memiliki relung gua. Tebing itu disebut Dwi Cahyono berasal dari magma cair. Tebing yang panjang itu menyatu dengan air terjun yang indah. Jarak kisaran hanya belasan meter.

Di situs pertapaan terdapat sebuah makam. Ada batu nisan yang teridentifikasi merupakan sebuah menhir. Di sekelilingnya terdapat batu berundak yang merupakan ciri khas dari masa megalitikum. Situs tersebut kemungkinan telah lama difungsikan sebagai lokasi pertapaan.

Warga menyebut situs itu merupakan tempat pertapaan terakhir Trunojoyo. Hingga akhirnya Panembahan Maduretno akhirnya tertangkap oleh Belanda.

“Perlu diberikan tanda pada jalur menuju situs pertapaan tersebut, jadi ke depannya masyarakat luar Ngantang yang akan berkunjung tidak nyasar,” kata Arkeolog UM M. Dwi Cahyono.

Tim ekspedisi sempat tak menyadari adanya jalur belokan menuju situs tersebut ketikan mendaki Bukit Selokurung. Karena sama sekali tak ada tanda petunjuk ke arah situs tersebut. Namun memang ada tanaman unik yang menjadi penanda jalur. Tanaman hias berdaun merah terbentang di sepanjang jalan setapak menuju situs tersebut.

Menurut warga, tanaman berdaun merah tersebut sengaja ditanam. Yakni oleh sejumlah orang dari Surabaya yang biasanya berdoa pada situs tersebut. Jadi tanaman berdaun merah itu dijadikan sebagai penanda jalur ke situs pertapaan. Namun keberadaannya tak terlihat dari jalur pendakian. Sehingga jika bukan warga setempat, pasti akan sulit menemukan jalur menuju situs tersebut.

Situs pertapaan Waturejo dikelilingi oleh pepohonan bambu, pepohonan pinus milik Perhutani. Serta kebun tanaman kopi dan durian milik warga. Wilayah sekitar Ngantang sejauh ini memang sudah lama dikenal sebagai penghasil biji kopi berkualitas.

“Sekitar wilayah Selokurung adalah areal sangat cocok untuk budidaya kopi, karena memang karakter tanahnya adalah vulkan Gunung Kelud,” papar Dwi.

Memang ketika tim mendaki Bukit Selokurung, menemui tanaman kopi pada sepanjang jalur pendakian. Bahkan tanaman kopi juga masih ditemui menjelang kawasan puncak. Hal tersebut menunjukkan bahwa potensi produksi biji kopi, masih menjadi sektor andalan warga sekitar Selokurung.

Panen raya biji kopi di sekitar Selokurung disebutkan adalah pada kurun bulan Juli hingga September. Umumnya masyarakat mengenal biji kopi Selokurung atau juga dikenal sebagai biji kopi Sondel lebih pada varian robusta. Namun juga masih bisa menemui jenis Arabika.

“Budidaya kopi Malang Raya oleh penulis Belanda disebutkan di Antang (Ngantang) pada 1812. Jadi Ngantang memang sudah jadi pelopor kopi sejak zaman Belanda,” paparnya.

Dwi memastikan bahwa tanaman Kopi pertama di Malang Raya, sangat mungkin dari Ngantang. Yakni lewat kopi Sondel. Pasukan Belanda di bahwa komando Kapten Tack tak hanya menangkap Trunojoyo. Sekaligus memetakan potensi geografi Ngantang untuk budidaya kopi.

Dwi memaparkan Desa Waturejo adalah pula salah satu area andalan pada sentra kopi jenis Robusta (istilah lokal “Bestak”). Serta n sedikit Arabika (istilah lokal “Asisa”) di sub-wilayah Malang Barat, dengan sebutan “Kopi Sondel”. Sisa “loji” pengelola kebun kopi di era Kolonial masih ada puing-puingnya. Tinggalan loji perkebunan kopi lainnya, yang syukur masih lebih utuh didapati di Dusun Kasin Desa Jombok.

Menurut Dwi, Selokurung dan sekitarnya adalah areal budaya kopi karakter geografis vulkan Kelud. Kopi yang satu konteks dengan Kopi Balitar dan Kopi Kadiri timur. Produk kopi lereng Kelud kesohor di zamannya selain kopi lereng Semeru. Tentu termasuk budidaya di lereng Ijen-Raung untuk sesama budidaya kopi di lingkungan gunung api.

Menurut dia, ada 13 desa di wilayah Kecamatan Ngantang yang berpotensi kuat sebagai areal budidaya kopi. Kopi di sub-area barat Malang sejarahnya jelas. Menjadi awal mula budidaya kopi di Malangraya semenjak era “Cultuur Stelsel” di zaman VOC. Keberadaan perkebunan kopi di Antang (Ngantang) telah diberitakan oleh seorang “penulis kelana”. Penulis berkebangsaan Belanda yang bernama Jan Izaak Sevenhoven. Ia menuliskan itu pada perjalanannya ke Malang barat pada tahun 1812.

Maka ketika berada pada situs pertapaan Waturejo, Dwi menegaskan besarnya potensi yang dimiliki wilayah lereng Bukit Selokurung tersebut. Mulai dari wisata alam yang begitu indah, wisata sejarah petilasan Trunojoyo yang juga merupakan seorang pahlawan Nasional. Bahkan bisa lebih spesifik ke wisata edukasi budidaya biji kopi.

Dwi sempat cetuskan ide untuk mengadakan festival bertajuk ‘Festival Hantang Palagan Juang’. Sekaligus menjadi pembangkit semangat masyarakat Waturejo untuk lestarikan sejarah desa mereka. Menurutnya juga harus segera diinisiasi bersama dengan masyarakat dan juga pejabat setempat.

“Potensinya luar biasa, jika dibuat festival seperti itu pasti nanti bisa datangkan wisatawan dari berbagai daerah,” kata Dwi.

Sementara itu, tim Ekspedisi Panatagama menyampaikan gagasan yang dicetuskan oleh Dwi. Yakni gagasan terkait pengembangan wilayah sekitar Bukit Selokurung yaitu pertapaan Waturejo, kepada Camat Ngantang Eru Suprijambodo.

“Saya mendukung sekali jika ada inisiasi seperti itu, karena memang wilayah sekitar Selokurung memang miliki beragam potensi,” ungkap Eru.

Sedang untuk potensi kopi, Eru sampaikan bahwa Ngantang merupakan salah satu wilayah paling potensial untuk budidaya biji kopi. Namun, untuk wilayah sekitaran Selokurung, pengembangan budidaya tanaman kopi dinilai cukup riskan.

“Selokurung karakteristik tanahnya harus ditanam pepohonan keras, kalau tidak akan berisiko banjir lumpur. Dulu sudah pernah itu,” lanjutnya.

Oleh karenanya, budidaya tanaman kopi di Selokurung tak bisa sembarangan ditanam pada seluruh kawasan bukit. Sebab risikonya kemungkinan sampai tanah longsor. Untuk itu pemanfaatan wilayah sekitar Bukit Selokurung harus berimbang dan memperhatikan aspek lingkungan.

Lebih lanjut, sejauh ini menurut Eru wilayah sekitar lereng Bukit Ngantang umumnya didatangi para pegiat motor trail. Mengingat medan lokasi tersebut cukup menantang bagi mereka. Sehingga lebih bisa menguji adrenalin.(mg3/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : slatem
  • Penulis : -
  • Fotografer : Firman

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI