Sepakbola Jual Beli

  • 16-05-2019 / 14:25 WIB
  • Kategori:Catatan
Sepakbola Jual Beli Salah satu aksi provokator dalam laga PSS vs Arema. (Ist)

Sedih.
Laga pembuka sudah ternoda.

Kericuhan suporter pecah di tengah laga PSS Sleman vs Arema. 

Stadion Maguwoharjo Sleman jadi saksi pembukaan Shoppe Liga 1 berlangsung menegangkan, Rabu (15/5) malam.

Pertandingan hingga tertunda sekitar 20 menit. Aksi lempar-lempar tak terhindarkan. Seolah lupa laga ini digelar pas bulan Ramadan. 

Saat yang lain di luar stadion lagi tadarus Qur'an, mendekatkan diri pada ilahi. Di Maguwoharjo panas tak terkendali.

Adalah provokator yang disebut-sebut memulai kericuhan suporter ini. 

"Sebenarnya suporter PSS sebagai tuan rumah sudah menyambut Aremania sebagai tamu dengan baik. Begitu pun sebaliknya. Namun, karena adanya provokator, mereka jadi saling lempar," ucap Kapolda DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta), Irjen Pol Ahmad Dofiri.

Entah siapa yang pantas disebut provokator dalam kejadian di stadion yang didominasi warna hijau itu.

Pastinya ada ribuan Slemania hadir beri dukungan pada PSS. Termasuk juga BCS (Brigata Curva Sud) adalah suporter tuan rumah.

BCS melepas identitas sebagai Slemania. Mereka sama-sama mendukung PSS, meski awalnya sempat berselisih di dalam dan luar stadion karena identitas yang berbeda.

BCS dikenal dengan slogannya, 'No Leader Just Together'.

Dugaan sementara, kericuhan ini terjadi antara Aremania dengan kelompok BCS itu. Setidaknya dari beberapa keterangan Aremania di medsos. 

Termasuk juga disebutkan si provokator adalah dari kelompok suporter lain yang sebenarnya bukan pendukung PSS dan juga bukan suporter Arema.

Kericuhan itu terjadi tak hanya saat laga berlangsung. Usai pertandingan kondisi juga mencekam. Masih ada pelemparan dan aksi sweeping, hingga Aremania harus dapat pengamanan polisi.

Termasuk tim Arema harus tertahan di dalam Stadion Maguwoharjo sekitar 2 jam. Hingga akhirnya harus naik kendaraan taktis baraacuda menuju hotel.

Entah apa sebenarnya penyebab kericuhan suporter ini. Meski disebut-sebut karena dipicu dendam tahun 2016 saat PSS dikalahkan Arema 5-2 dalam laga Bali Island Cup. 

Terlepas itu, bagi Arema sebenarnya bukan kali pertama ini mendapati kericuhan suporter di Jogjakarta. 

Pernah juga terjadi Tragedi Stadion Mandala Krida, Jojakarta kala Arema bentrok PSIM. Saat masih satu kasta di Ligina V tahun 1999 silam. 

Itulah fakta yang terjadi. Bahkan tahun 2018 lalu, PSIM dan PSS di kompetisi Liga 2 terlibat kerusuhan suporter di Stadion Sultan Agung Bantul. Satu orang suporter tewas. 

Ya, mungkin itu juga ulah provokator sebagai pemicunya. Dasar provokator. 

Meski kadang provokator ini tidak menyadari aksinya. Seperti salah satu Panpel PSS yang sebenarnya ingin meredakan situasi, malah terkesan juga jadi provokator.

Si panitia ini coba mengingatkan Aremania sebagai tamu agar tidak berulah. Seolah Aremania yang menurutnya memulai kericuhan.

Padahal aksi lempar-lempar hingga laga dihentikan itu setelah Comvalion cetak gol yang menyamakan kedudukan jadi imbang 1-1. 

Secara logika orang goblok sekalipun, Aremania saat itu dalam posisi senang karena Arema catak gol dan skor bisa imbang. Apa mungkin terus menyerang atau melempari suporter tuan rumah? 

Dan semoga saya tidak dianggap sebagai provokator juga. Catatan ini hanya untuk sebuah rekam digital atas peristiwa yang harusnya tak terjadi itu. 

Posisi PSS sudah menang saja, kondisi pasca pertandingan belum aman. Tak terbayangkan jika Arema bisa imbang atau menang. Rasanya Arema dan Aremania tak akan bisa pulang.

Nah, catatan ini sekedar meluruskan saja. Sekaligus menggugah solusi agar tak terjadi lagi yang namanya kericuhan suporter. 

Rekomendasi BOPI (Badan Olahraga Profesional Indonesia) atas diselenggarakannya Liga 1 beberapa hari lalu mungkin perlu ditinjau ulang. 

BOPI yang punya wewenang melakukan pembinaan, pengembangan, pengawasan dan pengendalian terhadap setiap kegiatan olahraga profesional Indonesia harus melihat aspek kompetisi ini secara menyeluruh.

Tidak hanya bingung soal tunggakan gaji pemain oleh klub, seperti selama ini. Keamanan dan kenyamanan suporter harus diperhatikan dalam bagian dari pembinaan kompetisi seperti Liga 1 ini.

Misal, bekerjasama dengan pihak kepolisian perihal aturan jumlah pengamanan dan ketentuan izin laga yang bisa terselenggara melihat kerawanan suporter. Termasuk mungkin juga memberi rekomendasi kedatangan suporter tamu. 

Liga 1 adalah kompetisi profesional dengan Shopee sebagai sponsor utamanya. Ini adalah situs belanja online. Saya khawatir, ini akan jadi liga sepakbola jual beli. 

Khususnya terkait kericuhan suporter di Sleman, sangat dimungkinkan ada aksi balas dendam dari Aremania pada putaran kedua nanti. Saat PSS bertandang ke Stadion Kanjuruhan.

"Kamu jual, kami beli" demikian disampaikan Aremania garis keras. Seperti juga ada istilah yang umum di kalangan Aremania yaitu Daboribo, damai boleh ribut boleh.

Saya lihat perkembangan di medsos, Aremania kini mengundang suporter PSS khususnya BCS untuk datang ke Malang. Pada putaran kedua nanti.

"Aremania menolak lupa atas traged15leman, tagggal 15 Mei. Kami tunggu BCS mu di Kanjuruhanku," demikian yang disampaikan Aremania. 

"Suporter PSS kami tunggu di Malang. Tunjukkan kejantananmu di putaran kedua nanti," sebut Aremania yang tampaknya siap 'membeli' apa yang sudah 'dijual' di Sleman. 

Tentu miris jika melihat sepakbola jual beli seperti ini. Rasanya sudah cukup saat Arema lawan Persebaya dan Persib, yang suporternya tak bisa saling kunjung. 

Semoga pada putaran kedua nanti, baik Slemania maupun BCS benar-benar bisa datang ke Stadion Kanjuruhan beri dukungan pada PSS. Tanpa ada kericuhan.

Aremania dengan lapang dada menyambut hangat penuh persahabatan. Dua kelompok suporter bisa mendukung timnya masing-masing. 

Baik sebelum laga, saat laga berlangsung hingga usai laga tetap aman. Suporter PSS pun pulang dengan tenang tanpa ada perusakan kendaraan seperti yang terjadi pada Aremania. 

Begitulah saya membayangkan indahnya pertemuan suporter Arema dan PSS di putaran kedua nanti. Meski maaf, saya tak bisa beri garansi. (*)

  • Editor : bua
  • Uploader : irawan
  • Penulis : Buari
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI