trial_mode: on
Marquel, Tuna Rungu Berprestasi Asal Kedungrejo Pujon

Langganan Juara Modelling, Wakili Indonesia di MMDS Italia

  • 18-05-2019 / 00:28 WIB
  • Kategori:Sekolah
Langganan Juara Modelling, Wakili Indonesia di MMDS Italia KANCAH INTERNASIONAL: Marquel Dwi Putranto (paling kiri) ketika mengikuti event International Deaf Evenments Agency Foundation (I.D.E.A.F) di Caserta, Italia.

Keterbatasan tak menghalangi Marquel Dwi Putranto untuk terus berkarya. Pemuda yang akrab disapa Marquel ini tuna rungu. Namun sejak SMP ia aktif di dunia model. Bahkan menghasilkan segudang prestasi hingga kancah internasional. Berkat prestasinya tersebut, Marquel diangkat Pemkab Malang menjadi staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Marquel sudah menekuni dunia model sejak duduk di bangku SMP. Sekitar tahun 2000-an. Ia bergabung di salah satu agency model di Kota Malang.  Ia memilih menjadi model supaya bisa berdiri di depan orang banyak. “Dan memberikan motivasi bagi anak muda untuk berjuang meraih prestasi,” jelas lulusan SLB PTN Lawang ini.

Selama menjadi model, Marquel sering mengikuti ajang pemilihan model. Panggung catwalk untuk ka­wasan Malang Raya hingga Surabaya berhasil dikuasainya.

Beberapa prestasi yang berhasil diraih adalah Juara I Top Model Black and White, Juara II Photogenic Malang. Ia juga Juara I Photogenic, Juara II Fashion Sporty Malang, Juara III Fashion Show Malang. Serta jadi Finalis Top Model, Juara Harapan Natal di Malang City Point dan Juara 3 Fashion Show Valentine.

Meski sudah mengantongi beberapa prestasi, Marquel tak cepat puas. Pada tahun 2017, ia mendaftar Mister dan Miss Deaf Indonesia di Jakarta (Yayasan Keluarga Tunarungu Sehjira Indonesia). Setelah lolos seleksi yang cukup ketat, Marquel berhasil meraih juara III Mister Deaf Stars Indonesia 2018.

“Kemudian, Yayasan Sehjira mengirim saya ke panitian Miss and Mister Deaf Stars (MMDS) ke Italia pada tahun 2018,” kata lulusan Ilmu Komputer Universitas Brawijaya Malang ini. 

Lebih lanjut, Marquel menjelaskan, MMDS merupakan salah satu ajang fashion yang memiliki tujuan mulia, yakni mengembangkan bakat dan kemampuan para pemuda tuli yang diadakan oleh I.D.E.A.F (International Deaf Evenments Agency Foundation) di Caserta, Italia.

Selama di Italia, Marquel berjuang untuk mengikuti ajang tersebut. Ia harus berhadapan dengan 120 peserta dari negara lain. Namun, ia masih belum beruntung, hanya menjadi finalis saja. Setelah kembali ke Indonesia, Marquel justru dipercaya sebagai CEO MMDS Indonesia.

“Rasanya saya tidak pernah menyangka, kaget. Perlu perjuangan yang cukup panjang,” kata dia.

Sejak saat itu ia kian aktif menjadi motivator teman dengar (istilah untuk rekan tuna rungu, red). Ia Banyak memberikan semangat kepada rekannya.

“Saya ingin menyampaikan kepada mereka, harus terus memiliki semangat untuk menghasilkan sebuah karya. Jangan mudah menyerah untuk menghadapi kehidupan,” ungkap pria yang sering menjadi Juara Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang diselenggarakan oleh Kominfo di Jakarta.

Atas prestasinya tersebut, tidak membuat Marquel menjadi besar kepala. Dalam setiap motivasi yang diberikan kepada teman dengar, ia selalu  menyampaikan untuk memperjuangkan kesetaraan dan perlakuan yang sama terhadap difabel.

“Saya ingin menyampaikan pesan, bahwa berbagai keterbatasan dirinya beserta kaum difabel lain bukan faktor untuk menyalahkan keadaan yang menimpa dan disandang,” ujar dia bersemangat.

Berkat prestasinya tersebut, enam bulan yang lalu,  Pemkab Malang melirik dirinya untuk menjadi staf Bappeda. “Saat itu, ada salah satu teman dengar yang menawarkan. Saat itu, ada dua, Pemkot Batu dan Pemkab Malang. Saya memilih Pemkab Malang. Sebab, di Batu sudah ada tiga orang yang difabel. Di Pemkab, hanya saya saja,” papar pria berkacamata ini.

Selama menjalani pekerjaan, Marquel mengaku tidak pernah mendapat kesulitan. Sebab, ada rekannya yang fasih menggunakan bahasa isyarat. Tak sedikit, banyak yang memberikan perintah kerja maupun motivasi, supaya terus bersemangat melalui tulisan tangan.

“Ada tujuh orang rekan saya yang fasih berbahasa isyarat. Jadi, selama bekerja, tidak ada kesulitan sama sekali,” kata warga Kedungrejo, Pujon ini.

Selain sibuk dengan kegiatan di Pemkab, setiap hari Sabtu, ia mengajar di SLB Kota Batu untuk mengajar IT dengan murid-murid tuli.

“Kemudian, hari Minggu, saya memberikan presentasi kepada Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu (Gerkatin) Kabupaten Malang,” kata Wakil Gerkatin Kabupaten Malang ini.

Ke depan, Imbuh Marquel, dirinya akan membuat satu event bertaraf nasional di sekitar Malang Raya. “Rencananya, saya mau buat MMDS di Batu atau Malang, masih belum dapat jawaban. Mudah-mudahan bisa segera terealisasi,” tandas pria yang ingin bertemu dengan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa dan Presiden Joko Widodo ini.(Amanda Egatya/ary)

  • Editor : ary
  • Uploader : angga
  • Penulis : tea
  • Fotografer : ist

KOMENTAR ANDA

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI